Beranda budaya Deteksi Keperawanan Mempelai Dengan Hiasan Janur Kuning Dalam Pernikahan

Deteksi Keperawanan Mempelai Dengan Hiasan Janur Kuning Dalam Pernikahan

0
2786

Hiasan Janur Kuning kerap terlihat dipasang dalam setiap kultur prosesi budaya maupun keagamaan mayoritas orang Jawa. Dari acara ruwatan, khitanan maupun pernikahan dan lain sebagainya, pemasangan janur tersebut ternyata, bukanlah hiasan pemanis belaka, melainkan memiliki maksud dan tujuan tertentu.

Kebudayaan masyarakat Jawa pada umumnya menyimbolkan berbagai keberkahan dengan menggunakan benda-benda dari alam utamanya janur kuning. Pemasangan janur kuning sendiri pada umumnya memiliki arti sebuah makna dan harapan baru kedepannya.

Janur kuning misalnya mengandung harapan agar saat prosesi kedua mempelai nampak bersinar. Janur menurut arti harfiahnya berasal dari kata Jan yang berarti Jannah atau surga dan nur yang berarti cahaya. Jika di satukan memiliki arti cahaya surga. Dengan memasang janur, masyarakat jawa berharap agar kedua mempelai dapat menempuh kehidupan yang tentram di kemudian hari.

Sementara kata kuning menurut beberapa literatur menyebut bermakna sabda dadi, berharap semua perkataan baik bakal terwujud (kun fayakun-Nya Allah SWT) yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening.

Dengan demikian, janur kuning mengisyaratkan cita-cita mulia dan tinggi untuk menggapai cahaya Ilahi dengan dibarengi hati yang bening.

Hiasan janur dalam prosesi pernikahan, biasanya memiliki dua pasang dari mulai penjor sampai kembar mayang. Hal ini menyimbolkan hiasan sebelah kanan sebagai lelaki dan sebelah kiri wanita. Adapun simbol kanan dan kiri tersebut ditentukan dari sudut pandang segenap tamu dari arah depan (bukan dari sudut tuan rumah / pengantin).

Tidak hanya itu bahkan, janur kuning yang terpasang dalam prosesi pernikahan, dipercaya dapat menjadi deteksi Tetenger atau pertanda keperjakaan dan keperawanan kedua mempelai. Jika hiasan janur kuning yang terpasang tidak layu hingga usai acara, maka pertanda kedua mempelai masih perjaka atau perawan dan sebaliknya. Namun jika salah satu pasang dari kedua hiasan janur layu biasanya salah satu diantara mempelai sudah tidak perawan atau perjaka.

Baca Juga:  Legenda Eder Disah Desa Ramban, Berawal Dari Utusan Kerajaan Demak Bintoro

Begitu tinggi dan dalam filosofi janur kuning dalam prosesi pernikahan adat jawa hingga hal detelpun dapat dirambah hanya dengan sehelai daun kelapa ini.

Terkait dengan nama hiasan dari janur kuning yang terdapat dalam sebuah prosesi pernikahan diantaranya sebagai berikut.

Kembar Mayang

Kembar Mayang ini melambangkan bahwa pengantin harus sama perasaan, hati dan kehendaknya. Bagian-bagian yang terdapat pada kembar mayang diantaranya tatakan, awak, dan mahkota.

Mayang Sari / Gagar Mayang

Mayang sari/gagar mayang adalah hiasan janur yang biasanya ditempatkan di samping kanan dan kiri kursi Pelaminan, Mayang sari ini tingginya kira-kira 180 cm, jumlahnya 2 buah, bentuknya boleh sama dan boleh tidak tergantung selera si pembuat, dan pada bagian ujung atas dihias dengan dengan buah-buahan atau bunga hidup.

Mayang sari terdiri dari mahkota (kipas, buah-buahan dan bunga), badan bagian atas, badan bagian bawah dan tatakan.

Umbul umbul / Penjor

Umbul-umbul / penjor atau layur biasanya dipasang di depan rumah atau didepan gang masuk menuju tempat hajatan, Umbul-umbul ini sebagai pertanda bahwa disitu ada hajatan/ acara resepsi.

Hanya saja umbul-umbul dibuat dengan bidang sebatang bambu, disepanjang bambu dihiasi dengan daun kelapa yang kuning hingga melambai di ujung bambu.

Selai memang syarat kayanya filosofi dan manifestasi sebuah harapan, janur kuning juga sebagai wujud lestarinya budaya asli Nusantara. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here