Sejarah Gunung Krakatau Kuno dan Terbelahnya Pulau Jawa

0
3040

Sejarah meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang memicu tsunami besar dan menelan puluhan ribu korban jiwa, ternyata bukan peristiwa erupsi terbesar gunung yang ada di Selat Sunda.

Jauh sebelumnya, Gunung Krakatau Purba juga pernah meledak amat hebat yang efeknya konon sampai membelah Pulau Jawa dan melahirkan Pulau Sumatera.

Tertulis dalam naskah Jawa kuno bertajuk Pustaka Raja Parwa pada awal abad ke-5 M, berbunyai ; “Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datang badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, Pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan Pulau Sumatra,” demikian catatan yang termaktub dalam naskah itu.

Menurut ahli geologi Belanda, Berend George Escher yang menyimpulkan, Gunung Batuwara yang disebut dalam naskah kuno Pustaka Raja Parwa tidak lain adalah Gunung Krakatau Purba. Selain itu, Berend George Escher yang wafat pada 11 Oktober 1967 ini, juga kerap meneliti gunung-gunung api di Nusantara, termasuk Krakatau, Kelud, Galunggung, Merapi, Raung dan lainnya.

Dampak letusan dahsyat Gunung Krakatau Purba dirasakan hingga ke berbagai penjuru dunia. Bahkan, simpul David Keys dalam risetnya bertajuk Catastrophe: An Investigation Into the Origins of the Modern World (2000), peristiwa vulkanik di Asia Tenggara itu terkait dengan bencana alam yang menyebabkan perubahan besar di Eropa selama abad ke-6 dan ke-7 Masehi.

Tinggi Gunung Krakatau Purba lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan memiliki lingkaran pantai mencapai 11 kilometer. Letusan pada abad ke-5 itu berlangsung sekitar 10 hari dan memuntahkan material erupsi mencapai 1 juta ton per detik. Kala itu, Gunung Krakatau Purba masih berdiri di Pulau Jawa, sedangkan Selat Sunda masih belum ada.

Baca Juga:  Tips Atasi Lelah Saat Mendaki Gunung

Letusan Gunung Krakatau Purba, secara langsung ataupun tidak, diyakini menjadi penyebab atas terjadinya berbagai peristiwa besar. Antara lain, peristiwa peradaban kuno Persia purba di Asia Barat, Nazca di Amerika Selatan, juga Maya di Amerika Tengah, yang mengalami kepunahan. Selain itu, juga melemahnya Kekaisaran Romawi yang kemudian digantikan Kerajaan Byzantium.

Suhu udara yang terus-menerus mendingin pasca-erupsi Gunung Krakatau Purba memicu mewabahnya penyakit sampar bubonic dan mengurangi jumlah penduduk di berbagai wilayah dunia secara signifikan.

Dikutip dari buku Disaster and Human History (2009) karya Benjamin Reilly, iklim yang tidak menentu itu menyebabkan maraknya wabah pes di sejumlah kawasan, terutama di Afrika bagian timur, dan menimbulkan kerugian besar bagi manusia.

David Keys (2000) merumuskan beberapa kesimpulan terkait letusan Gunung Krakatau Purba. Salah satunya, ledakan tersebut berdaya sangat besar dan mengguncang pulau Jawa yang akibatnya, sebagian tanah ambles dan membentuk Selat Sunda serta membelah sebagian Pulau Jawa yang melahirkan Pulau Sumatera.

Gunung Krakatau Purba hancur setelah erupsi dahsyat pada abad ke-5, dengan menyisakan kaldera atau kawah besar di bawah laut. Tepi kawahnya membentuk tiga pulau, yakni Pulau Rakata, Pulau Panjang (Pulau Rakata Kecil), dan Pulau Sertung.

Setelah itu, mulailah terbentuk Gunung Krakatau baru yang kelak juga meledak hebat serta hancur pada 1883. Di lokasi bekas berdirinya Gunung Krakatau Purba dan Gunung Krakatau lanjutannya di Selat Sunda, lahirlah Gunung Anak Krakatau yang kini sedang meningkat aktivitasnya dan sempat memicu tsunami pada 22 Desember 2018 yang lalu.

Semoga artikel ini dapat menjadi wawasan dan semoga kita semua tetap dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here