Misteri 8 Tahun Berlalu Mbah Maridjan Ukir Pesan Bagi Ummat Alam Semesta

0
1266

Mbah Maridjan atau Raden Ngabehi Surakso Hargo lahir di Dukuh Kinahrejo, 5 Februari 1927. Beliau yang bernama asli Mas Penewu Surakso Hargo dikenal sebagai seorang juru kunci Gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini, diperoleh dari Sri Sultan Hamengku buwana IX. Dimana tugas beliau, setiap gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando darinya untuk mengungsi. Hingga pada 26 Oktober 2010, beliau akhirnya meninggal mengorbankan diri ke panasnya wedus gembel di Sleman di usianya yang ke 83 tahun. Dalam luasnya pemberitaan media masa, jenazah beliau ditemukan dalam kondisi tertelungkup sujud.

Meletusnya Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2010 lalu, membawa cerita mitos amat kuat terhadap keberadaan sosok Eyang Merapi, juru kunci Merapi Mbah Maridjan serta, sosok gaib Nyi Roro Kidul yang merupakan anak dari Ibu Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa Pantai Laut Selatan.

Cerita dibalik terjadinya letusan gunung Merapi, ingga kini menjadi mitos dan catatan sejarah warga yang tak ada habisnya. Tewasnya Mbah Maridjan sang juru kunci menjadi kejutan pasalnya, kematian beliau membawa kontroversi dan fakta sampai saat ini masih dicari kebenarannya.

Kematian Mbah Maridjan bersama Fajar seorang wartawan media online di ruang belakang atau dapur rumahnya dalam posisi sujud, menggunakan kain sarung dan menghadap ke Pantai Laut Selatan. Dimana arah tersebut dipercaya sebagai tempat bersemayamnya anak sang penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Warga sekitar banyak yang menyatakan bahwa kematian Mbah Maridjan saat sujud dan salat untuk menghadap yang Maha Kuasa. Namun, sebagian warga lain setelah berpikir, di dekat rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman ada sebuah masjid yang sering digunakan Mbah Maridjan salat. Kenapa dia tidak salat saat rumahnya diterjang awan panas atau wedhus gembel?

Baca Juga:  Benarkah Gajah Mada Moksa Dibalik Air Terjun Probolinggo..?

Ceritapun berkembang, usut punya usut, Mbah Maridjan sujud menghadap ke pantai Laut Selatan di mana sang penguasanya Ibu Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul bersemayam. Menurut beberapa warga dan para “orang pintar” yang mengerti dunia metafisika keberadaan pantai Laut Selatan kait eratanya dengan gunung teraktif di dunia itu.

Raja Mataram, Panembahan Senopati awal penguasa Kraton Solo dan Kraton Yogyakarta, mempunyai seorang ayah dan guru sampai kini bersemayam di puncak Merapi. Konon dipanggil dengan nama Eyang Merapi atau sering disebut Loh Toyo.

Hubungan spiritual antara Panembahan Senopati dengan Nyi Roro Kidul terjadi setelah mendapatkan restu dari ayahanda Loh Toyo sang penguasa Merapi. Keserakahan dan kemurkaan terjadi dari kurun waktu berabad-abad mengakibatkan kerusakan di sekitar Merapi.

Terutama kerusakan moral dan spiritual di sekitar wilayah provinsi Yogyakarta dan sekitarnya kini sudah menjadi daerah pendidikan dengan segala masalahnya. Selain sudah menyimpang dari ajaran dan tidak sesuai adat dan sejarah budaya nenek moyang dan leluhur juga penuh dengan orang-orang pendatang tidak menghormati alam semesta lagi.

Diketahui, Loh Toyo adalah sosok ayah, pembimbing dan sekaligus pelindung kerajaan Mataram. Pesan-pesan leluhur kerajaan Mataram datang dari Loh Toyo ke sang anak Panembahan Senopati sekaligus murid tak dipegang teguh lagi. Kini sudah pecah, berkembang dan menjadi wilayah penuh kenistaan dan rusak,” ungkap “BR” spiritualis yang biasa dikenal dengan nama Kyai Bolong ini.

Hubungan Loh Toyo dan Ibu Kanjeng Ratu Kidulpun semakin kuat dan sampai saat ini masih terjalin. Jika Merapi bergejolak, maka laut pun bergoyang. Terbukti, pada bulan Mei 2006, erupsi Merapi sempat terjadi berulang-ulang namun setelah Mbah Maridjan sang juru kunci naik ke lereng Merapi dan memohon doa Merapi tidak erupsi.

Baca Juga:  Dalamnya Makna Aksara Jawa Bolak Balik Bagi Hidup Mati Alam Semesta

Malah yang terjadi hantaman ombak pantai Laut Selatan menggoyang Daerah Istimewa Yogyakarta mengakibatkan ribuan korban berjatuhan . Bahkan sempat muncul isu terjadinya tsunami membuat keresahan warga Yogya namun tidak terbukti.

“Mbah Maridjan menjadi seorang sosok penyelamat bagi masyarakatnya. Tapi ibarat pepatah Jawa “melik nggendong lali”. Dia (Maridjan) jadi sosok tokoh terkenal. Saking terkenalnya akhirnya dia menjadi lupa akan titah dan keperkasaanya,” ungkap Mbah Diur seorang spiritualis Merapi tinggal di Dukun, Magelang, Jateng.

Fenomena alam itu yang diibaratkan peringatan warga sekitar Merapi pun kembali terjadi. Sebelum erupsi Merapi 2010 terjadi, muncul pertanda kepulan asap sulvatara membentuk kepala menyerupai tokoh pewayangan salah satu Punokawan yaitu Mbah Petruk. Namun tanda-tanda kekuasaan alam tidak digubris oleh sang pemimpin.

Malah di beberapa kesempatan di media sang raja menyatakan bahwa penampakan kepala Mbah Petruk adalah kepala pinokio. Masyarakat pun kecewa, terutama berada dilereng Merapi. Akhirnya, erupsi Merapi terjadi di tahun 2010.

Amukan sang Merapi tak dapat terbendung. Mbah Maridjan berupaya meminta ampun dan permohonan untuk kesekian kalinya tidak diloloskan dan dipenuhi. Sebelum tewas konon sebelum bersujud ke arah laut Pantai Selatan ke persemayaman Nyi Roro Kidul beserta Ibu Kanjeng Ratu Kidul Mbah Maridjan bersujud ke arah gunung. Maridjan meminta doa dan permohonan kepada sang Loh Toyo alias Eyang Merapi untuk menunda meletusnya.

Namun, saat Mbah Maridjan bersembah sujud ke arah pantai Laut Selatan tempat sang penguasa Ibu Kanjeng Ratu Kidul dan anaknya Nyi Roro Kidul bersemayam permohonan tak dikabulkan. Malah Mbah Maridjan ikut disapu oleh erupsi dihempas awan panas beserta beberapa orang dan wartawan yang meliput dirumahnya di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman.

Baca Juga:  Rahasia Pesugihan Halal Dari Istiqomah Mengamalkan Sholawat

Sampai saat ini kematian Mbah Maridjan menjadi kasak kusuk dan mitos rahasia umum apakah dia benar mati karena awan panas atau ritual khusus yang membuatnya harus meninggalkan dunia fana ini.

Namun, terkait dengan benar tidaknya semua cerita diatas cukuplah kita jadikan cambuk teladan agar kita senan tiasa mendekatkan diri pada alam semesta dan lebih lagi menghormati alam semesta dan seluruh isinya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here