Beranda Artikel Kupas Tuntas Jalannya Moksa Manusia Hingga Mencapai Ketuhanan

Kupas Tuntas Jalannya Moksa Manusia Hingga Mencapai Ketuhanan

0
895

Secara garis besar, kata Moksa merupakan usaha spiritual manusia dalam melakukan pelepasan jiwa dari jasad.

Kata moksa sendiri, berasal dari bahasa Sanskerta yang dalam pengertian Jawa memiliki makna sebagai pencarian, pembebasan atau juga perpindahan diri seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya. Yang dimaksud dengan perpindahan disini adalah perpindahan di dalam dimensi ruang dan waktu tak kasat mata.

Jika sebelumnya seseorang berada dan hidup pada dimensi nyata (di muka Bumi), maka moksa ini berarti ia sudah berpindah tempat ke dimensi alam halus. Ini terjadi tidak hanya sukma atau ruhaninya saja, tetapi jasadnya pun dapat mengikuti.

Artinya, orang yang dapat moksa adalah mereka yang sudah berpindah tempat tinggal, baik jasad maupun ruhaninya, dari alam nyata duniawi ke alam gaib (dimensi lain). Tetapi disini mereka tidak bisa disamakan dengan wafat. Karena wafatnya seseorang merupakan satu fenomena yang lain lagi.

Moksa menjadi penting saat seseorang sudah menguasai keilmuan ruhani tingkat tinggi yang pada akhirnya ia harus menyatukan ruhani dan jasmaninya dengan alam semesta.

Artinya, memang sudah menjadi ketentuannya bahwa bila seseorang sudah mencapai derajat keilmuan yang tinggi, maka ia sebaiknya moksa. Tapi disini tetaplah hanya atas dasar keinginan sendiri, tidak bisa dipaksakan, karena sesuatu yang dipaksa atau terpaksa tidak akan membuahkan hasil yang baik bagi siapapun. Karena justru bisa mencelakakan dirinya saja.

Pilihan moksa ini bukanlah hal yang sepele dan mudah untuk di praktekkan oleh semua orang. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dan konsekuensi yang sangat mengikat kepada seseorang bila ia memutuskan untuk moksa. Tidak sembarang orang bisa memenuhi syarat dan bisa pula melakukannya. Ibarat seorang murid, maka ia harus melalui jenjang pendidikan yang bertahap.

Tujuan utama dari menguasai ilmu di setiap tingkatan itu adalah untuk bisa melatih kekuatan dan mengembangkan kemampuan diri seseorang. Karena ia haruslah kuat dan mampu secara jasmani maupun ruhani di dalam menghadapi segala tantangan yang lebih berat di masa yang akan datang.

Untuk itulah, karena pentingnya arti dari moksa ini, maka di dalam ajaran keyakinan atau agama khususnya di tanah Jawa, menjadi tahapan terakhir yang sebaiknya dilalui oleh seseorang dalam hidupnya. Sementara dikalangan tertentu, mengakhiri hidup fana dengan moksa, bahkan menjadi suatu kewajiban.

Adapun di antara tahapan menggapai tingkat moksa dalam tatanan orang jawa jaman dahulu yang mayoritas menganut agama Hindu disebut Catur Asrama yang dijabarkan sebagai berikut,

  1. Brahmacharya (tahap seseorang yang sedang mencari ilmu)
    Tahap ini merupakan satu tingkatan masa hidup untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dengan cara berguru. Disini tentu berkaitan erat pula dengan mendidik diri untuk bisa mencapai kesempurnaan pribadi. Jadi pada tahapan ini artinya, setiap orang itu harus menuntut ilmu demi kehidupan yang lebih baik, mulai dari ilmu yang bersifat jasmani (ilmiah, sastra, bela diri, dll) hingga yang terkait dengan urusan ruhaninya.

  2. Grahastha (tahap seseorang yang membangun rumah tangga)
    Tahap ini adalah tingkat hidup pada masa berumah tangga. Grahastha berasal dari kata “graha” yang berarti rumah tangga dan “stha” yang berarti berdiri atau membina. Jadi Grahastha dapat diartikan sebagai masa membina rumah tangga. Pada masa Grahastha ini, yang menjadi prioritas tujuan hidup adalah mencari harta benda dan memenuhi kebutuhan hidup termasuk menghasilkan keturunan, yang tentunya berdasarkan kebenaran. Sementara kewajiban yang harus ditunaikan pada masa ini adalah dengan bekerja mencari nafkah secara halal, menjadi pemimpin keluarga dan anggota keluarga yang bertanggung jawab, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh peduli juga kebersamaan.

Untuk itulah, disini berarti setiap orang itu khususnya laki-laki haruslah punya pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang cukup sebelum seorang membina rumah tangga. Karena hal itu menjadi salah satu yang utama demi keharmonisan hidupnya nanti.

