Asal-usul Budaya Mitoni dan Simbolis Kearifan Leluhur

0
2725

Salah satu upacara adat yang kerap dilakukan oleh orang jawa juga umat Islam di Indonesia ialah acara nujuh bulan atau dalam tradisi Jawa disebut mitoni atau tingkeban. Acara tersebut kerap dilakukan guna memanjatkan syukur atas kehamilan calon ibu pada saat usia kandungan memasuki umur 7 bulan.

Biasanya dalam acara ini segenap tamu undangan, diminta membaca surat Luqman atau Maryam bersama-sama dan mendoakan janin yang sedang dikandung agar dilindungi oleh Allah hingga ia lahir, dan kelak menjadi anak yang saleh atau salehah. Di akhir acara, biasanya tuan rumah juga akan menyuguhi tamu undangan dengan sedekah berupa jamuan makanan.

Untuk diketahui, proses terjadinya manusia merupakan peristiwa yang sangat menakjubkan, sebagai tanda keagungan Sang Pencipta untuk mahluknya. Berwujud dari benda yang tidak bernilai berupa cairan sperma dan ovum secara bertahap berubah hingga akhirnya sempurna dan lengkap dengan anggota badan yang tersusun rapi dan rumit, bahkan dilengkapi dengan akal pikiran, budi pekerti dan perasaan.

Ajaran Islam di jawa, bisa dinyatakan telah kuat jika sudah mentradisi dalam masyarakat. Sehingga tradisi menjadi sangat menentukan dalam keberlangsungan ajaran disaat tradisi itu telah menyatu dengan ajaran. Karena tradisi merupakan darah daging dalam tubuh masyarakat, sementara mengubahnya adalah sesuatu yang sangat sulit, maka sangatlah bijaksana ketika tradisi tidak diposisikan berhadapan dengan ajaran, tetapi sebagai pintu proses masuk suatu ajaran.

Nah pada kesempatan kali ini, sejarah-budaya.com akan menguak asal – usul dan sejarah tingkeban /mitoni dari muasal orang jawa di Nusantara.

Adapun terkait sejarah dan asal-usul tradisi tujuh bulanan/tingkeban/mitoni ini, berawal pada masa Prabu Jayabaya. Diceritakan, waktu itu ada sepasang suami istri bernama Niken Satingkeb dan Sadiya, mereka melahirkan bayi sembilan kali namun tidak satupun yang hidup.

Kemudian, keduanya menghadap raja Kediri, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya), mereka disarankan agar menjalankan tiga hal yaitu: Setiap hari rabu dan sabtu, pukul 17.00, diminta mandi menggunakan tempurung kelapa (bathok) yang gagangnya memakai kayu kemuning.

Setelah mandi berganti pakaian yang bersih dengan memangku kelapa gading yang digambari Arjuna dan Shinta yang diikat dengan daun tebu hitam lalu dibrojolkan (jatuhkan dari pangkuan) kebawah, setelah kelapa gading tadi dibrojolkan, lalu diputuskan menggunakan sebilah keris oleh suaminya. Setelah ikatan terputus buru-buru sang calon nenek dari suami mengambil kelapa yang yerlebih dulu jatuh lantas menggendong layaknya kelapa itu sebagai bayi.

Konon, setelah melakukan upacara tersebut, Niken Satingkeb dapat hamil dan melahirkan anaknya dalam kondisi mudah dan hidup. Akhirnya, sejak saat itu apabila ada orang hamil apalagi hamil pertama dilakukanlah upacara tradisi tingkeban atau mitoni yang tujuannya agar anak yang lahir beserta ibunya dapat selamat dan sehat.

Dalam prosesi Tingkepan yang dilakukan tersebut, sejak dahulu bukan merupakan pengamalan ajaran agama Hindu, Buda, maupun Muslim. Akan tetapi bentuk transformasi dari suatu ajaran melalui sendi budaya dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat Jawa.

