Beranda legenda Kilas Kutukan Mpu Gandring, Belum Tuntas Hingga Saat Ini

Kilas Kutukan Mpu Gandring, Belum Tuntas Hingga Saat Ini

0
3375

Mpu Gandring merupakan tokoh linuwih yang dalam Pararaton dikisahkan sebagai seorang pembuat senjata ampuh berupa keris pusaka. Konon, keris buatannya telah menewaskan Ken Arok pendiri Kerajaan Singosari.

Mpu Gandring sendiri, berasal dari desa Lulumbang atau Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, dekat Wlingi-Blitar. Tempat pembuatan keris tersebut sampai sekarang masih bisa ditemukan di dukuh Pandean-Wlingi-Blitar. Di kemudian hari setelah Ken Arok menjadi raja, sebagai penebus kesalahannya, Ken Arok menjadikan desa Lulumbang atau Palumbangan menjadi daerah bebas pajak. Pintu gerbang masuk wilayah Palumbangan ini juga pernah diperbaiki pada era Majapahit, yang sampai sekarang dikenal dengan Candi Plumbangan.

Mpu Gandring merupakan sahabat dari Bango Samparan, ayah angkat Ken Arok.

Dikisahkan dalam Pararaton bahwa, Ken Arok berniat mencari senjata ampuh untuk membunuh majikannya, yaitu Tunggul Ametung yang kala itu menjabat sebagai akuwu Tumapel. Ia ingin memiliki sebilah keris yang dapat membunuh dengan hanya sekali tusuk.

Bango Samparan ,ayah angkat Ken Arok yang merupakan sahabat dari Mpu Gandring, memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya itu. Singkatnya, untuk mewujudkan pesanan Ken Arok, Mpu Gandring meminta waktu setahun.

Dalam kurun waktu yang ditentukan, Ken Arok tidak sabar menunggu, ia berjanji akan datang lagi setelah lima bulan.

Lima bulan kemudian, Ken Arok benar-benar datang menemui Mpu Gandring. Ia marah melihat keris pesanannya baru setengah jadi. Karena marah, keris itu direbut dan digunakan untuk menikam dada Mpu Gandring. Meskipun belum sempurna, namun keris itu mampu membelah lumpang batu milik Mpu Gandring.

Mpu Gandring pun tewas terkena keris buatannya sendiri. Namun, sebelum tewas ia sempat mengutuk Ken Arok dengan kutukan, kelak keris tersebut akan merenggut nyawa tujuh keturunan Ken Arok, termasuk Ken Arok sendiri.

Baca Juga:  Memilih Ageman Keris Berdasar Wuku Kelahiran Agar Tuahnya Cocok

Usai membunuh mpu. Gandring, Ken Arok kembali ke Tumapel untuk menunaikan niatnya membunuh dan merebut kedudukan Tunggul Ametung. Rekan kerjanya yang bernama Kebo Hijo dijadikan kambing hitam segera dihukum mati menggunakan keris yang sama. Ken Arok sendiri akhirnya tewas oleh Anusapati putra Tunggul Ametung.

Pengarang Pararaton mengisahkan adanya pembunuhan susul menyusul sejak Tunggul Ametung yang beberapa di antaranya terkena keris buatan Mpu Gandring. Mereka yang tewas terkena keris pusaka tersebut adalah Mpu Gandring, Tunggul Ametung, Kebo Hijo, Ken Arok, pembantu Anusapati, dan terakhir Anusapati sendiri.

Rupanya pengarang Pararaton kurang teliti dalam mewujudkan kelanjutan kutukan Mpu Gandring. Dari tujuh keturunan Ken Arok (termasuk dirinya) ternyata hanya Ken Arok saja yang mati oleh keris itu.

Adapun Anusapati adalah anak tiri, sedangkan Tohjaya meskipun anak kandung namun kematiannya akibat tertusuk tombak Bukan Kena Keris Mpu Gandring. Banyak yang dari para peneliti budaya dan sejarah bahwa, selain Ken Arok sendiri, hingga saat ini kutukan mpu Gandring masih tersisa 6 nyawa lagi.

Akan tetapi sebagai insan yang bertolerant hendaknyalah kita berdoa dan berharap agar tidak akan ada lagi tumbal-tumbal selanjutnya.

Gelar mpu atau empu merupakan gelar Nusantara asli yang kini identik dengan istilah untuk profesi pembuat keris. Padahal sebenarnya tidak demikian. Mpu sendiri artinya penguasa atau majikan atau pemilik. Kata ini masih dijumpai dalam bahasa Indonesia

Pada zaman Kerajaan Medang, pengguna gelar mpu tidak harus laki-laki. Misalnya, permaisuri Mpu Sindok menurut data-data prasasti bernama Mpu Kebi. Pada zaman Singhasari dan Majapahit, gelar mpu hanya dipakai oleh golongan terhormat namun bukan bangsawan, dan itu hanya berlaku untuk laki-laki, misalnya Mpu Nambi atau Mpu Sora.

Baca Juga:  Legenda Putri Serindu Yang Akhirnya Dipersunting Raja Tidur

Pada zaman Kesultanan Mataram, gelar mpu tergeser oleh gelar kyai. Gelar mpu kemudian hanya dipakai oleh para pembuat senjata saja, dan ini diperkirakan berasal dari popularitas tokoh Mpu Gandring dalam Pararaton atau Empu Supa dari naskah-naskah babad tanah Jawa. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here