  1. Wanaprastha (tahap seseorang yang menjadi pertapa atau telah meninggalkan kesibukan duniawi)
    Tahap ini adalah tingkatan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha berarti mengasingkan diri ke suatu tempat (hutan, gunung, lembah) yang jauh dari keramaian kota. Jadi, disini berarti seseorang tidak lagi berurusan dengan pangkat, jabatan dan harta benda duniawi. Jika sebelumnya ia punya jabatan, kedudukan atau harta benda yang berlimpah, maka di tingkatan ini semuanya itu sudah ia tinggalkan. Ia hanya fokus pada hal-hal yang bersifat kemanusiaan dan keTuhanan saja. Dan pada masa ini seseorang juga mulai secara bertahap melepaskan diri dari belenggu duniawi dan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Karena tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk bisa moksa. Untuk itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Rsi/Resi.

  2. Sanyasin atau Biksuka (tahap seseorang yang telah mencapai kesempurnaan hidup hingga pada akhirnya moksa)
    Tahap terakhir ini berada di atas tahap Wanaprastha, karena seseorang sudah tidak lagi berurusan dengan keduniawian. Ia hanya berfokus pada urusan yang berkaitan dengan alam tinggi (keTuhanan) saja. Namun jika ada urusan duniawi yang ia kerjakan, itu karena ia memang harus sedikit terlibat demi kemaslahatan orang banyak. Pada masa ini seseorang merasa sudah tidak memiliki apa-apa dan tidak terikat sama sekali dengan materi. Ia juga selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Siddharesi, Maharesi atau Brahmaresi.

Semua ini untuk dipegang erat dan di tanamkan di dalam sanubari orang-orang yang hidup di tanah pertiwi Nusantara bahkan dunia. Satu persatu aturan hidup tersebut, tentunya dapat diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari dan pada akhirnya bisa menimbulkan banyak kebaikan dan kegemilangan bagi sesama dan alam semesta.

Setelah seseorang bisa melalui tahapan-tahapan diatas, dengan benar dan sukses, maka ia baru bisa beranjak pada tujuan moksa. Karena hanya dengan begitulah ia baru akan mampu memenuhi syarat dan menunaikan tata cara moksa yang sungguhlah tidak mudah.

Lalu untuk bisa mencapai hal tersebut, maka seorang harus membekali dirinya dengan pengetahuan tentang Dzat (kenyataan) tertinggi. Adapun alur dari kenyataan tertinggi itu diantaranya,

  1. Rasa (…..dst)
  2. Roso (…..dst) dan
  3. Pewayangan(….dst)

Moksa seseorang haruslah dilatari dulu dengan pengetahuan tinggi suci tentang Dzat Yang Tertinggi yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa dan berbagai tata cara ritual yang kongkrit mengenai moksa.

Ini berkaitan erat dengan aspek yang mempermasalahkan sikap tubuh, menampakkan diri pada kata kunci sila(aturan dasar), dan perilaku batin yang tulus dan ikhlas. Untuk bisa moksa sendiri, maka tiada pilihan lain bagi seseorang kecuali ia harus melatih dirinya dengan banyak melakukan meditasi dan olah batin lainnya. Jadi, sebelum seseorang bisa moksa, maka ia harus menguasai berbagai ilmu yang dimulai dari tingkat Kanuragan hingga ke tingkat Kasapuhan, atau lebih baiknya lagi sampai di tingkatan Kasampurnan.

Selain itu, ada satu cara yang juga merupakan satu di antara cara dalam menempa diri. Cara itu disebut dengan membersihkan aliran Chakra dengan membangkitkan Kundalini.

Lalu apa itu kundalini?
Kundalini berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti lingkaran atau gulungan. Kundalini adalah suatu kekuatan yang luar biasa yang dimiliki setiap orang yang letaknya di perineum; yaitu, di antara anus dan kemaluan. Dalam keadaan tertidur, kundalini berbentuk sebuah gulungan tiga setengah lingkaran dibawah tulang ekor. Saat bangkit, maka kundalini akan merambat ke atas melalui tulang ekor dan tulang punggung untuk mencapai puncak kepala (mahkota).

Saat merambat ke atas, kundalini akan melakukan pembersihan-pembersihan dari seluruh hambatan dan karma akibat dari setiap interaksi dalam bentuk perbuatan ataupun pemikiran, termasuk yang berasal dari kehidupan di masa lalu.

Apabila kundalini mencapai sebuah pusat energi eterik (chakra), chakra tersebut akan terbuka, dan kemampuan psikis dari chakra tersebut mulai aktif. Proses kebangkitan kundaliniini bisa dikatakan sempurna setelah kundalini dapat membuka chakra mahkota. Sehingga jika ini bisa diteruskan, maka yang bersangkutan dapat mencapai pencerahan dengan sendirinya.