Terangkum dalam berbagai sumber, prosesi mitoni ini, diawali dengan gelar siraman yang dilakukan oleh sesepuh dan suami. Namun dari metamorfosa pengembangan budaya oleh wali 9, sebelum acara siraman dimulai biasanya terlebih dahulu dibuka dengan pembacaan Q.S. Al-Fatihah, Al-ikhlas 3x, al-falaq 1x, an-nas 1x, dan ayat qursi 7x atau membaca surat Luqman dan Maryam. Pada jaman dahulu tradisi siraman ini biasa dilakukan di sumber air dengan cara memandikan calon ibu yang hamil. Sesepuh atau keluarga yang bertugas menyiram biasanya sebanyak tujuh orang termasuk calon ayah dari jabang bayi. Adapun Siraman ini merupakan gambaran agar kelahiran bayi kelak suci bersih. Sedang tujuh orang berasal dari bahasa Jawa yaitu pitu, yang berarti pitulungun (pertolongan). Agar kelak bayi dapat dilahirkan dengan mendapat pertolongan Tuhan. Setelah itu dilanjutkan dengan memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain wanita hamil oleh sang suami melalui perut sampai menggelinding ke bawah dan pecah. Hal ini sebagai simbol dan harapan semoga bayi yang akan lahir mendapatkan kemudahan, seperti menggelindingnya telur tadi.

Adapun sesajen siraman berupa gedang raja setangkep, tumpeng robyong, tukon pasar, umpluk-umpluk yang berisi: 1. Kuali { beras & telur }, 2. Lendi { Banyu & Gabah+dadap ayep}, 3. Jupak { minyak goring & kapas} yang disulut api: melambangkan semangat hidup. Tumpeng berisi: ayam jawa, kelapa, gula, teh dan Jajan pasar.

Selanjutnya, upacara ganti busana dilakukan dengan jenis kain sebanyak 7 (tujuh) buah dengan motif kain yang berbeda. Motif kain dan kemben yang akan dipakai dipilih yang terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain. Motif kain tersebut diantaranya,

  1. Wahyu Tumurun: maknanya agar bayi yang akan lahir senantiasa menjadi orang yang mendekatkan dir,i selalu mendapat Petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT.

  2. Sido Asih: maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu di cintai dan dikasihi oleh sesama serta mempunyai sifat belas kasih

  3. Sidomukti : maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang mukti wibawa, yaitu berbahagia dan disegani karena kewibawaannya.

  4. Truntum: maknanya agar keluhuran budi orangtuanya menurun (tumaruntum) pada bayi.

  5. Sidoluhur: maknanya agar anak menjadi orang yang sopan dan berbudi pekerti luhur.

  6. Parangkusumo: maknanya agar anak memiliki kecerdasan bagai tajamnya parang dan memiliki ketangkasan bagai parang yang sedang dimainkan pesilat tangguh. Diharapkan dapat mikul dhuwur mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua serta mengharumkan nama baik keluarga.

  7. Semen Romo: maknanya agar anak memiliki rasa cinta kasih kepada sesama layaknya cinta kasihRama dan Sinta pada rakyatnya.

  8. Udan Riris: maknanya agar anak dapat membuat situasi yang menyegarkan, enak dipandang, dan menyenangkan siapa saja yang bergaul dengannya.

  9. Cakar Ayam: maknanya agar anak pandai mencari rezeki sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi, syukur bisa kaya dan berlebihan.

  10. Grompol: maknanya semoga keluarga tetap bersatu, tidak bercerai-berai akibat ketidakharmonisan keluarga (nggrompol : berkumpul).

Kain terakhir yang dipakai bermotif sidamukti. Makna simboliknya dapat dirunut dari makna kata sidamukti yang berarti menjadi mukti (mulia/patuh) atau bahagia. Kain sidamukti yang dikenakan diikat dengan tebu tulak / benang putih /janur kuning. Kemudian ikatan tersebut dipotong oleh suami menggunakan sebilah keris. Adapun makna dari Tebu tulak, berlambang tolak bala, agar anak dapat lolos dari berbagai halangan hidup dengan mudah. Benang putih (lawe) simbol simpul kelahiran telah terbuka, sedangkan janur kuning yang diikatkan pada perut wanita sebagai pertanda bahwa suami istri tersebut telah mendapatkan cahaya janur atau Nur Jannah (cahaya surga). Cahaya tersebut harus diraih dengan rintangan atau kesulitan, sehingga suami harus mengatasinya dengan cara memotong janur. Pemotongan janur berarti upaya mengatasi kesulitan. Sebelum pemotongan tali dimulai biasa diawali dengan pembacaan Al-Fatihah dan bacaan Robbi shrohli shodri wa yassirli amri wahlul uqdatanm millisani yafqohu qouli 3x.

