Beranda Tokoh Kearifan Nun Kalaim Genggong Teladan Hidup Makmur Dunia Akhirat

Kearifan Nun Kalaim Genggong Teladan Hidup Makmur Dunia Akhirat

0
776

Sosok Alm. Al Arif Billah KH. Sholeh Nahrawi bin KH. Ahmad Nahrawi bin KH. Muhammad Hasan (Kiai sepuh Genggong), atau biasa dipanggil Nun Kalim, memang menjadi topik legend yang tak pernah putus di kalangan santri Zainul Hasan Genggong.

Semasa hidupnya, hampir setiap hari rumah Nun Kalim yang terletak di sebelah masjid jami’ Al Barakoh Genggong, selalu tampak dibanjiri tamu yang hendak sowan untuk sekedar meminta nasehat dan do’a. Bahkan, tidak jarang para tamu harus antri menunggu giliran bertemu karena ruangan tamu yang tak lagi muat bagi mereka.

Selain itu dikalangan masyarakat, sosok Nun Kalim merupakan ulama yang melarang kemubadziran dan mencintai kebersahajaan, pemurah juga menghargai tamu yang hendak bersilaturrahim. Menurut penuturan beberapa khadam Nun Kalim, beliau selalu memberi makan setiap tamu seperti apa yang Nun Kalim makan.

Meski para tamu perhari mencapai puluhan hingga ratusan orang, tetap saja Nun Kalim memberikan makan kepada mereka. Dan bagi Nun Kalim, tamu yang datang kepadanya harus menerima makanan, dan menghabiskan makanan yang Beliau berikan. Jika tidak, Beliau akan marah, bahkan tak segan meminta tamunya untuk tidak menemuinya lagi.

Tentu sikap memberikan pelayanan maksimal oleh Nun Kalim terhadap segenap tamu yang datang, tidak banyak kita temui terhadap masyarakat modern yang lebih mengedepankan sikap individualistik dalam menjalani kehidupannya. Bahkan tak jarang, mereka menutup diri terhadap orang lain, selain orang tertentu yang ia suka.

Apa yang dilakukan Nun Kalim, merupakan sebuah pelajaran yang tentu ingin diberikan kepada tamu bagaimana menghargai orang lain yang bertandang, serta bagaimana seseorang menghargai setiap butir makanan yang tersaji dari jerih payah yang membuat untuknya. Selain itu beliau juga mengajarkan betapa mudahnya menjadi hidup makmur dengan bersedekah, walaupun hanya sebatas sedekah makanan. Bagi beliau bersedekah tidaklah akan membuat kenistaan dan keterhimpitan hidup, justru sebaliknya akan memakmurkan dan melapangkan hidup.

Tentu sikap yang dicontohkan Nun Kalim merupakan tauladan yang perlu kita terapkan serta, ajarkan terhadap keluarga dan lingkungan disekitar kita. Karena kita ketahui bersama, saat ini perilaku membuang makanan yang sebenarnya masih layak untuk kita makan mulai menjadi sesuatu yang lumrah. Padahal dalam ajaran Islam sendiri, perilaku seseorang yang menyia-nyiakan makanan adalah terlarang. Yakni mubadzir. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat Al- Isro ayat 26-27 yang menyebutkan:

Baca Juga:  Misteri 8 Tahun Berlalu Mbah Maridjan Ukir Pesan Bagi Ummat Alam Semesta

“ Dan berikanlah kepada kepada keluarga–keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan kepada orang yang ada dalam perjalanan; janganlah kamu menghamburkan (hartamu) dengan boros. Sesungguhnya pemboros–pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan, dan sesungguhnya setan itu ingkar kepada tuhannya”.

Pada ayat tersebut, terutama pada ayat ke 27, Allah mengingatkan kepada kita betapa buruknya sifat boros. Mereka bahkan dikatakan saudaranya setan. Orang yang boros, berarti orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung manfaat berarti. Namun, boros tidak hanya berkonotasi terhadap membelanjakan harta. Menyianyiakan makanan yang ada adalah termasuk bagian mubadzir alias pemborosan.

Sosok Nun Kalim, juga mengajarkan untuk menjaga agar makanan yang dimakan tamu, dan orang terdekatnya seperti khaddam tidak tersisa. Nun Kalim sering memerintahkan para khadam mengambil sobekan kertas di jalanan yang masih layak dipergunakan sehingga, ketika ada tamu yang meminta bacaan amalan untuk wiridan, serta meminta bacaan do’a, untuk keperluan hajat hidupnya, Nun Kalim tidak segan menulis apa yang diinginkan para tamu di atas kertas tersebut.

Selain itu ada juga perilaku silaturrahim yang hampir melekat dalam kehidupan keseharian Nun Kalim. Ulama yang memiliki kemampuan menulis dalam sejumlah bahasa seperti Cina, Jepang dan Arab tersebut selalu menyempatkan dalam kehidupan kesehariannya bersilaturrahim ke rumah para tamu yang selalu datang kepadanya. Dalam bersilaturrahim, Nun Kalim tidak pernah membedakan status sosial tuan rumah yang hendak dituju.

Bahkan sebagian besar tuan rumah yang dituju Nun Kalim adalah orang miskin yang tempat tinggalnya jauh dari kata “layak”. Meski terkadang hanya disuguhi air putih dan kerupuk, hal tersebut tidak serta merta membuat Nun Kalim memilih tuan rumah yang kaya. Tak jarang pula, Nun Kalim kemudian mendoakan tuan rumah agar dikemudian hari diberi kelapangan rejeki.

