Beranda Sejarah Liku Ratu Ken Dedes Berawal Dari Kutukan Ayahhanda Mpu Purwa

Liku Ratu Ken Dedes Berawal Dari Kutukan Ayahhanda Mpu Purwa

0
2006

Sosok putri Ken Dedes sang permaisuri dari pendiri kerajaan Tumapel (Singhasari) yang bernama Raja Ken Arok. Selain dikenal ayu rupawan Ken Dedes, juga dianggap sebagai leluhur ibunda dari raja-raja yang berkuasa di Nusantara. Adapun salah satunya nenek moyang wangsa Rajasa, trah yang berkuasa di Singhasari dan Majapahit. Dari cerita lokal menyebutkan, ia sebagai wanita yang memiliki kecantikan luar biasa atauvperwujudan kecantikan yang sempurna bagai bidadari.

Dari Pararaton, Ken Dedes adalah putri dari Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha dari desa Panawijen. Dikisahkan, pada suatu hari akuwu Tumapel Tunggul Ametung singgah di rumahnya. Saat pandangan pertama pada Ken Dedes, Tunggul Ametung jatuh hati padanya dan singkat cerita, akuwu Tumapel itu, segera mempersunting Ken Dedes. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu.

Namun, Tunggul Ametung tidak kuasa menahan diri. Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi. Ketika Mpu Purwa pulang ke rumah, ia marah mendapati putrinya telah diculik. Ia pun mengutuk barangsiapa yang telah menculik putrinya, maka ia akan mati akibat kecantikan Ken Dedes.

Diceritakan, dalam berjalannya kutukan Mpu Purwa, Tunggul Ametung memiliki pengawal kepercayaan bernama Ken Arok. Pada suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan Baboji. Ketika turun dari kereta, kain Ken Dedes tersingkap sehingga auratnya yang bersinar terlihat oleh Ken Arok. Ken Arok menyampaikan hal itu kepada gurunya, yang bernama Lohgawe, seorang pendeta dari India. Menurut Lohgawe, wanita dengan ciri-ciri seperti itu disebut sebagai wanita nareswari yang diramalkan akan menurunkan raja-raja besar.

Mendengar ramalan tersebut, Ken Arok semakin berhasrat untuk menyingkirkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes. Maka, dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung sewaktu tidur. Yang dijadikan kambing hitam adalah rekan kerjanya, sesama pengawal bernama Kebo Hijo. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes, bahkan menjadi akuwu baru di Tumapel. Ken Dedes sendiri saat itu sedang dalam keadaan mengandung anak Tunggul Ametung.

Baca Juga:  Sengketa Pucuk Pimpinan Rakyat Dalam Terbentuknya TNI

Lebih lanjut Pararaton menceritakan keberhasilan Ken Arok menggulingkan Kertajaya raja Kadiri tahun 1222, dan memerdekakan Tumapel menjadi sebuah kerajaan baru yang bernama Kerajaan Singosari. Dari perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok, lahir beberapa orang anak yaitu, Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya dan Dewi Rimbu.

Sedangkan dari perkawinan pertama dengan Tunggul Ametung, Ken Dedes dikaruniai seorang putra bernama Anusapati. Seiring berjalannya waktu, Anusapati merasa dianaktirikan oleh Ken Arok. Setelah mendesak ibunya, akhirnya ia tahu kalau dirinya bukan anak kandung Ken Arok. Bahkan, Anusapati juga diberi tahu kalau ayah kandungnya telah mati dibunuh Ken Arok. Maka, dengan menggunakan tangan pembantunya, Anusapati membalas dendam dengan membunuh Ken Arok pada tahun 1247.

Hingga saat ini, bukti – bukti sejarah berliku nan terjalnya sosok Ibu Negeri Ken Dedes masih berdiri kokoh utamanya di Kota Apel Malang. Salah satunya di Petirtaan Ken Dedes yang air sendangnya sejuk dan jernih. Di area wisata ini seakan mengingatkan kita pada suasana bertahun-tahun yang lalu saat kerajaan Singosari sedang berjaya di bawah pimpinan sang raja yang terkenal yakni Ken Arok. Petirtaan Watugede sebutan lain untuk Petirtaan Ken Dedes ini, dibangun pada sekitar tahun 1200-an, masa di mana Kerajaan Singosari berjaya di Tanah Jawa.
Petirtaan Ken Dedes merupakan Kaputren untuk para putri-putri raja yaitu, sebuah tempat bermain dan mensucikan diri. Terletak di Kabupaten Singosari, salah satu Kabupaten yang ada di Kota Malang yang sejuk, menjadikan pemandian atau Petirtaan Ken Dedes sangat nyaman untuk dikunjungi.

Rindangnya pepohonan menambah keteduhan suasana yang diberikan petirtaan ini. Konon, nama Petirtaan Ken Dedes diambil dari sebuah nama putri cantik jelita, yang merupakan anak seorang Raja Tumapel. Pada masa kejayaan petirtaan, hanya putri beserta dayang saja yang dapat memasuki area pemandian Petirtaan Ken Dedes, para pria tak diperkenankan masuk apalagi berbaur bersama putri raja. Terdapat sebuah sumur di pojok Petirtaan Ken Dedes dan Palinggih yaitu tempat bersembahyang untuk umat hindu. Palinggih biasanya digunakan untuk meletakkan sesaji yang diperuntukan bagi para dewa umat hindu yang dipercaya bersemayam disekitar tempat ini.

Baca Juga:  Muasal Reruntuhan Candi Deres Dari Perjalanan Hayam Wuruk

Disamping Palinggih, terdapat pula pohon yang diperkirakan masyarakat setempat telah tumbuh kokoh bersamaan dengan berdirinya Petirtaan Ken Dedes. Masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan pohon “elo” atau Ara. Selain itu, di petirtaan ini juga terdapat arca berbentuk manusia berkepala kera dan mengeluarkan air yang memiliki fungsi untuk mengisi kolam.

Sebagai putra – putri penerus sejarah lampau, seharusnyalah kita tergugah untuk senantiasa melestarikan tinggalan lampau tersebut. Sehingga kelak, tinggalan-tinggalan nan arif tersebut dapat tetap berjaya dinikmati anak cucu bangsa ini. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here