Beranda Tokoh Rahasia Pesugihan Halal Dari Istiqomah Mengamalkan Sholawat

Rahasia Pesugihan Halal Dari Istiqomah Mengamalkan Sholawat

0
2229

Amalan atau bacaan Sholawat merupakan wujud manifestasi dari kecintaan ummat terhadap Tuhan dan Rosulnya. Ada ratusan bahkan ribuan jenis Sholawat yang kerap terdengar bahkan kita pernah mengamalkannya.

Bagi ummat muslim khususnya yang bermazhab Syafi’i, Hanafi dan Hambali, amalan Sholawat merupakan kebutuhan pokok dalam beribadah.

Bahkan, tidak jarang dari sebagian besar ulamak menfatwakan bahwa, Sholawat merupakan kunci bagi segala keterhimpitan menuju ke lapangan di dunia lebih-lebih di akhirat.

Nah kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit berbagi pengalaman seorang santri asal Martapura mengenai cara mengamalkan Sholawat untuk terbebas dari segala keterhimpitan dan sekilas mendapatkan ijasah amalan tersebut.

Dikisahkan ada seorang mualaf bernama Johanes S atau Johan yang mengalami kebangkrutan hingga mengamalkan sholawat dan kembali meraih kejayaannya. Johan baru memeluk agama Islam sejak umur 34 tahun. Kala itu, johan sedang mengalami kebangkrutan bisnis usahanya dalam dunia tembakau. Tidak hanya itu, istri anak dan keluarganyapun perlahan mulai meninggalkan Johan karena dianggapnya sudah tidak mampu lagi menjadi sandaran mereka.

Dari keadaan tersebut, Johan sangat frustasi dan hampir putus asa dengan mengakhiri hidupnya. Dalam detik-detik keputus asaannya, datanglah seorang teman lama yang menyarankan Johan untuk menemui Tuan guru Ijey seorang ulamak besar di Martapura, untuk meminta petunjuk agar dapat terlepas dari keterhimpitan.

Baca juga : Kepemimpinan Guru Sekumpul

Singkat cerita, bertemulah Johan dengan sang Kyai. Karena sebelumnya Johan memang masih awam total tentang Islam apalagi bacaan-bacaannya, ia pun hanya di ajarkan dua kalimat setelah di Islamkan.

Adapun dari dua kalimat tersebut adalah bacaan “Allahu Muhammad” yang menurut sang Kyai itu merupakan bacaan Sholawat.

Nah setelah hafal dengan 2 kalimat tersebut, Johan di sarankan agar membacanya pada setiap pagi dan sore hari minimal 5000 kali per hari. Menurut Kyai, “Jika Allah berkehendak dan engkau bersungguh-sungguh mengamalkannya, niscaya Allah akan mengembalikan segala kelebihanmu seperti sedia kala,“.

Karena Johan sangat meyakini dan memang sudah tidak ada jalan lain dimatanya, iapun mengerjakan dengan sungguh-sungguh.

Kala itu, Johan tinggal dan mengamalkan bacaan tersebut di sebuah gubuk kecil di pematang sawah. Gubuk dengan atap dan dinding jerami juga lantainya yang dirakit dari tumpukan pelepah kelapa menjadi saksi bisu awal keajaiban kisah Johan kala itu.

Dengan istiqomah, hampir setiap hari Johan membaca amalan sholawat tersebut dengan jumlah 50.000 kali per hari. Hingga pada hari ke 7 dari sejak ia mengamalkan Sholawat tersebut baru terlihat ada keajaiban. Mula-mula Johan mendapati sejumlah uang di dalam bantal jeraminya, dikiranya mungkin milik petani yang jatuh kala memanen padi. Akan tetapi hal demikian kembali terulang di hari berikutnya, hingga genap 5 hari uang yang dikumpulkan Johan dari bantal jeraminya berjumlah 10 juta rupiyah. “Apa mungkin uang peteni sedemikian banyak bisa terjatuh ke dalam jerami,” gumamnya dalam hati.

Karena penasaran, Johanpun membongkar kembali bantal jeraminya dan memastikan bahwa tidak ada uang lagi di dalamnya. Namun seperti biasa, usai mengerjakan Sholawat, Johan tidur dan di pagi harinya iapun kembali mendapati segepok uang yang keluar dari dalam bantal jeraminya.

Bukannya senang, akan tetapi atas kejadian tersebut, Johan menjadi semakin takut. Hingga akhirnya iapun kembali sowan pada Kyai dan menanyakan bab kejadian aneh tersebut. Singkatnya, Kyai hanya berpesan, “Seperti halnya aku dan engkau segala sesuatu di muka bumi ini merupakan kehendak dari Allah. Maka dari itulah ikuti kehendaknya dengan hati yang murni dan jangan kau kotori dengan pemikiran nafsumu. Dengan begitu niscaya kau akan terselamatkan,” dawuh Kyai.

Entah bagai mana jalan pemikiran Johan, seolah dia faham akan pesan dari sang kyai dan berpamit kembali ke gubuk pematang sawah. Dari situlah, Johan membagi-bagikan uang yang di dapatnya dari bantal jerami kepada segenap penduduk yang membutuhkan hingga uangnya tak tersisa.

Selanjutnya Johan kembali ke gubuk dan membakar gubuk beserta bantal jeraminya itu hingga menjadi sekam dan Johanpun pergi entah kemana.

Baru sekitar 2 tahun selang dari kepergiannya itu Johan kembali ke Martapura. Namun kedatangannya kali ini sudah berbeda di banding kepergiannya dari gubuk jerami yang lalu. Kini ia datang menggunakan Helikopter pribadi dan lebih banyak membagi-bagikan uang kepada masyarakat Martapura.

Usai membagikan hartanya Johan sempat mengajarkan ijazah amalan sholawat tersebut kepada beberapa penduduk.

Johan mengatakan, “Istiqomahlah membaca Sholawat ini, ini ijazah dari tuan guru Ijey, amalan ini rahasia pesugihan yang halal dan janganlah lupa ber amal dengan membagikan kesenanganmu pada kaummu, ” ucap Johan usai meng ijazahkan bacaan tersebut kepada penduduk.

Setelah itu Johanpun kembali pergi entah ke mana. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan