Ketua PBNU: Budaya di Indonesia, Cocok Dengan Ajaran Agama

0
513

Membahas tentang kebudayaan yang dapat membaur kedalam sendi – sendi syariat agama Islam, ataupun sebaliknya, memang tidak akan ada ujung pangkal perbedaan dan kesamaannya. Dalam setiap diskusi pembahasan antara agama dan budaya pastilah ada perbedaan pendapat yang bahkan dapat berujung pada keretakan antar sesama.

Namun hal ini sebenarnya dapatlah dipadu padankan menjadi sebuah rangkayan pengembangan Islam, menjadi sebuah ujung kebaikan umat manusia.

Menurut ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, budaya merupakan suatu kebiasaan masyarakat yang sudah tertancap dalam hati. Meninggalkan budaya akan lebih berat daripada meninggalkan hukum apapun. Dalam pandangan kaum Nahdatul Ulama (NU), Agama memiliki cara -cara atau ajaran tertentu dalam menerima budaya.

“Jika budaya itu sesuai dengan ajaran agama Islam, maka langsung dapat diterima namun, jika budaya itu tidak sesuai dengan ajaran islam maka, tidak langsung ditolak, namun disaring dulu, dimana yang tidak sesuai, kemudian dimurnikan dahulu agar sesuai dengan ajaran Agama Islam, baru diterapkan di masyarakat,” ujarnya pada Halal Bihalal Warga Desa Kalijambe, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, di Masjid Jami Asy-Syukur, Sabtu (1/7).

KH. Marsudi mencontohkan, prosesi Aqiqah adalah budaya yang telah ada sejak zaman sebelum Rasulullah SAW. Pada saat itu, jika ada anak yang lahir, memotong kambing atau unta. Kemudian darahnya diusapkan pada wajah.

“Setelah Islam datang, maka budaya mengusap darah itu diganti dengan mengusap minyak wangi. Begitulah juga cara NU menerima budaya,” ujarnya.

Menurut dia, di Indonesia, banyak sekali budaya masyarakat yang cocok dengan ajaran Islam. Budaya tahlil pun sudah disterilisasi sedemikian rupa oleh ulama terdahulu sehingga ajaran tersebut cocok diterapkan umat Islam di Indonesa.

“Dewasa ini, banyak sekali sebagian umat Islam yang menganggap bahwa budaya -budaya Indonesia tidak cocok untuk umat Islam. Sehingga, melarang kegiatan-kegiatan tersebut bahkan, berusaha memaksa memasukkan budaya-budaya Timur Tengah ke Indonesia, yang tidak cocok diterapkan di Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga:  Rahasia Menebak Karakter Seseorang Lewat Angka 1 Hingga 9

Oleh karena itu, ia meminta umat Nahdliyin selektif memilih ajaran-ajaran tersebut agar tidak merusak tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Warga NU harus selektif memilih budaya-budaya itu,” tandasnya.

Dalam penjelasan diatas, ummat Islam sendiri, sebenarnya sudah mencetuskan sebuah kebudayaan yang dapat merasuk seutuhnya ke dalam masyarakat. Dan dengan demikian, sangtlah mungkin ajaran Islam dapat melestarikan berbagai kebudayaan lokal. Sehingga, dengan lestarinya sebuah kebudayaan dapat lrbih mengokohkan ummat dalam kehidupan beragama. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here