Sirami Air Wangi di Atas Tanah  Pemakaman Sunnah Agama

0
622

Membahas tentang tradisi menyiram air rempah, bunga dan daun pandan di atas tanah pemakaman, memang selalu menjadi pertanyaan besar bagi sebagian manusia pada umumnya. Banyak dari kita, bergelut dengan ragam tanya terkait apa gunanya menyiram air tersebut, apa hukumnya dan lain sebagainya.

Tidak dapat dipungkiri, kegiatan yang mayoritas lebih masuk ke arah tradisi dan budaya tersebut, sering kali kita jumpai dan bahkan pernah kita sendiri yang mengalami. Lalu, apa dan bagaimanakah tradisi tersebut dalam pandangan agama Islam utamanya?

Nah, kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit membahas tentang pandangan agama Islam terkait dengan tradisi menyiram air rempah bunga dan daun pandan diatas tanah pemakaman.

Alasan atau manfaat utama yang dianjurkan untuk menyiram tanah pemakaman setelah mayat dikuburkan adalah untuk menjaga tanah kering agar tidak berterbangan.

Selain itu, terdapat dalam ‘Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 32250: “Kalangan mazhab Hanafi, Syafii dan Hanbali dengan tegas mengatakan, “Disunnahkan memercikkan air di atas kuburan (mayat) setelah dikuburkan. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam melakukan hal itu terhadap kuburan Saad bin Muaz dan beliau memerintahkan hal itu pula kepada kuburan Utsman bin Maz’un. Ulama dalam mazhab Syafii dan Hanbali menambahkan agar meletakkan kerikil kecil di atasnya”.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, “Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam memercikkan (air) di atas kuburan anak dari Ibrahim dan menaruh kerikil (di atasnya). Karena hal itu lebih menguatkan dan tidak cepat menyusut serta lebih menahan tanah dari sapuan angin.” (Tabyinul Haqaiq, 1/246. Asna Al-Mathalib, 1/328. Kasyful Qana, 2/138)

Syekh Al-Albany rahimahullah mengatakan, “Dalam memercikkan air di kuburan banyak hadits, akan tetapi ada cacatnya, sebagaimana saya telah jelaskan hal itu dalam kitab Irwa’ul Ghalil (3/205 – 206) kemudian saya dapatkan di Mu’jam Al-Ausat, oleh Ath-Thabrani hadits dengan sanad kuat bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam memercikan air di kuburan anak dari Ibrahim, maka saya kutip riwayat tersebut dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah (Kumpulan Hadits Shahih, no. 3045).” (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhaifah, 13/994)

Baca Juga:  Sejarah Tujuan Berdirinya Nahdatul Ulama

Adapun keyakinan sebagian orang bahwa memercikkan air di atas kuburan itu bermanfaat bagi mayat. Maka keyakinan seperti ini adalah batil tidak ada asalnya. (Terkecuali kondisi mayat berbau, boleh dipercikkan wewangian. Itupun asal tidak mengusik harfiah kesucian mayat).

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Adapun memercikkan air di atas kuburan, maksudnya adalah menguatkan tanah. Bukan seperti persangkaan orang awam bahwa maksudnya adalah mendinginkan mayat. Karena mayat tidak dingin dengan air. Akan tetapi dapat didinginkan dengan pahalanya. Akan tetapi karena untuk menguatkan tanah.” (As-Syarh Al-Kafi)

Beliau rahimahullah juga ditanya, “Apakah memercikkan air di atas kuburan dapat bermanfaat untuk mayat?”

Beliau menjawab, “Tidak bermanfaat untuk mayat, barang siapa yang melakukan hal itu dengan berkeyakinan seperti itu, maka keyakinannya tidak benar. Sesungguhnya memercikkan air di kuburan ketika menguburkan agar komponen tanah tidak berterbangan karena angin atau lainnya. Ini adalah maksud dari memercikkan air di kuburan ketika mengubur. Sementara apakah mayat dapat mengambil manfaat, maka mayat tidak dapat mengambil manfaat darinya. Air juga tidak sampai kepadanya. Dan jasadnya juga tidak membutuhkan air.” (Nurun Ala Ad-Darbi)

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, memercikkan air merupakan sebuah sunnah agar tanah dapat segera menjadi padat dan debu yang kering tidak berterbangan mengganggu mahluk yang masih hidup. Sedang adanya air yang di campur dengan rempah, bunga dan daun pandan, berfungsi menetralisir bau tidak sedap disekitar mayat ataupun pekuburan. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here