Candi Singosari Wujud Penghormatan Kepada Kartanegara

0
898

Candi Singosari merupakan salah satu peninggalan sejarah dari kerajaan Singosari. Candi yang berada di Jl. Kertanegara No.148, Candirenggo, Singosari, Malang, Jawa Timur ini, merupakan candi yang memiliki sejarah panjang dalam perintisannya. Candi dengan corak Hindu-Budha ini, ditemukan pada abad ke 18, sekitar tahun 1800 sampai 1850-an oleh bangsa Belanda.

Saat pertama kali ditemukan, pihak Belanda menamai candi tersebut dengan nama candi Merana. Dikatakan demikian, pasalnya bentuk dari candi ini mirip dengan bangunan menara. Dari segi arsitekturnya, meski hanya satu candi, namun Candi Singosari mempunyai sebuah keunikan yaitu, seolah mempunyai dua tingkat bangunan.

Selain itu, Candi Singosari juga memiliki hiasan yang ada diluar candi yang seharusnya rata namun, pada Candi Singosari ini tidak demikian. Hal ini disebabkan karena saat pembuatannya yang masih belum selesai, lalu langsung ditinggalkan.

Berdirinya Candi Singosari ini ditujukan sebagai wujud penghormatan kepada raja Kartanegara dimana, beliau adalah raja terakhir di kerajaan Singhasari. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tulisan sejarah pada kitab Negarakertagama. Selain itu juga terdapat pada sebuah prasasti yang ditemukan pada pelataran candi yakni Prasasti Gajah Mada.

Raja Negarakertagama tertulis wafat pada tahun 1292 yang disebabkan adanya penyerangan oleh pasukan Raja Jayakatwang. Ada beberapa ahli memiliki pendapat bahwasannya dalam pembangunan Candi Singosari ini tidak pernah selesai dan untuk kegiatan renovasi pada candi ini dilakukan pada tahun 1934 sampai dengan 1936 yang dilakukan oleh pemerintah Hindia.

Adapun dalam pembuatan Candi Singosari ini, hanya dengan menumpuk bebatuan andhesit sampai mencapai ketinggian tertentu. Lalu akan diteruskan untuk mengukirnya dari atas dan turun kebawah. Letak candi ini di lembah yang berada diantara celah gunung Arjuna dan pegunungan Tengger.

Baca Juga:  Tiga Pusaka Pangeran Samber Nyowo Saksi Babat Dinasti Mangkunegaran

Ada salah seorang ahli purbakala yang berasal dari Eropa, pernah juga memberikan nama candi ini dengan nama candi Cella yang merupakan gantian nama dari candi Menara. Dengan adanya nama tersebut, para masyarakat sekitar tidak setuju dengan nama yang demikian. Hungga pada akhirnya dan sampai sekarang ini nama yang dipakai yaitu Candi Singosari.

Jika dilihat dari segi struktur candi, pada umumnya Candi Singosari ini memberikan sebuah penyimpangan dalam sebuah bentuk badan yang berkesan menjulang ramping dan ditopang dengan kaki candi yang ada diatas batu.untuk kaki candi yang tambun tersebut merupakan sebuah perubahan dari bangunan induknya. Jadi, pada tubuh candi akan terangkat agak lebih tinggi.

Beberapa arca yang ada di kaki candi berbentuk bangunan. Tubuh candi sudah dirancang dengan tidak mempunyai ruangan untuk tempat arca seperti halnya candi Hindu. Namun, untuk gantinya dibuat dengan relung-relung yang tidak dalam pada setiap sisi pada dinding luar arah empat mata angin.

Penyimpangan struktur tersebut bukan suatu hal yang kebetulan dan atas dasar kreatifitas arsiteknya. Pastinya akan ada berbagai sebab dan pertimbangan yang dapat melatar belakangi kreatifitas para arsitekturnya. Pada puncak dari bangunan tersebut sekarang tampak lebih pejal. Seakan puncak dari Candi Singosari ini rata. Sehingga pada bagian badan terlihat lebih menjulang, dan untuk kaki candi lebih terlihat tambun.

Sampai saat ini, selain sebagai tempat wisata, candi Singosari masih rutin digunakan sebagai tempat peribadatan bagi ummat Hindu yang datang dari seluruh pelosok Nusantara. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here