Beranda legenda Kisah Sunan Kedu Awali Tanam Tembakau Dengan Prigen Sunan Kudus

Kisah Sunan Kedu Awali Tanam Tembakau Dengan Prigen Sunan Kudus

0
1559

Kawasan pemakaman Ki Ageng Makukuhan yang berada di puncak gunung Sumbing, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, merupakan salah satu makam yang banyak dikunjungi masyarakat untuk berjiarah dan mengirim doa. Selain itu, terkadang tidak sedikit pula orang yang memintah keberkahan dengan tirakat di makam keramat tersebut.

Ki Ageng Makukuhan memiliki beberapa nama lain yakni Syeikh Maulana Taqwim, Jaka Teguh, Maha Punggung atau Sunan Kedu, (karena telah menyebarkan agama Islam di daerah Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung).

Sunan Kedu, dikenal sebagai seorang Waliullah yang ikut tergabung dalam anggota Dewan Santri konon dari generasi penerus Walisanga. Ia adalah seorang wali yang hidup sejaman dengan Walisanga yang memegang peranan penting dalam menyebarkan agama Islam di Daerah Kedu (Temanggung).

Menurut cerita, Sunan Kedu pernah berguru kepada Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Dengan keilmuan Agama yang mempuni, ia berhasil merubah masyarakat Kedu yang semula masih menganut kepercayaan hingga menjadi masyarakat yang beragama Islam. Berkat keilmuan Ki Ageng Makukuhan pulalah hampir seluruh masyarakat Temanggung dan sekitarnya, menjadi makmur khususnya dalam bidang pertanian.

Dikisahkan, pada masa berdirinya Kerajaan Demak, ada seorang pemuda ber-etnis Tionghoa, yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Glagahwangi pimpinan Sunan Kudus.

Nama pemuda tersebut MA KUW KWAN, yang pada akhirny oleh Sunan Kudus, diberi nama baru yakni Syarif Hidayat. Meski demikian, sebagai santri kesayangan Sunan Kudus, beliau masih sering memanggil dengan nama aslinya.

Selain memang mereka (guru&murid) berasal dari etnis yang sama, Ma Kuw Kwan merupakan salah satu dari sembilan santri Sunan Kudus yang dianggap paling tinggi ilmunya.

Disaat Ma Kuw Kwan harus melarikan diri dari Prajurit Kerajaan Capiturang pimpinan Gagaklodra yang hendak membunuhnya. Untuk menghilangkan jejak, saat itu Ma kuw Kwan menggunakan nama samaran Jaka Teguh. Selain mendapat tambahan ilmu agama, Ma Kuw Kwan juga diajari cara bercocok tanam oleh Sunan Kalijaga, juga beberapa ilmu kanuragan.

Sunan Kalijaga, sengaja mengajarkan cara bercocok tanam, agar Ma Kuw Kwan menyebarkan agama Islam melalui media pertanian. Sedangkan ilmu kanuragan, memang diperlukan untuk menjaga diri selama melakukan perjalanan.

Setelah dirasa cukup ilmu yang diberikan, Sunan Kalijaga menugaskan Ma Kuw Kwan untuk menyebarkan agama di daerah Kedu, hingga akhirnya Ma Kuw Kwan bermukim di Desa Pendang. Disini Ma Kuw Kwan mulai aktif menyebarkan agama Islam dengan berdakwah di pematang-pematang sawah.

Sesuai petunjuk Sunan Kalijaga, Ma Kuw Kwan lebih banyak mengajarkan cara bercocok tanam yang baik kepada Masyarakat Kedu. Sedangkan dalam mengajarkan agama Islam, dia lebih banyak memberikan contoh yang misalnya, saat tiba waktu dhuhur di sawah, Ma Kuw Kwan tak segan-segan untuk meminta air wudhu dari warga dan sengaja melaksanakan sholat di tempat terbuka.

Baca Juga:  Segudang Karomah Kyai Togo Ambarsari, dari Ahli Sains hingga Membendung Banjir

Dan saat ada orang yang penasaran dan bertanya tentang yang dilakukannya, Sunan Kedu, menjelaskan bahwa yang dilakukannya adalah berdoa, memohon berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa agar diberikan hasil panen yang melimpah. Warga memang tak langsung mengikutinya, tetapi saat hasil panen Ma Kuw Kwan benar-benar melimpah, tak sedikit warga yang minta diajari sholat dan memeluk agama Islam. Dengan cara yang santun dan membawa manfaat langsung seperti tersebut diatas, banyak warga yang bersimpati dan mengikuti ajaran Ma Kuw Kwan, sehingga dalam waktu singkat dia mendapatkan banyak pengikut. Nama Ma Kuw Kwan makin hari makin disegani sebagai pemimpin agama yang juga mengajarkan pertanian.

