Karomah Kyai Ali Brangbang Melatih Kera Hingga Fasih Mengaji

0
1497

Terdapat sebuah Makam kramat dengan bangunan bergaya arsitektur megah batu susun yang berada di dusun Barangbang, desa Kalimo’ok, tepatnya di Sebelah timur lapangan terbang Trunojoyo Sumenep.

Makam tersebut dipercaya merupakan peristirahatan terakhir dari seorang waliullah bernama Kyai Ali Brangbang. Dimana semasa hidupnya, Kyai Ali terkenal sebagai seorang ulamak yang sangat tinggi keilmuannya.

Kiai Ali Barangbang sendiri memiliki nasab silsilah dari Syekh Maulana Sayyid Jakfar As Sidik atau dikenal dengan Sunan Kudus yang mempunyai keturunan Pangeran Katandur. Dari Pangeran Katandur mempunyai empat anak yaitu, Kyai Hatib Paddusan, Kyai Hatib Sendang, Kyai Hatib Rajul, dan Kyai Hatib Paranggan. Nah, Kyai Ali Barangbang sendiri merupakan putra dari Kyai Hatib Paddusan.

Semasa hidupnya, Kyai Ali Barangbang sangat gigih dalam menyiarkan agama Islam terutama di kawasan Sumenep dan sekitarnya. Banyak dari kalangan santri-santrinya merupakan putra-putri bangsawan keraton. Beliau yang wafat sekitar tahun 1092 H ini, dikenal seba­gai seorang ulama besar yang sangat disegani. Bahkan, beberapa pangeran dan raja Sume­nep juga manca nagari yang pernah tau kepadanya juga sangat segan.

Kyai Ali yang selain merupakan seorang ulama besar dan penyiar agama Islam, beliau sangat dikenal memiliki berbagai Karomah kewalian yang istimewa.

Konon, semasa hidup Kyai Ali mempunyai beberapa kelebihan karomah diluar nalar. Salah satunya dapat melatih binatang (kera) hingga dapat berbicara bahkan sampai bisa faseh mengaji.

Diceritakan, ada salah seorang putra dari raja Sumenep yang berguru kepada Kyai Ali Brangbang. Dimana dalam menuntut ilmu, Putra raja tersebut sangat sulit menyerap pelajaran dari sang Kyai.

Hingga pada suatu malam, saat rutinitas belajar mengaji, sang Putra Raja berbuat ulah (bandel) dan tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan. Agar mendapat pelajaran berharga, Kyai Ali-pun menghukum sang Putra Raja itu dengan memukul kakinya.

Mendapat hukuman bukannya jera, ke esokan harinya Putra Raja itu pulang tanpa pamit. Hingga sampai di kraton, dia malah mengadukan sikap Kyai Ali pada sang Raja.

Mendengar pengaduan Putranya yang sedikit melebih-lebihkan, sang Raja sangat marah dan langsung memerintahkan sang prajurit untuk memanggil Kyai Ali guna menanyakan alasan kenapa putranya sampai dipukul.

Singkatnya, tanpa rasa takut Kyai Ali menghadap dan menjawab bahwa sebenarnya dia tidak berniat memukul putra raja, melainkan kebodohan yang menemani putra raja.

Mendengar jawaban tersebut raja merasa tersinggung sebab, putranya di anggap bodoh. Dengan pandangan marah, kemudian raja memberi perintah dengan hal yang sangat mustahil. Dalam perintah tersebut raja mengatakan, bahwa jika memang Kyai Ali dapat membuat orang pintar dengan cara memukul maka, Kyai Ali boleh pulang tanpa dihukum dengan syarat membawa kera untuk diajari hingga kera tersebut dapat mengaji selama kurun waktu 41 hari.

Ringkasnya, Kyai Ali menyanggupi syarat sang Raja dengan membawa kera itu pulang untuk diajari. Konon, setiap malam Kyai Ali mengajak sang kera untuk memancing bersamanya. Hingga pada suatu malam tepatnya di malam ke 27 dari penghadapan di kraton, Kyai Ali memberikan tali tambang yang terbuat dari sabut kelapa kepada sang kera dengan cara mengikatkan pada jari kakinya. Usai di ikat, ujung tali itu lalu dibakarnya.

Sambil berkata Kyai Ali kepada kera, “Hai kera jika sampai pada jarimu api itu dan terasa panas di tanganmu maka teriklah dan katakan panas” sabdanya.

Ketika api mulai merambat pada jari kaki kera itu, keajaibanpun terjadi. Atas kuasa Ilahi, kera itu terpekik dan berteriak “Panaaass….,”.

Sejak saat itulah kera asuhan Kyai Ali Brangbang dapat berbicara dan akhirnya sang kerapun dalam waktu singkat dapat mengaji dengan fasih.

Hingga tiba saatnya sang kera untuk pulang ke keraton dan menunjukkan kemampuannya untuk mengaji pada sang Raja. Sesampainya di keraton Kyai Ali meminta raja untuk mengadakan pertemuan besar dengan dihadiri oleh para punggawa dan kerabat kerajaan.

Setelah semua berkumpul, kemudian sang kera yang sudah tiduran ditengah paseban, di beri Alquran. Betapa terkejutnya sang raja beserta para punggawa dan tamu yang hadir ketika melihat dan mendengar kera dapat mengaji dengan indah.

Setelah selesai mengaji, Kyai Ali melemparkan pisang kepada kera dan berkata dengan bahasa madura “Elmo Kala ka Bebethe’ “, yang artinya ilmu kalah pada watak. Mendengar ucapan sang Kyai, raja pun tertegun lunglai bagai kerbau dicocok hidungnya dan menyadar kesalahannya. Hingga pada akhirnya, sang Rajapun bersbda, “Bahwa, barangsiapa yang menuntut ilmu, belum menginjak tanah Brangbang maka ilmunya tidak syah atau belum sempurna”.

Demikian salah satu kisah kelebihan karomah yang dimiliki Kyai Ali Brambang dan masih banyak karomah-karomah lain yang ceritanya berkembang di masyarakat sekitar. Rasanya memang sangat sulit di terima dengan akal sehat namun, sebagai ummat yang berkeTuhanan, tentunya kita dpat menalar bahwa, tidak ada yang tidak mungkin ketika Sang Pencipta berkehendak. Atas kedekatannya pada sang pencipta inilah, hingga sampai sekarang Asta Ghumuk atau makam Kyai Ali Brangbang tidak pernah sepi dari peziarah. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here