Valentine Budaya Nusantara Ciri Khas Tumpek Krulut di Bali

0
769

Tumpek Krulut merupakan perwujudan manifestasi dalam menghormati infrastruktur yang menyertai manusia dalam rangka meraih tujuan berkasih sayang antara manusia dengan manusia lain, Tuhan dan alam semesta.

Hari Tumpek Krulut jatuh pada hari Sabtu kliwon, wuku Krulut, yaitu setiap 6 bulan atau 210 hari kalender.

Dalam peringatan Tumpek Krulut umat Hindu di Bali biasa menghaturkan sesajen pada tetabuhan sebagai rasa syukur manusia terhadap kelimpahan makanan dan banyak fungsi dari alam semesta yang banyak membantu manusia. Krama Hindu di Bali selama ini merayakan hari Tumpek Krulut sebagai hari piodalan di pelinggih penyarikan di banjar – banjar. Di Hari Tumpek Krulut krama banjar mengupacarai perangkat Gamelan atau Tetabuhan.

Dalam masyarakat Bali, tetabuhan sangat identik dengan alat tabuh Gong. Oleh sebab itu Hari Tumpek Krulut juga sering disebut juga dengan Odalan Gong atau Otonan Gong yang bertujuan agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki suara yang indah dan bertaksu. Adapun sesajen yang dihaturkan pada hari Hari Tumpek Krulut diantaranya berupa peras pengambean, ajuman, tigasan, beserta tipat/ketupat gong.

Istilah dari Tumpek Krulut sendiri diambil dari nama wuku klurut penanggalan jawa dan bali yang artinya cinta, tresno atau love. Nah merujuk pada makna nama itulah Tumpek Krulut ini identik dengan hari kasih sayang atau valentine-nya Bali.

Tumpek Krulut menurut teks dari Aji Gurnitha yang menyebutkan bahwa hari yang tepat untuk mengupacarai pemaknaan gambelan yang erat kaitannya dengan rasa cinta saling asah, asih dan asuh.

Gambelan itu terdiri dari banyak instrumen. Meski berbeda-beda suara, namun ketika dipukul bersamaan sesuai fungsinya maka, akan melahirkan satu melodi atau alunan musik yang indah.

Nah, alunan indah penuh dengan rasa kasih sayang itulah yang sangat identik dengan alur kehidupan alam semesta, pencipta dan seluruh isinya.

Dimana setiap orang memiliki peranannya masing-masing, yang bertujuan untuk melengkapi satu sama lain.

Jadi untuk menjalin hubungan harmonis dengan sesama manusia, maka di situlah kita harus menjadi manifestasi gambelan atau sebaliknya.

Meski kita tahu kedudukan diri, dari kedudukan itu kita akan melaksanakan fungsi kita sepenuhnya, sehingga dengan demikian kita melengkapi satu sama lainnya untuk mewujudkan satu bunyi yang harmoni.

Alur titilaras atau nada suara gambelaan Bali adalah ndang, nding, ndung, ndeng, ndong. Nada suara ini merupakan perwujudan Panca Brahma (Sang, Bang, Tang, Ang, Ing). Dimana nada-nada tersebut merupakan perwujudan dari Bhatara Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu, dan Siwa.

Dalam gambelan kita harus mampu memadukan irama kaja-kelod, kangin-kauh, kemudian semuanya bertemu di tengah-tengah dalam bentuk cakra atau swastika (kesatuan yang indah).

Maka dari itu, setiap orang yang akan melakukan aktivitas atau prawerti/mapekerti, yang dalam bahasa Bali disebut “nyolahang dewek” harus diiringi oleh gambelan dengan rasa cinta kasih.

Artinya, ketika kita memulai atau melakukan sesuatu tindakan, lakukanlah dengan ikhlas dan penuh cinta kasih.

Dari rujukan di atas, menandakan hari kasih sayang di Bali sudah ada sejak zaman dahulu seperti hal nya hari valentine. Hanya saja, banyak orang yang belum memahami kalau Hari Tumpek Krulut merupakan hari kasih sayang. Dimana sejatinya moment Hari Tumpek Krulut adalah salah satu implementasi dari Tri Hita Karana yang melibatkan yadnya atau korban suci. Korban suci adalah bagian dari cinta yang tulus.

Karena itu, Tumpek Krulut bukanlah hari untuk gambelan Bali semata, akan tetapi juga semua alat yang menghasilkan bunyi. Bahkan alat musim modern seperti gitar sekalipun harus diperlakukan sama. (dats)

Tinggalkan Balasan