Baca Juga:  Rahasia Penempaan dan Tuah Keris, Justru Dapat Melestarikannya

Perlu diketahui bahwa Chakra berasal dari kata Sanskerta untuk “roda” atau “berpaling”. Dalam beberapa tradisi dan sistem kepercayaan lainnya, chakra ini merupakan pusat Prana atau akar kehidupan atau kekuatan hidup atau energi vital. Chakra akan sesuai dengan titik-titik penting dalam tubuh fisik yaitu pleksus utama arteri, vena, dan saraf. Karena itulah, membersihkan aliran chakra dan mengaktifkannya menjadi hal yang penting bagi kehidupan seseorang, khususnya demi kesehatan dan kekuatannya.

Jadi, pada saat seseorang membangkitkan kundalini-nya, itu artinya ia juga telah membuka satu persatu “pintu” chakra yang terdapat di dalam dirinya. Dengan bangkitnya kundalini, maka energi dari kundalini akan dapat dipergunakan untuk membersihkan jalur energi dan chakra-chakra secara menyeluruh. Dengan pembersihan yang maksimal pada jalur energi dan chakra-chakra, maka tubuh seseorang akan menjadi lebih bersih (sehat jasmani dan rohani), emosinya akan lebih terkontrol, kesadarannya akan terus meningkat dan hubungan kepada Tuhan akan jauh lebih baik (khusyuk).

Namun, pada saat inti kundalini mencapai chakra mahkota, energi inti yang naik masih kecil sekali sehingga energi kundalini yang dapat digunakan masih lemah. Meskipun energi kundalini yang dapat dipergunakan masih lemah, namun dapat membantu sedikit menyempurnakan kemampuan supranatural bagi orang-orang yang sudah mempunyai kemampuan tersebut. Bagi yang belum mempunyai kemampuan tersebut, ia harus melatihnya jika mempunyai keinginan untuk memilikinya. Dan kemampuan kewaskitaan (mata ketiga/mata batin) tidak tergantung dari kundalini, tetapi berasal dari latihan atau kekuatan batin sendiri.

Untuk itu, kemampuan dalam supranatural bermacam-macam dan harus dilatih satu persatu dengan objek meditasi yang berbeda sesuai dengan kemampuan supranatural yang di inginkan (terbang di udara, jalan di atas air, masuk ke bumi, hidup di dalam air, mengubah wujud, kemampuan mencipta, telepati, dll). Hanya saja jika kundalini seseorang sudah pada tingkat sempurna, maka pelatihan untuk kemampuan supranatural apa saja akan menjadi sangat mudah.

Perlu diketahui juga bahwa pada saat energi kundalini sudah selebar tubuh seseorang, barulah seluruh bibit kemampuan supranatural akan bangkit dengan sempurna. Dan untuk melatih sampai ke tahap sempurnanya kundalini, memerlukan waktu yang lama dan amat tergantung dari bakat dan latihan seseorang. Pelatihan kundalini harus diarahkan ke spiritual atau pencarian keTuhanan, tidak kepada tujuan untuk mengembangkan kekuatan supranatural, karena akan jadi berbahaya.

Sekali seseorang yang mempunyai kekuatan supranatural berbuat jahat maka, ia sangat mudah untuk lebih banyak berbuat jahat lagi. Sehingga pada dasarnya pencapaian dalam kesempurnaan kundalini, bukanlah pencerahan, tetapi baru pencapaian duniawi yang tertinggi dan harus dilanjutkan kepada pencapaian yang ada di luar duniawi atau sebuah pencerahan. Siapapun yang belum mencapai tingkat pencapaian luar duniawi (pencerahan), maka ia masih mempunyai ego. Jadi tidak benar bahwa jika inti kundalini seseorang sudah mencapai cakra mahkota maka ia pun telah mencapai pencerahan, karena hal itu bahkan masih awalnya saja.

Tidak sedikit orang yang rela meninggalkan kehidupan normalnya dan mengkhususkan diri dalam kehidupan spiritual. Mereka berusaha membangkitkan kundalini dengan melakukan berbagai latihan yang sungguh-sungguh. Orang-orang ini melakukan latihan-latihan teratur, salah satunya dengan meditasi dalam waktu yang cukup panjang sampai puluhan tahun. Dalam ajaran Islam orang-orang yang demikian dapat dikatagorikan sebagai orang sufi yang berkapasitas Jadab / menggila / membodoh.

Namun seperti diketahui, yang berhasil amatlah sedikit lantaran tujuan mereka hanya untuk kesaktian saja dan bukan mencapai Tuhan. Sehingga, orang-orang pada masa kini banyak yang menganggap bahwa kundalini pada masa silam itu hanyalah semacam legenda. Tetapi zaman pun telah berubah, dan nanti, di zaman yang baru, maka kebangkitan kundalini ini akan dapat dicapai kembali, bahkan dengan cara yang lebih mudah.

