Keris Kyai Carubuk, Manifestasi Pulung Bagi Sang Calon Pemimpin Negara

0
1608

Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, disebut -sebut memiliki beberapa piandel pusaka sakti, salah satunya adalah Keris Kiai Carubuk. Dimana, keris tersebut merupakan salah satu senjata sakral yang hingga sekarang dipercaya masih tersimpan di makam beliau.

Konon, keris ini memiliki energi kesaktian yang sangat istimewa yaitu, menjadi simbol pulung (restu sang pencipta) bagi setiap calon pemimpin Negara. Dimana, sosok calon pemimpin tersebut akan duduk di tahtanya mana kala di datangi atau minimal mendapat wangsit/mimpi terkait keris tersebut. Terkait kebenaran hal ini marilah kita bersama mempercayakan segalanya hanya kepada sang pencipta belaka.

Lalu bagaimana asal – usul terciptanya keris Kyai Carubuk ini…? Mari kita simak hasil galian keterangan sejarah dari beberapa sumber terkait.

Dikisahkan dalam sebuah cerita masyarakat dimana, Sunan Kalijaga saat itu meminta tolong kepada sahabatnya Mpu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebilah pisau semi pedang yang akan digunakan sebagai penyembelihan kambing.

Guna mempermudah pemesanannya itu, Sunan Kalijaga membawa sendiri bahan mentah besi bakal pisau yang dipesannya. Namun, tak sewajarnya bahan mentah yang diberikan pada mpu Supa, akan tetapi hanya berupa biji besi yang ukurannya tidak lebih sebesar biji asam jawa.

Saat melihat besi mentah yang disodorkan Raden Sahid, Mpu Supa terkejut karena besi yang ukurannya kecil itu mana mungkin cukup dibuat sebilah pisau semi pedang yang ukurannya lumayan besar.

Tidak berhenti disitu terkejutnya, saat mpu Supa menerima bahan mentah dari Sunan Kalijaga ternyata, biji besi tersebut memiliki bobot yang sangat berat dan tidak wajar. Maklum saja, meski bentuknya sangat kecil namun beratnya diperkirakan puluhan bahkan ratusan kilogram.

Merasakan beratnya biji besi itu, pada mulanya mpu Supa sudah masam muka dan tidak yakin dapat menyelesaikan pesanan sang Sunan.

Akan tetapi Sunan Kalijaga yang dapat membaca kegelisahan mpu Supa, langsung meyakinkan sahabatnya itu bahwa, besi bakal pisau tersebut, hanya bentuknya saja yang kecil tetapi sebenarnya besarnya seperti gunung.

Usai meyakinkan mpu Supa dan atas seijin sang pencipta, seketika besi yang sebesar biji asam Jawa itu tampak menjelma jadi sebesar gunung di mata mpu Supa.

Melihat hal itu bukannya mpu Supa menjadi tenang, malah sebaliknya menjadi tambah gugup. Namun perlahan sang mpu menyadari bahwa, Raden Sahid sahabatnya itu merupakan seorang wali yang dikasihi sang pencipta kehidupan.

Dari kesadaran itulah, perlahan mpu Supa dapat mengendalikan perasan gugupnya dan meminta penuntunan hidup menuju keyakinan yang hakiki kepada Sunan Kalijaga.

Singkat cerita, usai kejadian penuntunan Kalijaga terhadap mpu Supa, disanggupinyalah pesanan itu sesuai dengan alur keilmuannya dalam memande besi. Melihat mpu supa sudah stabil perasanya Raden Sahidpun bergegas pamit melanjutkan perjalanan dakwahnya.

Entah berapa lama mpu Supa menggarap besi ajaib dari Raden Sahid tersebut hingga selesai, yang jelas bukan dengan waktu yang singkat. Dari saking lamanya, Sunan Kalijaga hampir lupa bahwa dirinya pernah memesan sebilah pisau pada mpu Supa.

Jelang beberapa tahun lamanya saat Sunan Kalijaga ingat bahwa ia pernah memesan pisau, barulah beliau bergegas menuju padepokan mpu Supa guna menanyakan perihal pisau pesanannya tersebut.

Ketika bertemu mpu Supa, Raden Sahid-pun sangat senang karena mpu supa mengatakan bahwa pesanannya baru rampung sehari sebelum datangnya R. Sahid itu.

Saat hasil pesanannya diberikan, alangkah terkejutnya Sunan Kalijaga melihat karya dari sahabatnya itu. Bagaimana tidak, pisau pesanannya itu berwujud sebilah keris yang indah dan memiliki pawakan wujud dengan karisma tinggi. Hal itu membuat Sunan kagum karena keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dibayangkannya dahulu saat memesan.

Kagumnya perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga membuat air matanya menetes seraya memeluk mpu Supa dan kemudian keris tersebut dinamai Keris Kyai Carubuk.

Dikemudian hari, keris Kyai Carubuk ini dihadiahkan kepada Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir yang tidak lain adalah muridnya sendiri sebagai piandel dalam menuju tampuk kekuasaan sebagai Raja Pajang.

Dalam legenda lain disebutkan bahwa, keris Kyai Carubuk ini pernah juga digunakan Jaka Tingkir dalm pertempuran mengalahkan Arya Penangsang yang menggunakan Keris Kiai Setan Kober.

Dari kabar yang beredar, menjelang akhir hayat, Jaka Tingkir menyimpan keris tersebut di makam gurunya (Sunan Kalijaga) dan memberikan satu pesan kepada anak cucunya. Dimana pesan tersebut mengatakan, kelak untuk jangan pernah melihat wujud dari keris tersebut, sekalipun saat hendak menjamasinya (harus dengan mata terpejam). Selain itu Jaka Tingkir juga berpesan, kelak jika memang keris ini diperlukan fungsinya dalam kenegaraan, maka dia akan datang sendiri kepada pemipin yang bijak.

Konon, Presiden Indonesia yang pernah memegang keris ini adalah presiden Soekarno dan Soeharto. Dimana, datangnya keris kepada kedua tokoh itu, sangat penuh misteri tersembunyi dan saat pemegangnya lengser, keris itupun kembali ke peti penyimpanannya di makam Sunan Kalijaga.

Konon, ada suatu keyakinan bahwa, keris kyai Carubuk merupakan manifestasi dari pulung atau restu sang pencipta, kepada seseorang yang akan memegang pucuk pimpinan sebuah Negara.

Namun hal ini tentulah dapat kita sikapi dengan fikiran yang luas bahwa tidak ada satupun kehendak “JADI”, selain dari sang pencipta semesta alam. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here