Beranda Tokoh Segudang Karomah Kyai Togo Ambarsari, dari Ahli Sains hingga Membendung Banjir

Segudang Karomah Kyai Togo Ambarsari, dari Ahli Sains hingga Membendung Banjir

0
2588

Kyai Togo Ambarsari kebanyakan orang mengenal julukan Kyai yang satu ini bernama Ki. Sariman. Ketenaran Togo Ambar Sari memang tidak sebesar K.H. Hasyim Asy’ari dalam perjuangan dan mempertahankan republik ini, atau tidak sekuat Sheikh Nawawi al-Bantani yang di akui kemampuan sainsnya di seluruh dunia.

Namun, Kyai Togo Ambar Sari juga merupakan putra bangsa yang layak digugu dan ditiru menjadi panutan bagi generasi penerus.

Banyak versi terkait julukan ki Togo Ambar Sari dan apa arti julukannya namun, ada riwayat yang mengatakan bahwa, nama tersebut diberikan oleh gurunya Kyai Hasan Genggong saat ia sowan bersama dengan mertuanya.

Saat itu gurunya Kyai Hasan berkata “Molaen satia enyamain Togo Ambar Sari, ben tongguen Bendebesah” (mulai sekarang di namai Togo Ambar Sari, kamu adalah tempat pengaduan orang Bondowoso). Mulai saat itu sosok karismatik yang penuh dengan kesederhanaan menjadi tempat “pengaduhan” bagi masyarakat Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo dan sekitarnya.

Al-kisah kesederhanaan Kyai Togo Ambarsari saat mendapat undangan dari KHR. As’ad Syamsul Arifin, dalam rangka peresmian madrasahnya.

Kyai Togo Ambarsari hadir bersama tokoh besar lainnya, termasuk Kyai Mino, Kyai Hosnan, dan lain-lain. Dalam acara itu, ratusan mata pengunjung terpaku pada tokoh ‘ulama’ yang satu ini. Pasalnya, dalam acara yang berlangsung dengan megah, dan meriah dihiasi pernak-pernik itu, sosok Kyai Togo tampil dengan kesederhanaan, berpakaian seperti dalam kehidupan sehari-hari.

Konon, setiap tamu yang sowan pada beliau, sama sekali tidak diperkenankan memberikan uang cabisan namun segenap tamu yang ingin bersodakoh meletakkan uang di sela anyaman bambu pagar dinding rumah beliau.

Tepat pada tanggal 27 April 1997, Semua sangat bersedih dan berduka, terutama kota Bondowoso, karena ‘Alam ad-Din (Ikon agama), Kyai Togo Ambar Sari meninggal dunia kembali ke Rahmatullah. Bergemuru masyarakata Bondowoso di saat mendengar kepergiannya. Ribuan orang yang berdatangan secara bergiliran, datang untuk membacakan doa sampai ke tempat makam.

Kyai Togo sebelum diganti nama Sariman adalah bernama Madra’i yang lahir di dusun gerdu salak Desa Tangsil Wetan, Kecamatan Wonosari. Disebut dusun gerdu salak, konon katanya desa itu dipenuhi dengan tanaman salak, terutama di daerah aliran sungai. Adapun tentang tanggal lahir beliau, tidak ada data yang valid tentang keabsahan tanggal lahirnya.

Namun, kelahirannya di perkirakan pada akhir abad ke-18 Masehi. Hal ini bisa di maklumi, karena penduduk saat itu tidak banyak memperhatikan dan mencatat tanggal lahirnya. Prediksi ini tidak berarti tanpa data. Salah satunya adalah mbah Cong (Mukhlis), orang tua K.H Mudarris yang merupakan teman pondok saat berada di daerah paciran Mangaran Situbondo. Mbah Mukhlis berusia 125 tahun di tahun 2008, saat kematiannya.