Apakah mungkin itu bisa terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin dalam hal ini. Hanya saja memang sangat tidak mudah untuk melakukannya, apalagi oleh orang-orang di zaman sekarang yang sangat senang dengan kenikmatan semu duniawi. Sebagai contoh, untuk bisa moksa maka orang-orang di zaman dulu haruslah terbiasa dengan yang namanya olah raga dan olah batin. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari, mereka itu sudah terbiasa dalam urusan puasa tirakat (mengurangi makan, minum, dan tidur) bahkan bertapa brata (tidak makan, minum dan bergerak/mematung) dalam waktu tertentu. Dan ini tidak dalam waktu setahun atau dua tahun saja, karena dulu banyak orang yang pernah melakukannya selama puluhan atau ratusan tahun. Bahkan, ada pula di antara mereka ini yang bertapa brata selama ribuan, jutaan bahkan milyaran tahun. Seorang yang demikian, dipercaya karena lamanya pertapaan hingga memiliki linuwih kesaktian yang luar biasa bahkan dari saking lamanya perrapaan, jasad mereka menyusut kecil, yang demikian disebut sebagai Bhatara Karang (BK).

Dengan kemampuan yang luar biasa itu, maka tidak perlu heran bila nenek moyang bangsa Nusantara itu dulunya pernah membangun peradaban yang besar, salah satunya yang dikenal kini dengan bangsa Atlantis. Bahkan oleh sebab kesaktian yang luar biasa itu maka, nenek moyang bangsa Nusantara pada akhirnya justru di sembah-sembah oleh banyak manusia – khususnya bangsa di belahan bumi lainnya (Yunani, Norwegia, India, Mesir, Persia, China, Amerika, dll) layaknya Tuhan sendiri.

Selain itu, cara dalam bertapa brata ini pun bermacam-macam. Ada yang dengan posisi duduk bersila, berdiri, berdiri kaki satu, berbaring, menggelantung (kaki di atas sementara kepala di bawah), atau bagi yang sudah sakti mandraguna bahkan ia bisa mengapung di laut atau mengambang di udara. Tempatnya juga beraneka macam. Ada yang di gunung, di hutan, di dalam goa, di dekat air terjun, di dalam air (menyelam di sungai, danau atau lautan) dan di dalam tanah (di kubur hidup-hidup). Semua itu di lakukan untuk terus mengasah kemampuan diri dan mencapai satu tujuan tertentu.

Perlu di jelaskan sedikit tentang tapa brata (semedhi) Ini, adalah satu tindakan dari seseorang dalam mengendalikan diri dengan menenangkan jiwa dan fikiran guna menghilangkan kebiasaan buruk dirinya sehari-hari. Jika biasanya ia akan makan, minum dan beraktifitas secara normal, maka pada saat bertapa brata ia tidak lagi melakukan itu semua. Ia hanya akan berdiam diri di satu tempat, tidak makan dan minum, bahkan tidak bergerak sama sekali dalam waktu tertentu.

Lalu bagaimana tubuhnya bisa bertahan tanpa ada makan dan minum? Maka itu bisa saja terjadi karena memang sebelumnya ia sudah melatih fisiknya untuk bisa menyerap energi yang terdapat di alam untuk bisa masuk ke dalam tubuhnya dan menjadi kekuatan (daya hidup). Disini tentunya ada teknik khusus dan kunci rahasianya.

Selain itu, pada saat semedhi dengan benar, maka suatu saat seseorang akan merasakan seolah badannya tidak bernapas dan indera perasa tidak merasakan sesuatu apapun, namun ia sadar bahwa dirinya tetaplah hidup. Pada tahap ini kadang terdengar suara-suara (gaib) yang terasa asing dan aneh. Suara-suara tersebut berasal dari dimensi lain, yang tetap bersumber dari dalam diri. Itu terjadi karena kesadarannya telah berada di ambang batas antara dunia nyata dengan dunia gaib (alam bawah sadar). Suara-suara tersebut bukanlah sengaja mengganggu, karena justru menunjukkan bila dirinya sudah mulai berhasil mengubah dirinya menjadi “radio transistor”. Bahkan, jika lebih khusyuk lagi, maka ia bisa juga melihat sosok-sosok yang berada pada dimensi lainnya yang selama ini tidak bisa dilihat dengan kasat mata dan juga bisa berkomunikasi dengan mereka. Nah, pada tahap ini terkadang ia bisa menangkap petunjuk-petunjuk yang berasal dari para leluhur (orang yang telah moksa).

Baiklah. Tapi ada satu pertanyaan terkait penjelasan di atas. Bagaimana bisa seseorang itu hidup dalam waktu ratusan, ribuan, jutaan bahkan milyaran tahun seperti Batara Karang?