Kesukaan bersilaturrahim Nun Kalim terus dilakukan meski kondisi fisiknya mengalami penurunan signifikan karena serangan penyakit kencing manis yang bersarang dikedua kakinya. Arianto menyebutkan, setengah bulan sebelum kewafatan Nun Kalim pada tahun 2001, dengan kondisi fisik yang cukup memprihatinkan, Nun Kalim masih menyempatkan melakukan silaturrahim di dua tempat di kabupaten Probolinggo.

Baca Juga:  Perebutan Jenazah dan Bulir Biji Pisang Sunan Bonang

Tujuan silaturrahim pertama ia lakukan di rumah salah seorang warga di desa Sumberkerang, Kecamatan Gending. Dirumah sang tamu, Nun Kalim tampak hanya diam dan tersenyum dengan hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi milik tuan rumah. Meski tanpa banyak memberikan isyaroh kepada para khadam, diamnya Nun Kalim tampak menandakan mencoba menahan rasa sakitnya tanpa pernah mengeluh.

Setelah selesai bersilaturrahim ke Desa Sumberkerang, Nun Kalim pun langsung menuju Desa Brabe Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo, dan tampak segenap khadam harus membopong tubuh Nun Kalim agar bisa masuk ke dalam rumah tersebut.

Proses silaturrahim yang dilakukan Nun Kalim, biasa Beliau lakukan ketika ada tamu yang sering bertandang ke dalemnya. Guna menghargai sikap tamu yang selalu bersilaturrahim, Nun Kalim akhirnya memberi tahu kepada tamunya bahwa ia pada hari tertentu akan bertandang sekedar bersilaturrahim.

Konsistensi dalam menepati janji ketika hendak bersilaturrahim terhadap orang lain, tak pernah Nun Kalim ingkari. Ketika Nun Kalim terserang penyakit kencing manis, tidak sedikit orang terdekatnya meminta Nun Kalim menunda kunjungan silaturrahim kepada orang yang hendak di tuju karena alasan kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan.

Namun dengan bahasa isyarat yang ia salurkan melalui para khadamnya, Nun Kalim memberi jawaban singkat dengan kata “ Engkok ajenjih ka oreng, engkok berarti endik otang ke pengiran” (saya berjanji kepada orang, berarti saya punya hutang kepada Allah).

Selain kecintaannya dalam bersilaturrahim, Nun Kalim juga sering menyuruh seseorang yang ia temui untuk pergi menunaikan haji. Bahkan tidak sedikit, orang yang beliau suruh adalah orang kurang mampu secara ekonomi. Meski demikian, hampir semua orang yang beliau perintahkan menunaikan haji, tidak lama berselang dari ucapannya, mampu menunaikan ibadah haji.

Sebaliknya, orang kaya yang Beliau perintahkan menunaikan ibadah haji, namun akhirnya mbalelo dengan menggunakan hartanya untuk kepentingan yang lain, pada akhirnya kehidupan ekonominya merosot tajam dan jatuh miskin. Kebanyakan dari tamu yang mengalami masalah kemerosotan ekonomi disebabkan mengabaikan permintaan Nun Kalim yang telah disanggupi sebelumnya.

Baca Juga:  Sejarah 5W+1H Penghayat Kepercayaan Dalam Perkembangannya di NKRI

Pada tahun 1980 an, Nun Kalim kembali berangkat ke tanah suci Mekkah. Meski fisiknya berada di Mekkah, bukan menjadi alasan Nun Kalim tidak memperhatikan kehidupan para khadam dan sejumlah hewan peliharaannya seperti burung dari aneka jenis, landak dan hewan-hewan lainnya. Maklum saja, selain memiliki watak welas asih pada sesama, Nun Kalim juga tergolong ulamak yang senang memelihara beberapa jenis hewan.

Saat Nun Kalim berada di tanah suci tersebut, surat untuk membelikan makanan hewan peliharaan dilakukan secara rinci. Pun demikian untuk keperluan sandang dan pangan para khadam yang mengabdi kepadanya. Bahkan tak jarang Nun Kalim membuat catatan detail berupa jam makan yang harus dilakukan para khadam, sehingga mereka tidak telat makan.

Selain itu, ketika beliau hendak melakukan silaturrahim ke Situbondo, Nun Kalim selalu berpesan terhadap para khadam yang kebetulan tidak ikut rombongan untuk makan tepat waktu.

Sikap perhatian dan menjaga kehidupan sesama inilah, membuat para khadam merasa diperhatikan. Tak jarang, para khadam yang mengabdi terhadap Nun Kalim Merasa kerasan, hingga bakti mereka mencapai puluhan tahun.

Selain memperhatikan kondisi sandang pangan para khadam, Nun Kalim tak lupa selalu memberikan nasehat dengan memberikan cerita para utusan Allah mulai dari Nabi Adam, hingga Nabi Muhammad. Rutinitas tersebut, biasa dilakukan Nun Kalim pada malam Jumat.

Cerita lain yang tidak kalah mulianya dari sifat beliau ialah, setiap menjelang buka puasa, Nun Kalim selalu mendahulukan makanan para khadam dari pada dirinya sendiri. Sementara dirinya hanya membatalkan puasa dengan meminum air putih. Nah, setelah para khadam menyelesaikan makanan yang ada, baru Nun Kalim memulai makan miliknya sendiri.

Sebenarnya masih banyak cerita terkait karomah beliau yang layak dijadikan teladan umat. Namun jika hal itu dijabarkan rinci pastilah tidak akan ada media apapun yang sanggup memuatnya. Oleh sebab itulah artikel yang hanya sedikit ini dapatlah dijadikan manfaat segenap umat agar lebih baik lagi dalam hal mendekatkan diri pada sang pencipta. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here