Dewa Ruci Babar Sejatining Bimo Suci, Pencarian Sang Jati Diri

0
2396

Kesenian cerita atau lakon wayang kulit, diketahui mulai berkembang sejak sekitar 5 hingga 7 abad yang lalu di pertiwi Nusantara ini. Wayang kulit, yang ceritanya dominan mengadaptasi dari kisah Ramayana dan Mahabharata dari India ini, di improvisasi dari berbagai unsur lokal oleh segenap seniman lampau agar dapat diterima masyarakat Nusantara. Selain berfungsi sebagai hiburan, lakon wayang juga membawa serta pesan, pitutur dan petuah dari leluhur untuk menjalani hidup dengan benar dan arif.

Pesan ini biasa dititipkan dalam lakon-lakon sisipan atau yang lazim disebut carangan. Biasanya penyampaiannya amat halus dan tersamar. (Tidak seperti sinetron atau film kita sekarang yang petuahnya datang secara verbal, jelas dan kasar).

Nah kali ini sejarah-budaya.com akan mengangkat satu lakon wayang kulit legendaris yang berjudul “Dewo Ruci Babhar Bimo Suci”.

Diketahui, lakon Dewo Ruci ini adalah lakon carangan dari Mahabharata yang boleh dibilang syarat penuh makna. Seperti lakon-lakon lainnya, (Lahirnya Kurawa, Pandhawa Moksha, Kumbakarna Gugur dan lain sebagainya), lakon ini cukup ramai dipentaskan. Walau demikian, tidak semua dalang mau dan mampu mementaskannya secara benar dan gamblang sesuai pakem. Oleh karenanya, lakon ini menjadi cerita sangat favorit bagi banyak orang.

Lakon ini menjadi favorit, karena cerita di dalamnya mengandung jalan kontemplasi tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), menyingkap kerinduan akan Tuhan dan perjalanan rohani untuk mencapaiNya (manunggaling kawula Gusti).

Karena terhitung syarat spiritual, lakon ini banyak sekali variasinya, tergantung siapa yang menuturkannya dan siapa Dalang yang memainkannya. Menurut Poerbatjaraka, doktor Antropologi itu (1940), paling tidak ada 40 naskah lakon yang juga disebut sebagai Bima Suci ini. 19 naskah diantaranya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Yang paling terkenal, adalah gubahan pujangga keraton Surakarta Yosodipuro berjudul “Serat Kidung Dewa Ruci”, yang disampaikan dalam bentuk tembang macapat, dengan bahasa Kawi-Sansekerta dan Jawa Kuno.

Dalam alur pakemnya, cerita ini terjadi saat Pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya, Kurawa sedang bersama menimba ilmu pada guru yang sama yakni, Resi Durna atau Kumbayana.

Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan Astina yang saat itu diduduki ayah mereka, Destrarastra, adalah sekadar titipan dari ayah Pandhawa, (Pandu Dewanata) yang mati muda. Kalaulah nanti Pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka.

Mengetahui akan hal itu, 100 orang Kurawa, merasa bakal lontang-lantung sebagai orang asing. Karena itu, sejak awal, Kurawa dengan berbagai jalan berusaha keras untuk melenyapkan Pandhawa dengan cara halus ataupun kasar.

Pada dasarnya para Kurawa muda, memiliki tabiat berangasan dan pendek akal dalam hal apapun. Namun walau selalu gagal hampir semua tindak tanduk dalam menumbangkan Pandawa selalu tampak penuh strategi. Tindak tanduk negatif Kurawa yang berstrategi itu tentu tidaklah mampu mereka rancang sendiri. Hampir semua tindakan yang kebanyakan jenius itu, atas bantuan sang pemikir licik, Harya Sangkuni, atau Arya Suman, adik ibu Kurawa Dewi Gendari. Kebetulan sebagai paman Kurawa, Sangkuni diangkat jadi Patih kerajaan Astina. Wajar saja, sang Paman juga sangat berkepentingan akan kelangsungan kekuasaan keponakannya kan? Kalau saja Pandhawa dapat menguasai kerajaan, apa iya dia gak jadi kere?.

Dengan akal jenius, Patih Sangkuni berhasil membujuk Resi Durna untuk membantu program Kurawa dalam melenyapkan Pandhawa satu persatu.