Sebelumnya mamang ahlul warisi diprediksi saat wafatnya, kyai Togo berusia 110 tahun. Mengacu pada pernyataan di atas, Kyai Togo lahir sekitar tahun 1885-1890. Prediksi lainn adalah mengitung jarak kelahiran putra-putra beliau. Saat anak kedelapan lahir pada tahun 1955, sedangkan jika waktu jarak antara anak laki-laki dan anak laki-laki lainnya adalah 4 tahun. Dengan demikian, masa kelahiran semua anaknya adalah 32 tahun. Jika di kalkulasi sehingga beliau menjalani rumah tangga sejak tahun 1923 dan jika pada masa perkawinannya seorang pemuda berusia 25 tahun atau lebih karena santri. Dengan demikian, ia lahir antara tahun 1895-1905. Namun, ramalan ini membutuhkan penelitian yang lebih mendalam agar bisa siap untuk suatu tujuan berdasarkan hasil tertulis dan hasil seseorang yang bersamanya.

Kyai Togo Ambarsari sendiri adalah al-Allama al-Arifbillah yang tidak di ragukan lagi kewaliannya lahir dari seorang abid bernama Magidin yang berpasangan dengan Safinah yang dikatakan sebagai sosok wanita yang ahli berpuasa. Kyai Magidin sendiri memiliki 4 putra. Pertama, Madra’i (Kyai Togo). Kedua, Syafiuddin. Ketiga, Radiyah. Keempat, Suhdin. Secara umum di masyarakat desa nama anak pertama sebagai nama bapaknya. Oleh karena itu, Magidin pada waktu itu disebut bapak Madra’i. Yang sudah di ceritakan di atas Kyai Togo lahir dari pasangan Kyai Magidin dan Nyai Safinah dari garis silsilah ayah Kyai leluhur Togo asal Kyai Togo yang berasal dari desa Tegal Mojo yang konon sepupu di sana nenek moyang masyarakat di desa tersebut adalah bujuk lidah dari pulau garam Madura.

Salah satu putra Bujuk Lidah adalah Kyai Sainyo. Sementara Kyai Sainyo sendiri adalah kakek almarhum Kyai Togo Ambarsari. Dari jalur ibu, kakek kyai Togo adalah Bujuk Reduh. Bujuk Reduh merupakan kepala desa tangsel basah pertama. Nama sebenarnya adalah H. Sueb. Konon, julukan itu disematkan padanya karena pelantikan hujan deras. Padahal, menurut beberapa sesepuh penduduk desa, setiap orang tak kalah senang dengan sesuatu, lalu hujan deras. Menurut informasi yang diperoleh, Nyai Safinah adalah anak perempuan Sajiyah dimana Sajiyah sendiri adalah anak pertama dari Bujuk Reduh. Kyai Togo yang terkenal dengan zuhudannya itu memiliki delapan anak nikah dengan nyai Yahyana. Pertama, Asmina (Almarhum). Sibayak kedua (Alm). Syafi’i ketiga (alm). Keempat, Toha (KH Farisi). Kelima, Hasan (alm, KH Zubair). Keenam, abdul Halim. (alm). Ketujuh, Muhammad (alm). Kedelapan, Drs.KH. Salwa Arifin. Menurut Ahlul Bait dan beberapa santri sepuh, Kyai Togo Kecil dulu belajar ilmu ke H. Abdul Gaffar, desa tangsel. Sebelum melalui petualangan ilmiahnya, kyai Togo memiliki masa kanak-kanak kecil di daerahnya -Tangsel Wetan – saat kecil bermain dengan teman-temannya. Tidak ada data tertulis tentang kebangkitan kembali tokoh Kyai Togo. Namun, banyak di akui orang kyai togo disebut kutu buku sebelum akhirnya mengambil jalan zuhudnya. Setelah bisa mengaji Alquran, Beliau memperoleh kesempatan untuk mencari ilmu ke beberapa pesantren. Menurut Drs. KH. Salwa Arifin, almarhum pernah berguru di daerah Bangsal, Jember, Jawa Timur dengan nama gurunya adalah KH. Ilyas walaupun menurut beliau mondoknya cukup singkat. Ia juga telah menimba ilmu yaitu di wilayah pacenan Kabupaten Sitaran dalam bimbingan KH. Sholeh. Konon menurut pengurus pondok pecenan ketiga KH. Abdul latif, cucu KH. Sholeh, kiai Togo nyantri di pecinan sebelum 1922. Ini berdasarkan tahun berdirinya masjid yang berada tepat di sebelah gubuk. Sebelum masjid dibangun, santri pacenan sholat jum’at di masjid yang berada di kecamatan sekitar 15 km jaraknya. Selanjutnya, menurut KH. Abdul latif, kyai Togo termasuk generasi penerus yang nyantri di pondok pecenan yang setiap Jumat masih menggelar sholat Jum’at di masjid yang berada di Kabupaten Mangaran. Di pondok, kyai togo sangat membangun ilmu haliyah (tata krama) sehingga membentuk dirinya sebagai pribadi yang luhur. Ada sebuah cerita menarik saat menimba ilmu di pacenan, burung merpati milik gurunya tergantung di atas bambu. Disuruh kyai untuk naik bambu mengambil burung. Meski bambu keropos, beliau langsung mengambil sangkar burung di bambu tanpa memperdulikan bambu keropos karena ta’diman (hormat) kepada gurunya. Tanpa diduga bambu yang dipanjat tidak patah. Barulah pada saat kyai Togo turun maka, bambu itu patah.