Ini memang terkesan mengada-ada dan tidak masuk akal. Terlebih jika dikaitkan dengan logika, maka sangat bertentangan dengan disiplin ilmiah pada umumnya. Namun bukannya hal tersebut mutlak tidak dapat di bongkar secara logika dan ilmiah karena, pada prinsipnya selama masih terlintas dalam fikiran manusia, tentulah pasti ada pemecahan logikanya. Hanya saja, ketika nalar logika sudah tidak menjangkau, berarti usaha kitalah yang terbatas untuk menggapainya.

Baca Juga:  Mengenal Tuhan Melalui Tahapan Dari Tuhan Pula

Hal ini karena Karena ilmu Tuhan itu sangatlah luas, baik sifat ataupun cakupannya. Manusianya saja yang senang mengkotak-kotakkan dan membatasinya berdasarkan apa yang mereka anggap benar. Padahal ilmu Tuhan itu tidak bisa dibatasi, karena ia tidak pernah terbatas.

Jadi, dalam hal ini maka tidak ada yang aneh dengan waktu ratusan bahkan milyaran tahun. Itu semua terjadi karena memang bagi siapa saja yang bertapa brata dengan cara yang benar maka, umurnya akan bertambah panjang dengan sendirinya, atau lebih tepatnya jadi terhenti ruang dan waktunya. Dan jika ia terus melanjutkan pertapaannya itu, maka umurnya akan terus mengikutinya atau bisa pula dikatakan berhenti (tidak berkurang). Ia tidak akan mati sebelum ia bisa menyelesaikan pertapaannya (mati di tengah jalan). Kecuali memang ada faktor-faktor lainnya yang merupakan bagian dari sesuatu yang ia langgar dalam pertapaannya itu. Misalnya, selama bertapa, maka pada saat ia dalam keheningannya itu, sukma-nya melakukan pengembaraan ke dimensi lain dan bertemu dengan sosok-sosok gaib yang ada disana. Lalu dengan sosok-sosok tersebut ia pun berseteru dengan sengit sehingga menyebabkan dirinya terluka parah dan akhirnya tewas. Nah dalam hal ini, maka karena sukma-nya sudah “terluka dan tewas”, maka dirinya (jasad) yang ada di alam nyata duniawi pun akan mengalami suatu kegawatan, bahkan bisa ikutan tewas. Sehingga pertapaan yang sedang dikerjakan pun menjadi gagal total, karena yang bersangkutan telah tewas ketika dalam pengembaraan sukmanya di alam gaib.

Selain itu, bahkan beberapa di antaranya ada yang ketika melakukan tapa brata – baik jasad dan sukmanya justru menghilang dan berpindah tempat. Keseluruhan dirinya (jasmani dan ruhaninya) berpindah ke dimensi lain dengan sendirinya, yang disana tidak terikat lagi dengan ketuaan dan kematian. Disana ia akan melakukan pengembaraan sampai batas waktu yang di tentukan atau yang dia inginkan. Hingga pada akhirnya ia pun memang harus kembali ke dunia nyata karena harus menuntaskan semua pertapaannya sejak awal.

Tapi perlu diketahui juga disini bahwasannya sangat tidak mudah untuk bertapa brata. Diperlukan fisik dan jiwa yang mapan, karena akan ada banyak sekali tantangan, halangan dan godaannya. Tidak hanya kondisi alam dan ganguan dari makhluk halus saja, karena di beberapa kasus yang pernah terjadi di masa lalu justru para dewa dewi kahyangan sering “menganggu” seorang pertapa, dengan tujuan untuk menggagalkan pertapaannya. Dan itu sengaja mereka lakukan karena merasa jika orang yang bertapa itu bisa berhasil mencapai tujuannya, maka akan mengganggu kedudukan kedewaan mereka. Mereka sangat tidak ingin ada yang menyaingi kemampuan mereka sebagai dewa di kahyangan. Mereka takut itu terjadi, sehingga berusaha menggagalkannya dengan berbagai cara. Di antaranya dengan menggoda si pertapa melalui kecantikan seorang dewi dan lainnya. Sehingga memanglah bertapa brata itu tidak mudah dan hanya berlaku untuk mereka yang sudah siap lahir dan batinnya saja. Seseorang harus lebih dulu membekali dirinya dengan banyak kemampuan raga dan batin. Karena bila tanpa hal itu, maka sudah bisa dipastikan seseorang akan gagal total, bahkan sebelum memulainya.

Jadi, inilah salah satu karunia terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka yang bertapa brata. Yaitu umurnya akan otomatis berubah panjang atau lebih tepatnya dikatakan berhenti selama ia melakukan tapa bratanya. Dan ini memang sulit untuk diterima akal, karena hanya bisa dibuktikan jika seseorang sudah melakukannya sendiri. Sebagaimana yang di lakukan oleh orang-orang sakti dimasa lalu.