Oleh para pengikut inilah, dia mendapat julukan Sunan Kedu, atau juga sering disebut dengan nama aslinya, Ki Ageng Ma Kuw Kwan, namun lebih mudah dengan menyebut KI AGENG MAKUKUHAN.

Lambat laun nama harum Sunan Kedu makin besar dan meluas hingga akhirnya terdengar di telinga Sunan Kudus. Mengetahui tanah di Kedu sangat subur, Sunan Kudus mengutus salah satu santrinya yang bernama Bramanti untuk mengirimkan bibit padi jenis Rajalele dan Cempa, serta bibit tanaman tembakau.

Akan tetapi setelah sampai di Kedu dan menyerahkan bibit tanaman yang diberikan Sunan Kudus, Bramanti tak mau pulang ke Pondok Pesantren Glagahwangi, tetapi memilih mengabdi pada Sunan Kedu. Setelah beberapa waktu, Ki Ageng Makukuhan mempercayakan Bramanti untuk menggarap tanah di Desa Balongan atau Mbalong, serta menyebarkan agama disana.

Bramanti menyebarkan agama Islam di daerah Parakan. Seperti halnya Ki Ageng Makukuhan, Bramanti dengan cepat mendapatkan banyak pengikut hingga oleh para pengikutnya Bramanti diberi gelar Ki Ageng Parak atau Sunan Parak. Seiring berjalannya waktu, lahan pertanian Ki Ageng Makukuhan makin luas. Padi jenis Rajalele dan Cempa yang ditanamnya telah banyak digemari oleh warga masyarakat karena selain pulen, rasanyapun juga terkenal enak.

Sedangkan hasil tembakau digunakan untuk menyelingi tanaman padi saat musim kemarau. Pada saat Ki Ageng Makukuhan sedang menanam tembakau, sekali lagi datang utusan Sunan Kudus yang menyampaikan pesan agar Ki Ageng Makukuhan datang menghadap Sunan Kudus. Kehadiran Sunan Kedu sangat penting untuk melaporkan perkembangan penyebaran agama di Kedu, serta hasil panen dari bibit yang diberikannya. Namun karena bibit tembakau yang belum ditanam masih cukup banyak, dan khawatir akan layu jika ditinggalkan dalam waktu yang lama, maka Sunan Kedu terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya, baru kemudian memenuhi undangan Sunan Kudus. Konon, karena merasa telah terlambat, Ki Ageng Makukuhan menempuh jalan udara dengan terbang menggunakan ilmu yang diajarkan Sunan Kalijaga.

Baca Juga:  Nyawa Rangkap 9 Anugrah Tukang Sapu Masjid

Sesampai di Pondok Pesantren Glagahwangi, Ki Ageng Makukuhan tak langsung turun, melainkan masih terbang mengelilingi masjid untuk mencari tempat pendaratan yang aman. Namun aksinya keburu terlihat oleh Sunan Kudus. Mengira Ki Ageng Makukuhan sedang pamer ilmu, Sunan Kudus menyuruh salah satu santrinya untuk melemparkan nyiru/tampah yang berada didekatnya. Namun bukannya menghindar, Ki Ageng Makukuhan justru menaiki nyiru tersebut untuk terbang.

Marahlah Sunan Kudus melihat kelakuan muridnya itu. Beliau mengambil kerikil dan dilemparkan kearah Ki Ageng Makukuhan hingga jatuh. Ki Ageng Makukuhan merasa malu dan memohon maaf pada Sunan Kudus, sembari menjelaskan duduk persoalannya.

Untunglah, Sunan Kudus memaklumi dan memaafkannya. Malamnya, setelah Ki Ageng Makukuhan melaporkan perkembangan penyebaran agama yang dilakukannya, beliau juga sempat menjelaskan bahwa bibit padi yang diberikan oleh Sunan Kudus telah menjadi tanaman yang sangat diminati para petani. Namun tembakau yang beliau tanam di daerah Kedu, kurang menghasilkan rasa yang mantab sehingga harga jualnyapun kurang bagus. Dengan begitu, Ki Ageng Makukuhan meminta petunjuk Sunan Kudus untuk masalah ini.

Konon, Sunan Kudus membantu Ki Ageng Makukuhan mencarikan lokasi yang baik untuk bercocok tanam tembakau.

Beliau mengambil sebuah RIGEN, atau anyaman bambu yang tidak terlalu rapat, berbentuk persegi empat panjang.

Kemudian Rigen tersebut dilamparkan oleh Sunan Kudus ke arah Kedu dengan ilmu kanuragannya, lalu menjelaskan bahwa lokasi sekitar jatuhnya Rigen tersebut merupakan tempat yang sangat baik untuk menanam tembakau.