Juga almarhum telah menimba ilmu pengetahuan ke wilayah Besuki. Hal ini menurut Mas Sofwan, cucu pengasuh yang pernah membimbing almarhum. Santri masa lalu, Kyai Togo menanamkan kemandiriannya sampai meleket di dalam dirinya, melakukan riyadhoh tanpa henti dan lelah, belajar tanpa kenal waktu dan usia. Merasa tidak puas dengan ilmunya tersebut, beliau melanjutkan pengetahuan mengembara ke pesantren Zainul Hasan, Genggong Probolinggo.

Di pesantren ini, Kyai Togo belajar sekitar 10 tahun. Di pesantren ini juga, cerita unik tentang diri Kyai Togo dimulai, ini tidak terlepas dari riyadhoh-riyadhoh yang beliau lakukan. Diantara riyadhohnya adalah puasa dan sedikit tidur. Ada cerita tak kalah dengan cerita diatas pada saat beliau nyantri di Genggong, sejak awal nyantri sampai satu minggu, tiba-tiba dia jatuh pingsan seusai sholat Jum’at karena tubuhnya lemas. Dari sini nampak jelas dia memurnikan jiwa dan raga sebelum menerima ilmu dari gurunya. Inilah akhirnya dia membuat dirinya menjadi seorang ulama ‘kharismtik’ pada akhirnya.

Namun, riyadhoh yang paling unik yang dilakukan adalah menunggu dan membalikkan sandal kyai. Sehingga gurunya tidak repot saat akan keluar. Hal ini selalu dilakukan sampai akhir beliau nyantri di sana. Namun, sosok Kyai Togo tidak berarti tidak pernah belajar saat nyantri di pondok Kyai Hasan Genggong. Dikatakan bahwa beliau selalu belajar saat santri lainnya sedang tidur. Cara beliau belajar sangat berbeda dengan cara belajar santri lainnya. Beliau belajar otodidak (otodidak) dan mengulangi apa yang telah didapat.

Beliau belajar di kamarnya (sekarang Kamar C 2) menggunakan bola lampu stongking, satu-satunya cahaya di mushalla yang cahayanya menembus di sela penghalang anyaman bambu. Dalam upaya untuk meningkatkan pengetahuannya, Beliau selalu dalam bimbingan KH. Saifuddin, menantunya Kyai Hasan Genggong. Meski tidak secara terbuka mengikuti pengajian di mushalla di bawah bimbingan langsung Kyai Hasan. Beliau selalu mendengarkan pengajian yang diberikan gurunya dibelakang kamarnya.