Kemudian, upacara brojolan atau memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Janaka dan Srikandi atau Komojoyo dan Komoratih ke dalam sarung dari atas perut calon ibu ke bawah. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar kelak bayi lahir dengan mudah tanpa adanya kesulitan.

Secara simbolis gambar Janaka dan Srikandi pada kelapa melambangkan jika si bayi lahir akan elok rupawan dan memiliki sifat-sifat luhur seperti tokoh yang digambarkan tersebut, mereka merupakan tokoh ideal orang Jawa.

Usai brojolan, upacara memecahkan periuk dan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa yang bergagang kayu kemuning. Maksud dari memecah tempurung (yang dalam bahasa jawa tersebut Cengkir) agar si jabang bayi kelak, dapat memiliki kelurusan fikir (kencenge pikir / Cengkir) dalam mengarungi bahtera hidup. Selain itu, juga memberi sawab (doa dan puji keselamatan) agar nanti kalau si ibu masih mengandung lagi, kelahirannya juga tetap dipermudah.

Usai prosesi diatas, Ibu hamil jufa melakukan tradisi jual dhawet dan rujak. Biasanya yang bertugas membeli, jualan tersebut adalah segenap tamu undangan menggunakan uang buatan (kreweng) atau pecahan genteng. Uang tersebut dimasukkan ke dalam kuali dari tanah. Kuali yang berisi uang replika tersebut dipecah di depan pintu oleh ibu hamil. Hal ini bermakna agar kelak bayi yang lahir akan banyak mendapatkan rezeki dan gemar bersedekah.

Dalam prosesi kenduri sebagai syukuran Pada saat ini, ada beberapa ubarampe (sesaji) yang biasanya perlu dipersiapkan, diantaranya: Tumpeng kuat, yaitu tumpeng berjumlah tujuh. Satu di antara tumpeng itu dibuat paling besar dan enam yang lain, diletakkan mengelilingi tumpeng besar. Bilangan tujuh menggambarkan umur bayi tujuh bulan. Sedangkan makna tumpeng kuat, sebagai lambang agar bayi yang lahir sehat wal afiat dan orangtuanya diberi kekuatan lahir dan batin.

Jenang putih dan merah dipadu sebanyak 7 macam, simbol jenang putih melambangkan laki-laki sedangkan jenang merah melambangkan perempuan.

Terakhir yaitu upacara menyeret tikar atau kloso bagi orang yang pertama kali keluar dari ruang kenduren/rumah, hal ini mempunyai maksud agar bayi dipermudah dalam kelahiran/keluar dari rahim.

Kesimpulan
Tradisi adat Jawa tujuh bulanan (tingkeban/mitoni) merupakan bagian tradasi dari budi pekerti orang Jawa yang memiliki makna filosofis dalam kehidupan. Dari berbagai simbol tindakan dan ritual tingkeban/mitoni tersebut tampak bahwa masyarakat Jawa memiliki harapan keselamatan yang dikemas dalam simbol budaya. Tradisi ini memang merupakan kombinasi ajaran baik dari Hindu, Buda Kejawen bahkan Islam.

Namun, sebagaimana wawancara tradisi ini sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, yaitu permohonan kepada sang pencipta dalam rangka keselamatan dan kebahagiaan bagi pasangan. Paling tidak, dari tradisi ini terkandung nilai-nilai filosofis dalam kehidupan, antara lain: pertama, melestarikan tradisi leluhur dalam rangka memohon keselamatan. Dalam qaedah ushul fikh disebutkan “al-muhafazhah ‘ala qadim ash-shalih, wal ahdzu bil jadidi al-ashlih” (Melestarikan tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Kedua, menjaga keseimbangan, keselarasan, kebahagiaan, dan keselamatan (slamet, ora ono apo-apo). Ketiga, karakter masyarakat Jawa yang berpikir asosiatif. Keempat, proses penyucian diri (tazkiyatun nafsi) ketika memohon kepada Allah Swt. (Tuhan Yang Maha Kuasa), ke lima sebagai simbol silaturahmi.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menggugah segenap pembaca untuk tetap dapat melestarikan tinggalan bidaya arif dari leluhur. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here