Beranda budaya Hari Wayang Dunia, Bukti Seni Dapat Merasuk Pada Seluruh Ajaran Agama

Hari Wayang Dunia, Bukti Seni Dapat Merasuk Pada Seluruh Ajaran Agama

0
936

Kebudayaan seni Wayang Kulit, merupakan sebuah pertunjukkan khas Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Meski demikian, wayang kulit juga populer di beberapa daerah seperti Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya.

Wayang kulit di Indonesia, biasanya mengadopsi alur cerita bercorak hindu buda seperti cerita ramayana. Namun, di era masuknya agama Islam, kesenian ini juga berperan penting dalam syiar dakwah segenap tokoh wali songo.

Alur cerita wayang sangat dapat dikembangkan sesuai kebutuhan doktrin publik di setiap masa, terutama menyangkut tuntunan budi pengerti luhur.

Hal ini disebabkan karena, kesenian wayang kulit yang alur cerita atau pakemnya sebagian besar mengarah pada konsumsi kejahatan yang terselesaikan dengan kebaikan. Selain itu, isi muatan dalam alur cerita wayang kulit juga dapat disesuaikan dengan berbagai aliran agama utamanya di Indonesia.

Oleh sebab itulah pada 7 November 2003, lembaga UNESCO yang membawahi kebudayaan dari PBB, menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) dan pada hari tersebut juga ditetapkan sebagai hari Wayang Dunia.

Untuk itu pulalah di tahun 2003 UNESCO memasukan kesenian wayang kulit, ke dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia.

Tidak ada bukti akurat yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Namun, diperkirakan seni pertunjukan ini, dibawa masuk oleh pedagang India yang kala itu, alur cerita wayang masih terkesan monoton.

Namun, dari kreatifitas lokal dan budayawan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukan yang masuk, cukup memberi warna tersendiri pada seni pertunjukan wayang di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukan wayang berasal dari Prasasti Balitung pada Abad ke 4 yang berbunyi si Galigi mawayang.

Baca Juga:  Mengenal Bondowoso Dari Sejarah Puncak Kejayaannya

Dalam sejarahnya, segenap Wali Sembilan di Jawa, membagi wayang menjadi tiga. Wayang Kulit di Jawa timur, wayang wong di jawa tengah dan wayang golek di Jawa barat.

Pembagian tersebut dominan merupakan peran besar dari kedua tokoh yaitu, Raden Patah dan Raden Sahid atau Sunan Kali Jaga. Dalam salah satu tembang dari kedua tokoh tersebut mengatakan, “Carilah wayang di Jawa Barat, Golek ono dalam bahasa jawi, sampai ketemu wong nya isi nya yang di tengah, jangan hanya ketemu kulit nya saja di Timur di wetan wiwitan. Mencari jati diri itu di Barat atau Kulon atau kula yang ada di dalam dada hati manusia. Maksud para Wali terlalu luhur dan tinggi filosofi nya. Wayang itu tulen dari Jawa asli, pakeliran itu artinya pasangan antara bayang bayang dan barang asli nya. Seperti dua kalimah syahadat. Adapun Tuhan masyrik wal maghrib itu harus di terjemahkan ke dalam bahasa jawa dulu yang artinya wetan kawitan dan kulon atau kula atau saya yang ada di dalam. Carilah tuhan yang kawitan pertama dan yang ada di dalam hati manusia.

Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi. Dimana saat pertunjukan yang ditonton hanyalah bayangannya saja dengan bantuan sorot lampu. Wayang inilah yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit. Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

Ketika misionaris Katolik, Bruder Timotheus L. Wignyosubroto, FIC pada tahun 1960an dalam misinya menyebarkan agama Katolik, ia jugamengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber ceritanya berasal dari Alkitab Injil.

Baca Juga:  Pasar Setan Jalur Gumitir Masih kerap Terlihat Hingga Saat Ini

Nah disinilah bukti bahwa wayang dapat berkembang dan merasuk tidak hanya sebatas satu ajaran agama saja, melainkan pada seluruh lapisan ajaran yang ada di Indonesia maupun Dunia. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here