Sejarah Kesenian Bantengan, Mulai Lestari di Bumi Pertiwi

0
1539

Kesenian tradisional Bantengan merupakan sebuah seni pertunjukan budaya yang menggabungkan unsur sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair atau mantra. Justru menjadi semakin menarik ketika dalam setiap pertunjukan Bantengan dibubuhi nuansa yang magis. Pelaku Bantengan akan semakin menarik apabila telah masuk tahap “trans” yaitu, tahapan pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan lelembut Banteng.

Diketahui, seni Bantengan sendiri telah ada sejak jaman kerajaan Singasari. Hal ini, mengacu pada berdirinya situs candi Jago Tumpang yang sangat erat kaitannya juga dengan Pencak Silat.

Dalam prasasti itu menggambarkan, pada masa kerajaan Singosari, bentuk kesenian bantengan belum seperti sekarang, yaitu berbentuk topeng kepala bantengan yang menari. Karena gerakan tari yang dimainkan mengadopsi dari gerakan Kembangan Pencak Silat.

Tidak aneh memang sebab, pada awalnya Seni Bantengan termasuk hiburan bagi setiap pemain Pencak Silat setiap kali selesai melakukan latihan rutin. Jaman dahulu, setiap grup Bantengan minimal mempunyai 2 pemain Bantengan seperti halnya satu pasangan yaitu Bantengan jantan dan betina.

Walaupun berkembangnya Bantengan dilatari dari kalangan perguruan Pencak Silat, pada saat ini Seni Bantengan telah berdiri sendiri sebagai bagian seni tradisi. Sehingga tidak keseluruhan perguruan Pencak Silat di Indonesia mempunyai Grup Bantengan dan begitu juga sebaliknya.

Walau demikian, di era globalisasi saat ini, mulai bermunculan grup Bantengan yang digalang banyak pemuda di bumi Nusantara ini. Seperti halnya yang dilakukan pemuda seni dari Jember. Mereka tidak segan memahat sendiri kepala Bantengan yang akan digunakannya.

Tentu hal tersebut sangatlah membantu akan lestarinya kesenian murni pertiwi. (dats)

Baca Juga:  Legenda Pangeran Puger Menemukan Cinta di Umbul Sari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here