Rahasia Penempaan dan Tuah Keris, Justru Dapat Melestarikannya

0
1330

Jaman dahulu, proses pembuatan keris pusaka (gegaman) maupun keris hias (ageman), merupakan sesuatu pekerjaan dan pengabdian sang mpu pada sang pencipta yang pengerjaannya sangat di rahasiakan. Terutama di masa Hindu Buddha, tidak semua orang boleh atau dapat melihat apalagi meniru proses pembuatan pusaka pertiwi ini.

Oleh sebab itu, posisi mpu di jaman dahulu sangat dihormati dan di sakralkan bagai sosok priyayi.

Hal ini tentu berbeda dengan para pandai besi di jaman sekarang yang lebih terbuka dalam membabar sebuah gegaman atau ageman. Mereka dominan selalu welcome mengijinkan siapapun yang hendak mempelajari proses pembuatan keris. Alasan mereka sngat klasik, karena bila tidak demikian, akan sulit warisan budaya ini dilestarikan oleh para generasi muda.

Menurut budayawan asal madura ir. Djoyo Sunjojo, “Sebenarnya, sesuatu yang setengah dirahasiakan, justru akan menjadi sakral dan lestari dengan sendirinya. Sebab, hal rahasia yang tetap membutuhkan perjuangan berat, guna mendapatkannya, justru akan menjadi sebuah kepemilikan yang langgeng.

Berbeda dengan hal yang mudah di dapatkan. Sesuatu, baik ilmu maupun kebendaan yang diperoleh dengan mudah, justru akan menjadikan penyandangnya cepat bosan dan mudah melupakan. Sebab, cara kinerja otak manusia yang disesuaikan dengan kefitrohannya cenderung mencari hal yang menantang. Semakin mudah di dapat maka, semakin mudah dilupakan karena sudah menjadi hal biasa-biasa saja.

Oleh sebab itulah, kenapa banyak bangsa asing yang memanfaatkan bahkan mengambil kekayaan pertiwi ini, untuk dijadikan sebuah keistimewaan di negrinya sendiri. Padahal, sesuatu yang kesannya direbut itu, sudah menjadi hal yang biasa-biasa saja di negeri ini. Menurut saya, sebuah tinggalan lampau hendaknya jangan terlalu di fulgarkan. Lebih baik tetap menjadi sebuah setengah rahasia yang menantang bagi generasi muda kita,” terangnya.

Baca Juga:  Memilih Ageman Keris Berdasar Wuku Kelahiran Agar Tuahnya Cocok

Nah, mari kita simak sekelumit cara pembuatan keris pada jaman dahulu.

Satu hal yang tidak berubah dari proses pembuatan keris adalah tata cara dan perhitungannya yang terkenal rumit. Sebelum memulai rangkaian proses, terlebih dulu si mpu yang bersangkutan melakukan ritual tirakatan, puasa dan berdoa kepada Sang Pencipta.

Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan keris antara lain adalah logam mulia untuk keris lurus yang berbobot sekitar 12 kilogram. Sedangkan untuk keris berlekuk bobotnya mencapai 18 kilogram.

Baja yang diperlukan kurang lebih seberat 600 gram dan bahan pamor atau nikel seberat 350 gram. Di masa lampau, bahan pamor ini didapat dari batu meteorit yang dilebur sebelumnya. Tetapi saat ini tentu sangat sulit mendapatkan bahan tersebut, sehingga diganti dengan nikel.

Proses Awal Cara Membuat Keris

Awal pembuatan keris dilakukan dengan menyatukan pamor dan besi. Caranya, bahan pamor dijepit dengan dua besi dan ditempa. Sehingga terbentuk lapisan atau lipatan pada besi dan pamor, bilah ini disebut besi kodokan. Nah dalam proses tempa kodokan inilah, sang mpu biasanya menyisipkan doa dan energinya pada setiap bungkus lipatan besi.

Sehingga di jaman dahulu tidaklah heran jika banyak keris yang memiliki daya magis bahkan berefek energi yang dahsyat. Hal ini disebabkan, meleburnya energi dan doa sang mpu pada setiap bilah keris yang diciptakannya.

Jaman dahulu, guna menghasilkan keris berkualitas tinggi, paling tidak dalam proses penempaan ini diperlukan ribuan lipatan. Makin banyak lipatannya, makin lama pula waktu yang diperlukan. Sebab pada dasarnya cara membuat keris adalah dengan pembakaran, penempaan dan pelipatan yang prosesnya tidak sebentar.

Selama proses tempa, sang mpu dan para panjak memasukkan besi dan bahan pamor berulang kali. Sehingga udara terasa sangat panas dengan abu pembakaran yang beterbangan. Sesekali, besi yang panas membara akan dicelupkan ke minyak secara mendadak sebagai proses pendinginan. Proses pendinginan ini disebut nyepuh yang tujuannya adalah untuk mendapatkan besi yang tua, kuat dan keras.

Baca Juga:  Asal Usul Pusaka Mahesa Lajer dan Segudang Pesan Arif Dari Mpunya

Setelah melewati rangkaian proses ini, baja dan bahan pamor yang tadinya berat akan berubah menjadi sebilah keris yang ringan, tipis namun kuat.

Keris mentah kemudian ditatah dengan corak. Bisa berupa ukiran hiasan atau pola, seperti motif hewan, tumbuhan, wayang, ataupun rajah dan mantra. Hal ini tentu menyesuaikan dengan wangsit atau petunjuk sebelum dimulainya pembuatan keris.

Setelah semua beres, proses terakhir dalam pembuatan keris adalah proses marangi atau memunculkan bilah keris agar pamornya keluar. Caranya adalah dengan memoleskan warangan atau merendam bilah keris tersebut. Adapun warangan ini sendiri berupa cairan arsenikum yang sudah dicampur dengan air jeruk nipis.

Warangan yang dioleskan pada bilah keris akan memunculkan lapisan hitam pada besi, sedangkan bahan nikelnya tetap berwarna putih.

Warna putih yang membentuk pola ini disebut pamor keris.

Manakala dinilai, harga sebilah keris yang berkualitas tinggi bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta. Meskipun pada jamannya merupakan senjata, namun sejak dulu keris telah memiliki nilai lain dalam proses ritual, sekaligus memperlihatkan status sosial orang yang memilikinya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here