Asal Usul Bumi Pertiwi Nusantara yang Sejak Lampau Jadi Perebutan Asing

0
778

Pada zaman dahulu kala, kepulauan Indonesia memiliki berbagai sejarah aneka julukan yang memang sangat menarik perhatian bangsa asing. Dari beberapa catatan kuno bangsa India, yang mengadopsi dari bahasa Sansekerta, menamai kepulauan pertiwi ini dengan nama Kepulauan Tanah Seberang atau Dwipantara.

Kisah Ramayana yang merupakan karya dari pujangga Walmiki menceritakan, pencarian Rama terhadap Sinta istrinya, yang diculik Rahwana sampai ke Pulau Emas atau Suwarnadwipa dan diperkirakan saat ini adalah pulau Sumatera. Sementara dalam sejarah catatan bangsa Cina, kawasan kepulauan pertiwi ini, dijuluki sebagai Kepulauan Laut Selatan atau Nan-hai.

Lain lagi dengan bangsa Arab yang menyebut Indonesia ini sebagai wilayah Kepulauan Jawa atau Jaza’ir al-Jawi. Dimana kala itu, orang arab sangat mengagumi kayanya rempah-rempah terutama kemenyan, yang menurut dari bahasa Arab disebut luban jawi (“kemenyan Jawa”). Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan, orang Indonesia luar Jawa sekalipun dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia”. Sementara semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, Archipel Malais).

Menginjak pada zaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Baca Juga:  Mengenal Bondowoso Dari Sejarah Puncak Kejayaannya

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Namun, nama Insulinde ini sedikit kurang populer.

Hingga di tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk yakni Nusantara. Setiabudi mengambil nama itu dari naskah kuno zaman Majapahit yaitu kitab Pararaton, yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan kata dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Sementara menurut Dr. Setiabudi kata Nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”. Sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan julukan lain dari kepulauan Indonesia.

Pada tahun 1847, Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Akan tetapi, lebih senang menggunakan Malayunesia

Baca Juga:  Sang Petani Marhaen, Hingga Ideologi Sang Proklamator

Kemudian James Richardson Logan menggunakan nama Indunesia (yang dibuang Earl), dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. inilah untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak dalam tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Nama Indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan Indonesiër (orang Indonesia).

Indonesia, Negeri Eksotik dengan jumlah pulaunya sebanyak 7.504 buah. (7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama). Tidak asing juga disebut sebagai Zamrud Khatulistiwa, tentunya karena potensi yang dimiliki oleh negeri ini begitu banyak dan terhampar di jajaran pulau-pulau tersebut.

Keanekaragaman hayati, pesona alam, flora-fauna, budaya, bahasa, aneka ragam suku, dan masih banyak lainnya. Oleh sebab itulah Indonesia sejak lampau memang menjadi primadona yang samgat di incar bangsa asing. Sudah menjadi tugas kita masing-masing yang harus dapat mempertahankan dan melestarikan bumi pertiwi ini hingga kelak anak cucu bangsa dapat pula merasakan manisnya tanah kelahirannya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here