Baiklah jika begitu. Lantas apa yang terjadi bila seseorang moksa ?

Perlu diketahui bahwa di dalam waktu itu setidaknya ada 100 lapisan dimensi, salah satunya adalah dimensi alam nyata duniawi; tempat manusia, hewan dan tumbuhan. Setiap dimensi telah dihuni oleh berbagai jenis makhluk yang berbeda-beda. Mulai dari yang sudah diketahui oleh manusia hingga pada yang tidak pernah diketahui oleh kebanyakan dari mereka. Sebagai contoh, setiap manusia, hewan dan tumbuhan itu tinggal pada dimensi yang pertama (alam nyata duniawi) yang disebut dengan Arsyasyi, sedangkan sebagian dari bangsa jin berada di lapisan yang kedua yang disebut dengan Martayasyi. Bangsa peri berada di lapisan yang ke tujuh yang disebut Ramatasyi atau juga yang berada di lapisan dimensi ke sembilan yang disebut dengan Samsyi. Sedangkan bangsa naga berada di lapisan dimensi ke lima yang disebut dengan Nilbati. Setiap dari mereka ini telah ditentukan seperti itu sejak awal kehidupan. Tetapi bagi yang mengetahui rahasianya dan atau yang mau melakukannya, maka manusia, jin, peri dan naga bisa saja memasuki atau berpindah tempat ke dimensi lainnya. Disana mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan lebih leluasa. Tetapi disini dibatasi hingga pada lapisan yang ke 56 saja, karena mulai dari yang ke 57 sampai yang ke 100 adalah tempat khusus bagi para malaikat dan yang sejenisnya.

Jadi, moksa itu akan terjadi dalam dua tahapan. Pertama, ketika hendak moksa, maka terlebih dulu seseorang akan membagi dirinya menjadi dua. Diri yang pertama akan tetap tinggal di alam dunia nyata selama beberapa waktu, sedangkan yang kedua telah lebih dulu berpindah tempat ke dimensi lainnya, tepatnya yang berada di lapisan ke tiga yang disebut Galatasyi. Kedua, antara 1-3 tahun, barulah diri seseorang yang masih berada di alam nyata duniawi akan ikut berpindah ke dimensi ketiga (Galatasyi) untuk segera bisa menyatu kembali dengan dirinya yang lain. Penyatuan ini bisa terjadi seketika saat keduanya bertemu. Kapan waktunya dimulai? Semua proses moksa dimulai setelah ia sudah bisa melihat ketika masih di alam nyata duniawi sebuah pintu dimensi yang berwarna putih bercahaya, yang itu hanya disediakan bagi mereka yang akan moksa.

Selanjutnya, mereka yang sudah bisa berpindah tempat ke dimensi ketiga (Galatasyi) inilah yang akhirnya dikatakan telah moksa. Disana ia akan hidup tidak jauh berbeda dengan apa yang ia lakukan di dunia nyata. Hanya saja apa yang ia lakukan disana sudah tidak lagi semata-mata untuk urusan perut dan dibawah perutnya saja. Artinya, kebiasaan buruk yang melekat pada manusia di dunia nyata, seperti gandrung dengan urusan meteri, tidak lagi ia lakukan. Karena memang itulah salah satu tujuan utama mengapa seseorang memilih untuk bisa moksa. Yaitu meninggalkan kesenangan duniawi yang sebenarnya menipu untuk meraih kesenangan dan ketenangan yang sejati.

Lantas apa lagi yang terjadi bagi mereka yang moksa itu?

Pada dimensi yang ketiga, seorang yang tadinya moksa lalu diberikan pilihan untuk tetap tinggal disana atau berpindah ke dimensi lainnya. Tentunya semua itu dengan beberapa syarat dan harus berdasarkan kemampuan diri dari yang bersangkutan. Semakin “sakti”, maka ia pun bisa menjelajahi lebih banyak lapisan dimensi, bahkan sampai yang ke 56.

Selain itu, apa saja yang mereka lakukan disana?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa kehidupan pada dimensi ketiga atau yang lainnya itu pada dasarnya hampir sama dengan yang ada di atas muka Bumi ini. Ada padang rumput, hutan, gunung, air terjun, sungai, danau, lautan, langit, awan, hujan dan sebagainya. Semuanya tidak jauh berbeda dengan yang ada di alam nyata duniawi, hanya saja disana wilayahnya jauh lebih luas dan kondisinya terasa lebih indah dan menyenangkan. Bahkan ada beberapa dimensi yang kondisinya tidak bisa lagi dibandingkan dengan kondisi di Bumi ini, karena memang sangat berbeda, saking indahnya.

Jadi, orang-orang yang moksa akan sangat bahagia dalam hidupnya. Mereka juga bisa melakukan apa saja dan kemana saja yang mereka inginkan tanpa alat bantu dan kendaraan, bahkan hanya dalam waktu sekejab mata. Sesama mereka juga bisa bersosialisasi dengan berbincang-bincang atau berdiskusi tentang banyak hal termasuklah tentang apa saja yang sedang terjadi di alam dunia nyata secara langsung tatap muka atau dari jarak jauh (telepati). Tidak ada bahasa yang akan membatasi mereka disana, karena setiap orang bisa berbicara dalam semua bahasa yang ada meskipun mereka berbeda bangsa dan ras.

Baca Juga:  Bukit Pecaron Dan Kisah Cinta Syekh Maulana Ishaq

Begitu pula dengan sandang, pangandan papan bukanlah hal yang pokok bagi mereka semua. Tetapi jika mereka menginginkannya, maka mereka akan melakukannya.

Disana tidak ada batas negara dan tidak pula ada pemimpin. Semua orang memiliki hak yang sama, tidak ada yang bisa menindas atau pun mencela orang lain. Terlebih masalah kepercayaan atau agama, maka siapapun memiliki keyakinannya sendiri. Setiap orang akan melakukan ibadah sesuai pula dengan keyakinannya masing-masing. Hanya saja memang beberapa di antara mereka ada yang tetap menjalankan dakwah Islami, sebagaimana yang telah ia lakukan di alam nyata duniawi dulu. Mereka ini biasa disebut Waliyullah. Dan mengapa ini bisa terjadi? Karena disana masih banyak pula yang belum mengenal atau menyakini Islam dan kebenarannya. Sehingga mereka ini (para wali) ditugaskan untuk memberi tahu tentang hakekat Islam, dengan harapan ada yang tertarik untuk mengikutinya dengan penuh kesadaran, tanpa ada paksaan.

Lalu apakah hanya itu saja yang mereka lakukan?

Tentu tidak. Karena selain beraktifitas disana, terkadang mereka ambil bagian di dalam urusan dunia nyata. Ini biasanya untuk membantu manusia yang masih hidup di dunia nyata saat mereka sedang kesulitan, khususnya jika itu di alami oleh keturunan mereka.

Sebagai contoh, pada masa periode zaman Dirgantara sampai pada masa awal zaman kita sekarang (sebelum Masehi), mereka yang moksa ini – khususnya para resi atau pun dewa-dewi– beberapa kali muncul ke alam dunia nyata untuk membantu para manusia. Mereka ini biasanya memberikan beberapa petunjuk yang harus dilakukan oleh seseorang agar ia bisa mencapai keinginannya. Dan biasanya ini berkaitan dengan masalah kerajaan atau pun membangun sebuah kerajaan baru. Dengan bantuan dari para resi ataupun dewa-dewi ini dan tentunya atas izin dari Tuhan, maka segala urusan bisa terselesaikan atau tercapai dengan sukses.

Jadi, karena mereka ini dulunya adalah manusia bahkan pernah mengalami hal yang serupa, maka tidak jarang pula mereka pun mau membantu manusia yang masih hidup di alam nyata duniawi. Terlebih kepada anak cucunya sendiri, maka tidak ada kata tidak mau. Hanya saja memang tidak mudah untuk bisa melakukan hal itu. Terlebih saat manusia yang tinggal di dunia nyata tidak lagi mau melakukan olah batin (semedhi, tapa brata). Karena hanya dengan cara itulah keduanya bisa berkomunikasi, bahkan bekerja sama. Tanpa hal itu, maka tidak akan bisa, sebagaimana yang sudah terjadi sekarang ini. Dan itu pula yang menjadi salah satu penyebab mengapa bangsa ini sulit untuk bangkit dan memimpin dunia seperti dulu, seperti pada masa jauh sebelum Masehi. Karena tidak lagi mendapatkan bantuan dan masukan dari para leluhur yang sangat hebat namun telah moksa.

Jadi orang yang moksa ini berarti tidak pernah mati?

Bisa dikatakan demikian. Tetapi disini perlu dipahami juga bahwa orang yangmoksa itu bukan berarti ia akan hidup selamanya. Mereka hanya tidak mengalami kematian sebagaimana umumnya manusia di dunia. Mereka tidak pula di datangi oleh malaikat pencabut nyawa untuk di ambil nyawanya, namun mereka ini tetap akan mati di suatu saat nanti. Hanya saja waktunya tidak sekarang, melainkan nanti bersamaan dengan datangnya Hari Kiamat. Saat dimana semua makhluk yang ada di alam semesta ini dihancurkan dan binasa.

Jika begitu, maka orang yang moksa ini bisa diartikan sebagai sosok yang umurnya ditangguhkan?