Sasaran pertamanya adalah Pandhawa nomer 2, Raden Wrekudara alias Arya Bimasena dan si nomer 3 Raden Janaka alias Harjuna, 2 orang Pandhawa yang kesaktiannya menyundul langit itu.

Pikir sangkuni, jika 2 orang pandawa itu sudah leyap dulu maka, yang lain akan lebih mudah dibasmi. Untuk eksekusi tindakan awal skala prioritasnya adalah Sang Bimasena, yang punya posisi strategis di Pandhawa.

Bima yang memang sudah menyelesaikan sesi latihan ragawinya kemudian diutus sang Guru Resi Durna untuk mencari “Tirta Prawitasari” (air kehidupan), guna menyucikan bathinnya demi kesempurnaan hidupnya. Air itu, harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka.

Saat berpamit menghadap ibunya Dewi Kunthi, saudara-saudaranya yang lain juga mengingatkan Bima bahwa, mungkin ini hanya jebakan Sangkuni Karena hutan itu sudah terkenal sebagai “alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati” (hutan raya tak tertembus, mahluk yang mencoba masuk 99,99% pasti mati).

Namun Bima tetap akan melaksanakan perintah sang Guru yang tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan jiwanya. Melihat keteguhan hati anaknya, sang Ibu akhirnya merestuinya. Bima pun akhirnya berangkat menjalankan tugas gurunya tersebut.

Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tak kunjung ia dapatkan. Justru dalam pencarian air itu, Bima malah membangunkan 2 raksasa Rukmuka dan Rukmakala penunggu hutan dari tidur panjangnya. Perkelahianpun tak dapat dihindari dan 2 raksasa itu berhasil terbunuh oleh Bima.

Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Bima bergegas pulang dan kembali menghadap gurunya. Gurunya yang semula kaget melihat Bima masih hidup keluar dari hutan Tibaksara itu, lalu menyuruh untuk melakukan yang lebih sulit. Tirta Prawitasari itu harus dicarinya di kedalaman lautan. Tanpa banyak bertanya apalagi meragukan perintah sang Guru, Sang Bimasena pun langsung berangkat.

Seisi lautan diaduknya, seekor Naga yang menghalangi jalannyapun berhasil dikalahkan dan ditaklukkannya, hingga naga tersebut pada akhirnya rela mengabdi pada Bima dengan masuk di paha kirinya sebagai kekuatan. Walau telah dengan susah payah mencari dan sudah bantak mahluk lautan yang menghalangi dapat ia kalahkan, akan tetapi Air Kehidupan yang dicarinya tidak juga diketemukannya.

Hingga ditengah lelah, bingung dan keputus asaannya, dia ditemuu mahluk serupa dirinya dalam ukuran yang lebih kecil, yang keluar dari telinga kanannya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai Sang Dewa Ruci, sang suksma sejatinya, dirinya yang sebenarnya.

Pembicaraan antara 2 mahluk inilah yang sebenarnya menjadi inti cerita ini. Namun, hal ini akan diwedar dalam artikel terbitan selanjutnya. Singkat cerita, akhirnya Sang Bimasena masuk ke dalam wadag Sang Dewa Ruci melalui telinga kirinya, dan mendapat penjelasan tentang arti hidup sejatinya.

Lambang, pitutur atau petuah, esensi dalam cerita

Untuk mendapatkan “inti pengetahuan sejati” (Tirta Prawitasari) Sang Bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (Hutan Tibaksara “tajamnya cipta”; Gunung Reksamuka, “pemahaman mendalam”). Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka “kamukten, kekayaan” dan Rukmakala “kemuliaan” . Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum.

Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan “samudra pangaksami” pengampunan. Membunuh Naga yang mengganggu jalannya simbol dari melenyapkan napsu kejahatan dan keburukan diri.

Pertemuannya dengan Sang Dewa Ruci melambangkan bertemunya Sang Wadag dengan Sang Suksma Sejati. Masuknya wadag Bima kedalam Dewa Ruci dan menerima Wahyu Sejati bisa diartikan dengan “Manunggaling Kawula-Gusti”, bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan Penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah Kejawen “Mati sajroning urip, urip sajroning mati”. (Mati di dalam Hidup, dan Hidup di dalam Mati). Ini adalah esensi dari Kawruh Kejawen. Perjalanan tasawuf untuk menukik ke dalam dirinya sendiri. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here