Beranda Sejarah Mpu Tantular Awali Kebhinekaan Dengan Keluhuran Cita-cita

Mpu Tantular Awali Kebhinekaan Dengan Keluhuran Cita-cita

0
2561

Mpu Tantular merupakan seorang pujangga Sastra Jawa ternama yang hidup pada masa Majapahit di pemerintahan raja Rājasanagara (Hayam Wuruk) abad ke 14. Sebagai seorang pujangga yang masih keponakan sekaligus menantu dari adik raja Hayam Wuruk, beliau dikenal banyak berperan dalam jayanya kerajaan Majapahit.

Nama Tantular sendiri berasal dari dua kata, Tan yang berarti “tidak” dan Tular yang artinya “terpengaruh” (tidak terpengaruh).

Walau dari masa kecil hingga akhir hayat Tantular merupakan penganut agama Buddha, namun dirinya selalu terbuka terhadap tolerabsi agama lainnya. Hal ini terbukti pada dua karya kakawin atau syairnya yang ternama yaitu kakawin Arjunawijaya dan terutama kakawin Sutasoma.

Bahkan salah satu bait dari kakawin Sutasoma ini, diambil menjadi motto atau semboyan Republik Indonesia yang berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika” atau berbeda-beda namun tetap satu jua.

Kata Bhinneka Tunggal Ika sendiri, cukup menjadi magnet dan semboyan wajib bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebuah konsep multikultural yang mampu mengangkat dan menunjukkan keanekaragaman suatu bangsa.

Sebuah moto Bhinneka Tunggal Ika ada dalam lambang negara Burung Garuda, menghiasi dinding setiap kantor, sekolah dan rumah bahkan seringkali menjadi kutipan dalam berbagai pidato pejabat, terlebih-lebih jika sedang terjadi peristiwa genting yang dianggap dapat mengancam kelangsungan persatuan bangsa dan kedaulatan negara.

Kutipan ini dapat ditemukan dalam kitab Sutasoma pada pupuh 139, bait 5. Adapun bait ini secara lengkap berbunyi,

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Yang artinya :
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Bhinneka Tunggal Ika sendiri merupakan sastra agama yang tertuang dalam kakawin Sutasoma namun, implementasi dari konsep ini dijabarkan dalam kitab Negara Kertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca.

Dalam Bhinneka Tunggal Ika, dijabarkan tentang sebuah cerita epis yang amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar umat beragama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha kala itu.

Sebagai sastra Jawa atau bisa dikatakan sastra agama, kakawin Sutasoma termasuk karya yang cukup unik. Karena merupakan satu-satunya kakawin yang bersifat epis dan bernafaskan agama Buddha. Ini menunjukan jika Mpu Tantular memiliki toleransi keagamaan yang sangat tinggi.

Disini Mpu Tantular tidak mempersoalkan latar belakang keyakinan orang namun, yang terpenting bagaiamana membangun toleransi dalam pergaulan sesama kemanusiaan sebagai sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang tertuang dalam setiap ajaran agama masing-masing.

Mpu Tantular menggunakan kata Bhinneka tunggal Ika untuk merumuskan perpadanan antara Buddha, Hindu dan Siwa yang berlaku di era Majapahit kala itu. Hal ini terbukti bahwa di era tersebut tidak pernah terjadi konflik antar agama, dan senantiasa terjadi semangat toleransi kebersamaan.

Dalam pengertian segala macam aliran agama, alam pikiran, kebudayaan dan politik, yang pada waktu itu memang banyak terdapat di Majapahit. Bisa diartikan berbeda-beda namun mereka tetap bersatu di dalam peraturan kitab Negara Kertagama tidak ada diskriminasi atau dualisme. Pencapaian ini sudah terbangun otomatis dalam kebersamaan, persatuan Negara Majapahit.

Menurut tokoh negarawan M Yamin yang memiliki pengetahuan ketatanegaraan, menilai tentang Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar pemikiran cemerlang Mpu Tantular, yang diimplementasikan dalam kitab Sotasoma. Dimana Majapahit sebagai kerajaan yang dapat mempersatukan pecahan Nusantara.

M Yamin memiliki pemikiran yang luar biasa bahwa, wilayah Nusantara bukanlah untuk menyatakan luas daerah Majapahit melainkan, wilayah kesatuan geopolitik yang ditentukan Sang Alam. Sebagai tumpah darah tempat kediaman bangsa Indonesia yang sejak permulaan sejarah menyusun dan menjaga perimbangan kekuasaan terhadap keluar dan kedalam lingkungan mandala tanah dan air Nusantara itu.

Irawan menambahkan kesatuan Nusantara, juga tertulis dalam Nagarakrtagama pupuh 12.6.4 berbunyi: mwang Nusantara sarwa mandalikârastra angasraya akweh mark. Artinya: Dan Nusantara, wilayah yang melingkari, meminta perlindungan, banyak yang menghadap.

Kesatuan Nusantara tersebut terletak pada kata angasraya ‘meminta perlindungan’. Kalimat ini adalah kalimat aktif. Dengan demikian kesatuan Nusantara itu bukan dari paksaan namun dari kesadaran bersama untuk bersatu.

Oleh sebab itulah kita sebagai penerus kejayaan Nusantara masa lampau, haruslah dapat menghargai nilai-nilai luhur dari pendahulu moyang kita. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan