Asal Usul Warok Ponorogo dan Titah Upeti Brawijaya V

0
1976

Pada sekitar abad ke XV, kademangan Wengker yang kini menjadi kota Ponorogo masuk dalam kekuasaan Majapahit. Dimana kala itu penguasa agung dari Majapahit dipimpin oleh Prabu Brawijaya ke V.

Wengker, yang kala itu dipimpin oleh seorang demang yang sakti mandraguna bernama Ki Ageng Suryongalam atau Ki Ageng Kutu karena tinggal di desa Kutu- Jetis. Sebagai negeri bawahan, Wengker sangat makmur dan harusnya selalu dapat membayar pajak atau Upeti pada Majapahit.

Akan tetapi Ki Demang Ageng Kutu agak mbelot dan sudah beberapa tahun tidak mau menghadap dan kirim upeti. Akibat hal itu, pasti saja Sang Raja geram dan segera menyuruh utusan untuk mengklarifikasi hal tersebut.

Kebetulan saat itu yang diutus oleh Brawijaya V adalah putranya sendiri yaitu Pangeran Lembu Kanigoro. Singkat cerita, segera Sang Pangeran berangkat menuju ke Wengker. Sebelum sampai ke Wengker, rupanya Pangeran Kanigoro berkunjung dahulu di tempat kakaknya yaitu Raden Patah yang sudah menjadi Sultan di Demak.

Dalam kunjungnnya ke Demak, Pangeran Lembu Kanigoro sempat belajar tentang berbagai ilmu termasuk taktik perang dan agama Islam. Saat belajar Lembu Kanigoro, termasuk Pangeran pintar dan cepat menyerap pelajaran. Setelah memeluk agama islam Lembu Kanigoro berganti nama menjadi Bethoro Katong atau Raden Katong. Setelah itu, Raden Katongpun meneruskan perjalanannya ke Wengker ditemani abdi bernama Selo Aji.

Setelah tiba disana, kebetulan bertemu dengan seorang muslim taat yang bernama Ki Ageng Mirah. Dari situ Raden Katong menyusun strategi untuk bertemu dengan Ki Ageng Kutu dengan baik-baik. Saat maksud disampaikan, Ki Ageng Kutu tetap saja menolak dan malah melawan utusan ini.

Singkat cerita, akibat ulah tak bersahabat dari Ki Ageng Kutu, akhirnya terjadilah perang tanding adu kesaktian diantara keduanya. Dalam adu tanding tersebut, Raden Katong megalami kekalahan dan berpura – pura mendukung gerakan Ki Ageng Kutu. Dalam masa yang tidak begitu lama, Raden Katong berhasil menikahi puteri pertama Ki Demang yang bernama Niken Sulastri. Disinilah akhirnya Raden Katong mendapat bocoran pengapesan dari Ki Demang. Dimana sang Demang hanya dapat dibunuh dengan pusaka saktinya Kyai Puspitorawe.

Pintas cerita, segeralah Raden Katong membunuh Ki Demang dengan cara mengambil pusaka saktinya Kyai Puspitorawe yang ditikamkannya.

Kembali ke belakang, pada saat Ki Ageng Suryongalam (Ki Ageng Kutu) menjadi Demang di daerah Wengker, beliau kerap mendirikan perguruan-perguruan kanuragan. Dimana beliau sendiri yang mengajarkan ilmu-ilmu kesaktian dan kebatinan pada muridnya. Banyak dari murid – muridnya rata-rata menjadi tokoh sakti mandraguna. Hal itu dikarenakan ilmu yang diajarkan Ki Ageng sangatlah langka dan wingit. Dalam ajarannya, siapa yang mampu bertapa brata dan menghindari perempuan maka akan sempurna ilmu kesaktiannya.

Setelah Ki Ageng Kutu ini kalah dari Raden Katong (menantunya) dan mangkat, segenap pengikut juga murid-muridnya dikumpulkan oleh Raden Katong dan diarahkan untuk menjadi Manggala Negeri. Demikian juga dengan tempat-tempat perguruan tersebut dijadikan tempat untuk menggembleng para pemuda, guna menjadi satria-satria untuk pertahanan daerah yang baru didirikan yaitu Bumi Ponorogo. Dimana Raden Bethoro Katong menjadi Bupati pertamanya.

Para manggala sakti inilah yang pada akhirnya disebut Warok yaitu, para satria yang patriotik untuk belo negeri dan berbudi luhur, berwatak jujur, bertanggung jawab, rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Suka bekerja keras tanpa pamrih, adil dan tegas, banyak ilmu, kaweruh luhur dan tentunya sakti mandraguna.

Berbicara tentang warok tentu saja sangat luas, seluas kultur budaya Ponorogo itu sendiri. Warok merupakan kebanggaan masyarakat Ponorogo dan memang begitulah pada dasarnya watak karakter dan jiwa yang dimiliki oleh masyarakat Ponorogo dan sudah mendarah daging.

Merujuk sejarah Warok itu berpenampilan sangar, kumis dan jenggotnya lebat brewok, pakaiannya serba hitam, baju potong gulon, celana panjang hitam lebar memakai kain bebet (batik latar ireng) tutup kepala udeng dengan mendolan, dan ini yang menjadi ciri khas usus-usus (tali kolor) warna putih panjang dan besar menjulur sampai kaki. Karena itulah masyarakat sangat mengidolakan keberadaan Warok tersebut, maka untuk uri-uri budoyo timbullah yang namanya Warokan, yang kurang lebihnya adalah tiruan dari penampilan warok dahulunya.

Warokan yang sering kita lihat pada setiap pertunjukkan Reyog dimanapun pasti ada sosok Waroknya, yang biasannya ada Warok muda dan Warok tua. Bahkan, pada saat baik, grebeg suro, tidak hanya di Ponorogo bahkan, hampir seluruh manca nagari sampi saat ini, semua unsur masyarakat sepertinya berkewajiban memakai busana Warokan tersebut. Hal ini tentulah berdampak baik bagi lestarinya budaya murni Nusantara yang tidak akan mudah punah dan tetap mwndarah daging pada anak cucu bangsa, hingga akhir masa. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here