Batu Umpak, Sungai Tegal Loh Bondowoso dan Kedermawanan Bujuk Sangker

0
1115

Makam Bujuk Sangker atau mbah Sa’riden yang berada di atas bantaran sungai Tegal Loh desa Tamansari Kabupaten Bondowoso ini, memang menyisakan segudang cirita spektakuler masa lampau. Hal ini banyak dibuktikan dari kesaksian warga sekitar dan adanya beberapa peninggalan peradaban masa lampau.

Adapun peninggalan-peninggalan tersebut banyak ditemukan berserakan disepanjang bantaran sungai Tegal Loh (anak sungai sampean). Dari beberapa peninggalan tersebut yaitu batu umpak combong yang konon dahulu kala digunakan sebagai brankas harta berharga dan masih banyak yang lain.

Kali ini, sejarah-budaya.com akan mengangkat cerita rakyat tentang kekayaan bujuk Sangker yang bersumber dari bukti brankas batu, dari salah satu warga Tegal Loh bernama mbah Daria.

Dikisahkan sejak awal masuknya peradaban di Bondowoso (masa sebelum babat ki Ronggo), ada seorang pemuda sakti bernama Sa’riden konon, dia adalah keturunan ningrat dari tatar pasundan. Diakhir kelananya Sa’riden bermukim di sebuah hutan yang rimbun ditumbuhi pohon loh/ara. Tak berselang lama, pemuda ini membangun sebuah keluarga dan perkampungan dihutan loh tersebut.

Menurut cerita kala itu, tidak kurang sekitar 100 kepala keluarga yang menghuni hutan loh dan Sa’riden sebagai pimpinan di pedukuhan tersebut. Lama kelamaan pedukuhan itu mulai menunjukkan eksistensi perekonomian yang pesat dan pedukuhan tersebut dikenal sebagai pedukuhan Tegal Loh.

Sebagai puncuk pimpinan tampak dari keluarga Sa’riden lah yang paling dianggap berada. Dengan bekerja sebagai pembuat sangkar burung perkutut yang dijualnya hingga ke Majapahit Sa’riden cukup dikenal oleh kalangan menengah keatas maupun ke bawah dengan julukan Sa’riden Sangkar.

Diceritakan mbah Dariya di tahun 1993 kepada keluarganya bahwa, nama Sangkar tersebutlah yang dikemudian hari berubah menjadi eyang Sangker. Konon, setiap hari jumat, bujuk Sangker kerap membagikan sejumlah uang dan jagung kepada hampir seluruh penduduk di tegal loh. Uang tersebut sengaja dikumpulkannya di dalam brankas yang terbuat dari batu.

Dari keterangan mbah Ros Miskah, bujuk Sangker ini hanya memakan 1/4 dari penghasilannya sedang yang 3/4 murni untuk sodaqoh. Hal ini sengaja beliau lakukan agar masyarakat di tegal Loh dapat hidup sejahtera. Walau hanya 1/4 bagian dari penghasilannya yang dia gunakan, kehidupan terutama sisi ekonomi bujuk Sangker selalu tampak serba berkecukupan. Salah satu pesan beliau yang langsung disampaikan kepada mbah Daria yaitu, “Jika kebutuhan hidupmu ingin tercukupi maka jalannya hanya satu, cukupilah sanak saudara kerabat dan tetanggamu yang tampak membutuhkan,”.

Dengan demikian bujuk Sangker sesungguhnya telah mengajarkan tentang budi luhur kepedulian terhadap sesama. Dan disisi lain beliau juga telah menjadi teladan untuk hidup berkecukupan dengan tanpa merugikan orang lain.

Cerita yang hanya sepenggal ini semoga dijadikan manfaat bagi segenap pembaca bahwa amal yang kita lakukan sesungguhnya tidak memerlukan balasan kelak di akhirat. Jika kita melakukannya dengan ikhlas niscaya balasan tersebut akan dituai di dunia pula. Terkait dengan kebenaran adanya cerita bujuk Sangker, hal ini belum ada bukti akurat yang dapat membenarkan. Walau demikian, perlulah kita mengambil hikmah budi luhur yang dapat dipetik dari berbagai cerita lampau. Bak pepatah… “sebuah ilmu jangan dilihat dari siapa yang menyampaukan akan tetapi bagai mana muatan baik dari ilmu tersebut”. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here