Pasar Setan Jalur Gumitir Masih kerap Terlihat Hingga Saat Ini

0
4608

Gunung Gumitir dalam dialek Jawa ghunung gumitèr, merupakan sebuah gunung yang terletak di wilayah perbatasan antara Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi, lebih tepatnya antara kecamatan Silo dengan kecamatan Kalibaru, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini terkadang juga disebut dengan nama Gunung Mrawan (bukan desa Mrawan).

Gunung Gumitir memiliki titik tertinggi ketinggian 620 mdpl (2.034 kaki).

Sejak zaman dulu, jalan raya di Gunung Gumitir telah menjadi jalur penghubung terpendek antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Gunung Gumitir dipilih sebagai jalur penghubung karena, memiliki ketinggian paling rendah di antara deretan pegunungan yang lain, dari Gunung Raung (utara) hingga Gunung Kidul (selatan).

Menurut legenda yang beredar di kalangan masyarakat, terutama penduduk kabupaten Banyuwangi, nama gumitir berasal dari kisah Damar Wulan. Setelah Damar Wulan berhasil membunuh dan memenggal kepala Menak Jinggo, ia bertemu di tengah jalan dengan Layang Seta dan Layang Kumitir, putra kembar patih Logender. Keduanya berhasil menipu Damar Wulan dan merampas kepala Menak Jinggo. Gunung tempat keduanya menipu Damar Wulan akhirnya dikenal dengan nama Gunung Kumitir atau Gunung Gumitir.

Selain itu, ada juga beberapa cerita misteri nyata yang dialami oleh beberapa orang yang sedang dalam perjalanan pulang ke Banyuwangi dan melewati jalan Gumitir.

Salah satunya yang dialami keluarga Mulyono yang sedang dalam perjalanan pulang dari Banyuwangi menuju Jember.

Waktu itu, Mulyono melewati jalan Gumitir sekitar jam 02:00 dini hari. Saat melewati jalan Gumitir, di sepanjang jalan terlihat sebuah pasar kecil. Ada banyak penjual dan pembeli yang berinteraksi di pasar itu. Mulyono dan keluarga memutuskan berhenti untuk mencari makanan di pasar itu untuk membeli kacang rebus.

Baca Juga:  Ragam Khasiat Tumbuhan Bidara Tanaman Seribu Manfaat

Sesampainya di rumah, Mulyono membuka kacang yang ia belinya. Saat dibuka, Mulyono terkejut seketika, kacang rebus yang ia beli telah berubah menjadi bunga 7 warna. Menurut salah satu praktisi supranatural mengatakan bahwa apa yang dialami Mulyono merupakan kejadian yang bisa saja terjadi, karena bila diliat dari segi agama, makhluk jin itu memang ada.

Konon, jalan Gumitir memang kerapkali dikaitkan dengan kerja paksa pada jaman Belanda yang memakan banyak korban jiwa. Para pekerja kelaparan hingga meninggal karena tidak mendapatkan upah dan istirahat yang cukup. Jalan Gumitir juga merupakan tempat pembuangan mayat anggota PKI. Jenazah anggota PKI dibuang dan disebar di beberapa lokasi di sekitar jalan Gumitir.

Patung seorang perempuan penari Gandrung, tari tradisional Banyuwangi menambah cerita mistis yang nyata di Jalan Gumitir. Posisi tangan dari patung penari Gandrung bisa berubah posisi dengan sendirinya. Saat pagi hingga sore, gerakan tangan patung penari Gandrung mengarah ke atas, namun ketika sudah malam, posisi tangan patung penari Gandrung berubah menjadi agak bawah. Beberapa orang mengatakan bahwa patung penari Gandrung di Jalan Gumitir memang dijaga oleh seorang makhluk halus.

Makhluk halus yang berjaga berbeda-beda wujudnya, kadang berwujud seperti anak kecil, kadang berwujud seperti perempuan dengan rambut panjang juga memakai kebaya. Tidak sedikit orang yang kesurupan saat melewati patung penari Gandrung itu.

Selain itu, ada juga cerita misteri yang nyata dari Wisma Gumitir, bangunan yang berdiri kokoh sisi kanan jalan Gumitir, juga menyimpan cerita misteri. Banyak tamu yang menginap di wisma Gumitir dikerjai oleh makhluk halus. Tamu – tamu di wisma sering mendengar suara aneh hingga melihat penampakan noni-noni Belanda. Pintu wisma Gumitir kadang terbuka sendiri meski sudah terkunci dengan rapat. kamar yang tertata rapi pun tiba-tiba berantakan dengan sendirinya, padahal tidak ada tamu yang berkunjung ke wisma. Kini wisma Gumitir nampak sepi dan tidak terawat karena keangkerannya. Demikianlah cerita misteri nyata di Jalan dan Wisma Gumitir. Bila anda melewati jalan Gumitir, hendaknyalah jangan lupa berdoa dan selalu menjaga sopan santun.

Baca Juga:  Areal Masjid Agung Sumenep Terlarang Untuk Segala Jenis Mahluk Halus

Wilayah Gunung Gumitir telah menjadi perhatian pemerintah kolonial Belanda, antara lain pembangunan lintasan kereta api oleh Staatsspoorwegen pada tanggal 10 September 1902 dan pembangunan pabrik pengolahan kopi Goenoeng Goemitir yang diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1934.

Pada masa penjajahan Jepang, serdadu Dai Nippon membangun sebuah gua untuk mengawasi jalur kereta api yang melintasi di sepanjang Gunung Gumitir. Gua Jepang tersebut terletak sekitar 100 meter dari Watu Gudang, terbuat dari beton tebal dengan ukuran sekitar 6 m × 8 m.

Hingga saat ini, Wilayah Gunung Gumitir dilindungi dan dikelola oleh Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Barat dan PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) unit Kebun Gunung Gumitir.

Komoditas utama Perum Perhutani KPH Banyuwangi Barat disini adalah jati, pinus, kopi dan mahoni; sementara komoditas utama PTPN XII di Gunung Gumitir adalah kopi robusta, pohon jarak, dan berbagai kayu-kayuan industri.

Sekilas tentang cerita gunung gumitir ini, merupakan sebuah warna eksotis yang sering kerap muncul alami. Oleh sebabnya kita sebagai hamba yang bertuhan untuk senan tiasa mengedepankan sebuah akal pikiran untuk lebih mendekat kepadanya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here