Sunan Kudus juga menjelaskan, jika setelah tembakau ditanam, malam harinya dari tanah tersebut seperti memancarkan sinar, maka hasil panen dari sawah yang memancarkan sinar ini akan memiliki kualitas yang sangat istimewa. Belakangan, Rigen digunakan oleh masyarakat untuk menjemur tembakau yang sudah di rajang tipis-tipis. Dan warga menyebut sawah yang memancarkan sinar sebagai Ndaru Rigen. Karena mereka beranggapan bahwa tanah mendapatkan berkah dari rigen yang dilemparkan Sunan Kudus.

Menurut cerita, Ki Ageng Makukuhan menemukan rigen sakti yang dilempar gurunya itu, jatuh di lereng Gunung Sumbing yang sekarang masih dalam wilayah desa Lamuk Kecamatan Tlogomulya Temanggung kawasan. Saking tingginya ilmu kesaktian Sunan Kudus, tanah tempat jatuhnya rigen yang dilemparkannya sampai menjorok yang dalam bahasa Jawa adalah LEGOK. Hingga kini makin banyak warga yang bermukim di lokasi tersebut dan telah menjadi sebuah kampung yang diberi nama LEGOKSARI.

Pas ditempat jatuhnya rigen itu, Ki Ageng Makukuhan pertama kali membuka lahan pertanian tembakau. Saat pertama kali akan memulai penanaman tembakau, Ki Ageng Makukuhan mengajak warga sekitar untuk bersama-sama berkumpul di sawah, karena hendak diajari cara bercocok tanam tembakau, maklumlah, warga memang belum mengenal tanaman ini sebelumnya.

Baca Juga:  Perjalanan Brawijaya V Hingga Berjuluk Sunan Lawu

Sebelum mengajarkan cara bercocok tanam, terlebih dahulu Ki Ageng Makukuhan mengajak warga untuk mengadakan selamatan denfan istilah Wiwitan. Yaitu, berdoa bersama memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian, acara dilanjutkan dengan makan bersama sambil menikmati jajanan pasar, buah-buahan dan kopi kental, minuman kegemaran Ki Ageng Makukuhan di tepian sawah.

Hal ini sengaja dilakukan sekaligus untuk menyebarkan agama Islam, yang menjadi tujuan utama Ki Ageng Makukuhan. Sampai kini, warga masih selalu melakukan acara WIWIT, selain untuk melestarikan apa yang telah dicontohkan oleh Ki Ageng Makukuhan, juga untuk mengharapkah berkah dari Tuhan.

Sekarang, pada acara tersebut warga masyarakat membuat tumpeng dari beras hitam yang dibentuk kerucut menyerupai Gunung bernama TUMPENG ROBYONG. Tumpeng itu juga dilengkapi lauk pauk yang lengkap, yaitu ingkung ayam utuh, pepes teri teri, telur dadar dan lauk pauk lain seperti tempe tahu goreng, serta jajanan pasar dan buah-buahan, tentu tak ketinggalan kopi kental tanpa gula, yang kesemuanya itu merupakan menu kegemaran Ki Ageng Makukuhan.

Warga masyarakat akan tumpek blek disawah, tak peduli lelaki perumpuan, tua ataupun muda, semua melakukan acara memulai musim tembakau, warga menyebutnya Among Tebal, selain untuk mengharap berkah tentu juga untuk kerukunan antar warga.

Saat tembakau telah dipanen dan dirajang, disinilah letak perbedaan tembakau dari sawah yang mendapat ndaru rigen dan dari lokasi yang lain. Tembakau dari tanah biasa jika dirajang akan jatuh dan menyebar/ambyar, sedangkan tembakau yang berasal dari sawah yang mendapat ndaru rigen, setelah dirajang justru menggumpal atau nyrintil, maka warga menamakan tembakau jenis ini sebagai Tembakau Srintil.

Konon, tembakau Srintil ini memiliki kualitas dan rasa yang sangat istimewa bagi para penikmatnya. Tak heran, harganyapun juga istimewa, bisa ratusan kali lebih mahal dari harga tembakau biasa. Namun sayangnya, ndaru rigen tidak selalu terjadi pada setiap musim dan di semua lokasi. Sehingga tak setiap tahun warga bisa menikmati hasil melimpah dari tembakau srintil. Tapi bukan tidak mungkin, justru itulah alasan warga tetap melestarikan tradisi acara wiwit, dengan harapan sawahnya bisa mendapatkan ndaru rigen dan menghasilkan tembakau srintil.

Biar bagaimanapun alam selalu memiliki cara-Nya sendiri, agar kita selalu mengingat Tuhannya dan Tuhan menetapkan segala sesuatu kepada kita, sesungguhnya Dia telah melibatkan kita dalam setiao rencananya. Sekarang tinggal kita yang harus melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita, agar hasil dari rencana kita tersebut bisa mendapatkan berkah. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here