Beranda Artikel Misteri Keris Kamardikan Kembang Turi, Hasil Lebur Dari Karya Mpu Keleng

Misteri Keris Kamardikan Kembang Turi, Hasil Lebur Dari Karya Mpu Keleng

0
1697

Keris Kamardikan merupakan istilah, keris buatan baru setelah masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kata Kamardikan sendiri berasal dari bahasa Kawi yang asal katanya dari Mahardika atau dengan arti merdeka.

Keris pada umumnya selalu lekat dengan atribut jaman pembuatannya yang sering disebut ‘tangguh’ atau perkiraan jaman. Bentuk keris selalu berkaitan dengan gaya keris yang khas dari setiap kerajaan-kerajaan di Nusantara (Indonesia).

“Keris Kamardikan” memiliki dua makna :

Untuk menyebut keris-keris yang dibuat pada zaman setelah Indonesia merdeka, dan sebagai keris-keris yang diciptakan menuruti konsep baru yang bebas dari segenap seniman mpu keris.

(dikutip dari Katalog Pameran ”Keris Kamardikan Award 2008”).

Jika konsep Keris Kamardikan untuk menyebut keris yang dibuat pada zaman setelah Indonesia merdeka akan dihadapkan pada realita bahwa di masyarakat luas berkembang istilah Keris Pamor Ruji Sepeda, Keris Pres, Keris Semi, Keris Rehapan, Keris Garap Baru, Keris Nganten, Keris Aksesoris, Keris Putran (Duplikat) menunjukkan hal yang spesifik terkait dengan :

Nah kali ini sejarah-budaya.com akan menjabar salah satu Proses Keris Rehapan Clurit kembang Turi yang pengolahannya dari bekas karya sang maestro madura mpu Keleng. Namun sebelumnya, perlulah kita pahami dari pengertian Keris Rehapan. Keris yang demikian sendiri, dibuat dari keris sepuh/tua yang sudah aus dan tidak dapat lagi dinikmati keindahannya (aspek eksoteri), direhap sedemikian rupa menjadi keris baru dengan dhapur baru, luk baru, bahkan gonjo wulungpun bisa direhap menjadi gonjo wilut atau gonjo kelap lintah.

Dikutip dari keterangan Rohman (57), salah satu mpu keris dari Dusun Jambu Monyet Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep.

Menurut Rohman yang menggarap keris kamardikan menerangkan, sebelum dirinya membuat rehapan keris dari bekas karya mpu keleng, dia memang mengadakan laku ritual tapa bisu.

Hal ini dia lakukan mengingat yang akan digarapnya merupakan bekas milik mpu yang cukup linuih. Rohman ingin hasil keris yang diciptakannya tidak menggeser nilai histori sang pencipta awalnya.

Tapa bisu yang dilakukan Rohman terjawab setelah 7 hari. Dimana pada malam ke 7 tersebut, rohman seolah mendapat wisik agar keris yang hendak diciptanya harus identik dengan senjata khas madura. Baru di hari ke 9 ia memutuskan untuk mencipta sebuah clurit dengan pamor banyu mili. Hingga di hari ke 11Minggu Wage jam 09:00 wib, Rohman baru memulai awal proses penempaan.

Dalam pengerjaannya, Rohman hanya menggarap karyanya tersebut dikala hatinya sedang tenang. Maklum saja keluarga Rohman tergolong dari taraf menengah ke bawah. Jadi, untuk mencipta hati yang benar-benar tenang, Rohman memerlukan waktu cukup lama untuk menyelesaikan karyanya itu.

Hingga menjelang hampir 7 tahun di bulan Suro 2017 Clurit karyanya itu benar benar sempurna tercipta. Setelah mawujud, keris yang memiliki bentuk clurit itu dijulukinya sebagai wesi aji Kembang Turi berpamor mrambut banyu mili.

“Rencananya clurit ini, akan saya miliki pribadi mas, namun entah mengapa saya bermimpi ditemui sosok tua pada malam minggu wage, tepat 7 hari dari rampungnya keris clurit itu” ungkap Rohman.

Dalam mimpinya, sosok tua yang mengaku sebagai joko tole itu, berpesan, “berikanlah secara cuma-cuma kembang turi itu kepada seorang pria yang berkunjung kerumahmu pada minggu wage mendatang. Pria itu akan datang dikala hari sepenggala dan bagimu bersabarlah karena akan ada sinar biru yang akan datang kepadamu”.

Singkat cerita, di hari yang tertera dalam mimpi, Rohman sudah menunggu kedatangan bakal tamunya itu mulai semalam. “Jujur saya berat melepas keris itu mas, selain segenap kesabaran yang tertuang, saya sudah terlanjur menaruh hati pada 1 karya saya ini. Namun apa boleh dikata, jika sang pencipta dan alam semesta menghendaki keris ini berpindah tangan kepada yang lebih berhak. Tapi dalam hati sedikit saya mengadu, semoga saja di hari yang tertera tidak ada tamu,” terangnya.

Kerika matahari hampir sepenggala terdengar ketok pintu dari rumah Rohman. Setelah dibukakan pintu, ada sosok muda agak kurus tampil tersenyum dengan nada serak, mengucapkan salam. Setelah dipersilahkan duduk pria tadi ternyata seles yang menawarkan alat kesehatan.

Usai mendengar basa basi penawaran dari pemuda seles itu, Rohman menanyakan nama, alamat dan sejarah dari pemuda tadi. Usai mendengar sedikit uraian jati diri, Rohman berkata, “Terus terang saya tidak punya uang untuk membeli alat yang sampean tawarkan namun, jika mau merawat dan turut melestarikan peninggalan sejarah, saya punya keris yang sampean bisa bawa pulang sebagai kenangan dari saya,” tegas Rohman.

Singkatnya, usai mewejang bab keris dan cara merawatnya, Pemuda seles tersebut diserahi pusaka clurit karya Rohman dan usai itu Rohman menyuruh Seles tadi untuk segera pulang.

Dari cerita Rohman, dirinya sangat bersedih dan takut jika keris tersebut digunakan pada jalan salah. Rohman yang kini telah memiliki 12 Hektar sawah, tetap berharap agar penerima clurit itu dapat menjadi arif seperti joko tole maupun mpu keleng. Namun saat ditanya mengenai identitas penerima clurit pusaka tadi, Rohman bergumam dan ingin selalu merahasiakannya. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan