Filosofi Blangkon, Jagad Alit Jagad Gedhe

0
1423

Blangkon bukan hanya sekedar pemanis tutup kepala, akan tetapi Blangkon juga memiliki filosofi tinggi, sekaligus merupakan simbol status bagi pemakainya. Nah kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit mengupas makna dan filosofi garis besar dari blangkon dan udeng.

Istilah blangkon sendiri, berasal dari kata ‘blangko’, dipakai untuk merujuk pada sesuatu yang siap pakai. Sebab, awalnya penutup kepala ini memang tidak bisa langsung dipakai begitu saja. Melainkan diikat melalui proses pembuatan simpul yang cukup rumit sehingga, layak untuk dipakai.

Masing-masing daerah di Nusantara ini, memiliki blangkon dengan ciri khas yang berbeda. Tekstur dan motif blangkon gaya Yogyakarta misalnya, berbeda dari blangkon Jawa Tengah, Solo, ataupun Jawa Barat.

Terkait blangkon Solo dan Jogja, ada perbedaan ciri fisik sekaligus filosofi yang cukup menarik.

1. Bentuk dan Makna Blangkon Yogyakarta

Blangkon Jogja

Blangkon gaya Jogja memiliki gelungan atau mondolan di bagian belakang. Pasalnya, jaman dulu para kaum pria Jogja cenderung memanjangkan rambut. Sehingga ketika diikat, rambut panjang perlu digelung ke atas dan dibungkus ikatan kain. Kemudian berkembanglah menjadi blangkon yang sekarang.

Mondolan juga erat kaitannya dengan filosofi orang Jawa yang diharapkan pandai menyimpan rahasia. Tidak mudah membuka aib, baik aib diri sendiri maupun orang lain. Halus dalam berbicara dan bertingkah laku lembut serta berhati-hati sebagai wujud keluhuran budi pekerti.

Orang yang bijak akan mampu tersenyum dan tertawa meskipun hatinya menangis. Ia hanya memikirkan bagaimana berbuat baik terhadap sesama, meski diri sendiri menjadi korbannya.

2. Bentuk dan Makna Blangkon Solo

Blangkon Solo

Dikarenakan pengaruh Belanda, masyarakat Solo lebih dulu mengenal cukur rambut. Bahkan mengenal jas bernama beskap, yang asal katanya sendiri adalah beschaafd (berkebudayaan/ civilized).

Baca Juga:  Bukit Pecaron Dan Kisah Cinta Syekh Maulana Ishaq

Blangkon gaya Surakarta tidak memiliki tonjolan di bagian belakang. Melainkan terjalin dengan mengikatkan dua pucuk helai kain di bagian kanan dan kiri. Makna blangkon dalam hal ini adalah sebagai simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gedhe (makrokosmos).

Blangkon mengisyaratkan jagad gedhe, sedangkan kepala yang ditumpanginya mengisyaratkan jagad alit. Sebab dalam peranan manusia sebagai khalifah, kita membutuhkan kekuatan Tuhan. Blangkon menyimbolkan kekuatan Tuhan yang diperlukan bila manusia ingin menjalankan tugasnya untuk mengurus alam semesta.

Karena itulah, jaman dulu orang Jawa umum memakai blangkon. Sebab mereka sadar bahwa mereka bukan sekedar hamba Tuhan. Tetapi juga khalifah yang bertugas di bumi.

3. Makna Udeng Bali

Udeng Bali memiliki simbol sebagai “ngiket manah” (memusatkan pikiran) yang merupakan sumber penggerak panca indera.Tiap-tiap lekukan udeng bali sejatinya memiliki makna.

Lekuk dikanan lebih tinggi daripada di kiri, yang berarti hendaknya kita lebih banyak melakukan hal yang baik (dharma) dari pada berbuat buruk (adharma).

Ikatan di tengah–tengah kening bermakna memusatkan pikiran kita terhadap duniawi saat menghadap sang pencipta. Sementara ujung yang mendongak ke atas melambangkan pemikiran lurus ke atas untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa.

Udeng Bali, juga memiliki simbol Ketuhanan umat Hindu yang menyatukan Tri Murti dalam simpul “nunggal”. Pada sisi ini, tarikan kain juga membawa perlambang Trimueti.

Tarikan ujung kain kanan melambangkan Wisnu. Tarikan ujung kain kiri melambangkan Brahma, sementara ujung kain di atas yang ditarik ke bawah melambangkan Siwa.

Demikianlah sekilas filosofi makna blangkon dan udeng yang sangat arif dan menjadi kekayaan murni Nusantara. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here