Baca juga: Karomah Kh. Hasan Sepuh Genggong

Hal ini, menurut perawi santri senior di sana, Kyai Togo adalah malingnya sains. Hal ini dilakukan karena begitu hanya untuk melayani. Beliau adalah salah satu dari banyak santri yang menggantikan posisi Kyai Hasan dalam memberikan sebuah studi kepada santri di mushallah saat Kyai Hasan tidak dapat mengajar di mushalla. Saat disandingkan dengan Kyai-Kyai telah sekaliber KH. Hasyim Asy’ari, KH. Badruzzaman (1990 – 1972), KH. Bisri Mustofa (1915 -1977) dan lainnya, Kyai Togo tergolong tidak menonjol di bidang penulisan. Hal Ini terbukti sedikit sebuah buku yang ditulis nya, bisa di katakan tidak ada hasil melalui sentuhan penanya.

Sejauh ditemukan, satu-satunya karya yang dihasilkan oleh Kyai Togo adalah manuskrip yang mengandung zikir. Buku ini bukan asli melainkan salinan dari gurunya. Namun, bukan berarti dia tidak memiliki pikiran sendiri. Dengan kata lain, tipologi pemikirannya bisa dilihat dari perilaku selama hidupnya, baik dari kata-katanya maupun tindakannya. Tidak masuk akal, bila tindakan orang saleh tidak didasarkan pada keilmuannya. Misalnya, mengerjakan shalat Idul Fitri saat fajar. Agak mengejutkan kalangan intelektual pesantren saat ada pembicaraan semacam itu. Tapi, bukan berarti itu terlepas dari kerangka spiritual intelektualnya.

Sementara itu, gaya berpikir Kyai Togo yang bisa ditangkap dari manuskrip yang ada diatas, terlihat jelas adalah mutasawuf yang begitu dalam.

Dalam manuskrip ini tersirat bahwa pantulannya sufistik. Pertama, ilmu penganggaran. Itulah ilmu yang membahas tuntunan dan visi hati. Kedua, ilmu ketulusan. Ketiga ilmu ini memiliki hubungan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. Menurut penuturan murid-muridnya, perbuatan yang didasarkan pada ketulusan tanpa keyakinan, maka perbuatan itu tidak ada artinya. Begitu juga keyakinan tanpa ketulusan bukan perbuatan tak ternilai. Selanjutnya menurut Kyai Togo diterjemahkan oleh KH. Mudarris, semua shalat bisa diterima bila berdasarkan hati yang bersih, tulus dan percaya diri. Mengenai manusia biasa pada umumnya, Kyai Togo adalah manusia biasa dengan segala sifat manusia yang ada di dalam dirinya. Dia makan, minum, menikah, bekerja dan sebagainya. Dia juga merasakan apa yang manusia pernah rasakan, mulai dari masa kanak-kanak sampai akhir hayatnya seperti rasa sakit dan kesehatan, bahagia dan sedih, menyendiri dan bersosialisasi. Sosok Kyai Alumnus Genggong ini memulai hidupnya di masyarakat dengan menjalani tabir kehidupan rumah tangga dengan menyunting putri Nyai Yahyana dan Ahmad. Dikatakan bahwa Nyai Yahyana masih keturunan bujuk reduh dari jalan ibunya. Bujuk reduh memiliki empat putra. Putra pertama, Sajiyah. Putra kedua, Trawih. Anak ketiga, Rufi. Anak ke empat, Sardiyan. Dari sardiyan inilah orang tua Nyai Safinah dan kakek dari yahyana nyai dari jalur ibunda nya. Ada cerita menarik saat Kyai Togo menikahi Nyai Yahyana. Saat itu Kyai menikahi Nyai Yahyana dengan mas kawin menghatamkan Alquran. Setelah sampai 7 hari menghatamkan Al Quran Kyai mengabarkan kepada mertua yang telah menghatamkan Alquran dalam waktu seminggu. Ayah mertua, ayah Ahmad kurang begitu percaya kepadanya. Akhirnya, menyuruhnya menghatamkan lagi. Sesampainya 3 hari kemudian, al-Maghfullah, Kyai Togo menghadap mertua untuk menyatakan telah hatam al-Qur’an. Mertua masih kurang percaya diri pada menantu masa depannya sehingga dia bisa menghatamkan al-Qur’an dalam 3 hari. Dikatakan lagi Kyai Togo untuk menghatamkan Alquran lagi! Sehari kemudian, Kyai Togo menghadap ayah mertuanya dengan niat yang sama seperti kemarin. Setelah, mengahadap mertua untuk meyakinkan dirinya sebagai satu-satunya calon mertua pilihannya. Kyai Togo diajak sowan pada gurunya (kyai Hasan) sebelum dinikahkan.