Benar. Mereka yang moksa ini adalah pribadi yang telah ditangguhkan umurnya hingga datangnya Hari Kiamat. Begitulah kehendak Tuhan, dan ini tidak berlaku bagi semua makhluk yang ada di muka Bumi. Karena hanya khusus untuk kalangan yang sudah tahu rahasianya dan mampu melakukannya saja. Yang orang sekarang menyebutnya dengan istilah mengetahui “rahasia kehidupan abadi”.

Lalu apa rahasianya itu?

Maaf. Dalam hal ini saya tidak bisa menjelaskannya. Namanya juga rahasia, tentunya hanya bagi kalangan tertentu saja ia bisa diberikan. Itupun harus secara langsung kepada yang bersangkutan, setelah melihat apakah ia mau dan mampu melakukannya. Karena sekali lagi ini bukanlah hal yang sepele dan mudah untuk di lakukan oleh semua orang, terutama yang masih terikat dengan kesenangan semu duniawi ini. Selalu hanya bagi kalangan terbatas dan yang mampu saja.

Wahai saudaraku. Banyak hal yang telah menjadi rahasia di dunia ini. Di muka Bumi, bahkan saat kini banyak hal yang telah menjadi bagian dari mitos dan dianggap tak terpisahkan dengan khayalan. Padahal banyak di antara mitos atau pun legenda itu berawal dari sebuah fakta di masa lalu. Namun karena lamanya waktu yang terlalui, maka perlahan ia menjadi legenda lalu mitos dan khayalan. Untuk itulah, semua yang mitos maupun legenda menurut anggapan orang sekarang perlahan-lahan akan muncul kembali di tengah-tengah kehidupan kita. Semua itu terjadi, sebagai pertanda bahwa perang kosmik akan segera terjadi di akhir zaman ini. Untuk mengawali kedatangan zaman yang baru.

Lalu dari semua penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa moksa itu adalah bagian dari mitologi agama. Karena moksa sendiri adalah salah satu karunia terbesar dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada umat manusia agar ia bisa menjalani kehidupan lain pada dimensi yang lainnya. Dimana disana sudah tidak lagi terikat dengan ketuaan dan kematian kecuali kiamat. Tetapi dalam hal ini ia tidak pernah di paksakan dan tidak pula mudah untuk ditunaikan.

Karena moksasendiri hanyalah sebagai satu pilihan yang bisa diambil oleh seseorang dalam hidupnya. Sehingga lebih baik untuk tidak diwajibkan bagi siapapun khususnya di masa kini. Tapi bagi yang mau dan mampu, ya silahkan saja, karena itu adalah pilihan hidup pribadi.

Sungguh tidak mudah untuk moksa dan tidak semua orang bisa berhasil melakukannya. Ia hanya diperuntukkan bagi mereka yang sebelumnya telah melakukan latihan yang keras, baik raga maupun batinnya. Tujuannya tiada lagi selain hanya untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang sejati. Maka dari itulah, orang-orang yang mulia, yaitu para Nabi dan Rasul, meskipun mereka tahu namun tidak pernah mengajarkan secara luas tentang hal ini kepada umatnya. Mereka berbuat seperti itu karena khawatir bisa memberatkan dan menyengsarakan umatnya saja terutama bagi yang lemah fisiknya.

Terlebih dalam hal ini sesungguhnya moksa sendiri bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan ketenangan yang sejati (pencerahan). Ada cara lainnya yang lebih mudah dan termaktub di dalam ajaran Tuhan, yaitu mengamalkan ajaran agama yang ada di dalam kitab suci para Rasul terdahulu dan tentunya Al-Qur`an dan Sunnah dengan benar dan bersungguh-sungguh.

Dan perlu diingat! bahwa apa tujuan sebenarnya dari usaha menguasai ilmu atau bahkan moksa itu? Apakah tujuan dalam melatih diri itu hanya untuk mencari kekuatan supranatural atau mencari Tuhan? Jika seseorang hanya sekedar mencari kekuatan supranatural, maka ia akan mendapatkannya dan selesailah sampai disitu saja. Namun jika tujuannya adalah untuk mencari Tuhan, maka ia akan mendapatkan Tuhan. Dan ketika ia bisa mendapatkan Tuhannya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan segalanya dalam kehidupan ini, bahkan tanpa harus moksa.

Sehingga janganlah menyia-nyiakan waktu hanya untuk sekedar melatih kemampuan-kemampuan supranatural yang pada akhirnya hanya untuk memperbesar ego dan menambahkan sifat keduniawian semata. Boleh saja mengasah kemampuan diri (lahir batin) dan itu sangat baik bagi kehidupan kita. Tetapi carilah Tuhan, karena itulah yang utama dan hanya dengan itu pula siapa pun bisa mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang sejati (pencerahan). Inilah prinsip yang sejalan dengan hakekat dari moksa (pelepasan jiwa) itu sendiri atau jiwa yang telah merdeka dan bebas dari belenggu duniawi. Yang pada akhirnya bisa kembali kepada Tuhan dengan selamat. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here