Sesampainya di tempat tujuan, Kyai Togo dan mertuanya diterima oleh Kyai Hasan. Namun di sela-sela perbincangan, Kyai Togo disuruh membersihkan dalem (dicuci dengan baik. Setelah membersihkan ruangan, Kyai Hasan berkata “Molaen satia enyamain Togo Ambar Sari, ben tongguen Bendebesah” (mulai sekarang di namai Togo Ambar Sari, kamu adalah tempat pengaduan orang Bondowoso).

Dalam karyanya di tengah masyarakat yang kaya akan tipologi pertanian, Kyai yang merupakan pengurus sekaligus pendiri PP. Manbaul Ulum ini, sangat dekat dengan masyarakat, tanpa melihat latar belakang, status sosial, etnisitas, ras, dan suku.

Hal ini terbukti dengan jumlah tamu yang mengunjunginya dengan berbagai kepentingan. Ada beberapa faktor yang menjadi motif kedekatan Kyai Togo dengan masyarakat sekitar, diantaranya adalah, faktor sains. Tak ayal, alumnus pesantren Genggong Probolinggo ini memiliki segudang pengetahuan. Bisa dilihat dari cerita naratif bahwa sekitar tahun 50-an ada beberapa santri nyolok (madura, santri yang tidak menetap) untuk mempelajari buku-buku klasik seperti bidayah, ta’lim al-muta’allim dan lain-lain. Dengan segudang pengetahuan yang dimilikinya, kyai Togo menjadi rujukan masyarakat sekitar yang notabenis nya agamais. Terutama berhubungan langsung dengan aktivitas masyarakat.

Menurut KH. Farisi almarhum, Kyai Togo jarang keluar dari tempat tinggalnya. Bahkan menghindar dari hal-hal yang kurang bermanfaat apalagi membicarakan keburukan orang lain. Kebiasaan merenung, taffakkur. Tempat yang disukainya adalah kursi kayu di ruang tamunya. Saat malam tiba, dia memasuki kamarnya. Malam sekitar jam 2 di antar oleh Nawawi, seseorang yang selalu menuntunnya untuk berwudhu ‘. Ketiga, faktor kekaromahan. Bukan rahasia di kalangan masyarakat Gerdu Salak tentang banjir yang melanda di desa ini yang disebabkan oleh bendungan jebol.

Diceritakan, pada musim hujan saat itu, ada banjir besar yang menjebol bendungan irigasi yang membanjiri daerah pemukiman penduduk. Saat itu, perasaan masyarakat sekitar bendungan sangat mencekam menghantui penduduk setempat. Nah pada saat itu sebelum banjir memasuki permukiman, Kyai Togo menghadang banjir dengan menancapkan tongkat. Akibat efek karomah kewaliannya itulah banjir bandang besar tidak masuk ke wilayah desa. Cerita ini, diturunkan dari generasi ke generasi sekarang. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan