Beranda Artikel Tasawuf, Kita Hidup Mengambil Manfaat Dari Yang Mati

Tasawuf, Kita Hidup Mengambil Manfaat Dari Yang Mati

0
738

Segala sesuatu yang hidup maupun yang mati di alam semesta ini merupakan garis mutlak dari rencana sang Pencipta. Namun pada dasarnya, segala yang direncanakan Tuhan semesta alam, secara tidak langsung terjadi atas perantara yang pun dikehendakinya pula.

Walaupun juga sering terjadi campur tangan Tuhan secara langsung dalam hidup ini dan hal yang demikian kerap kita sebut Keajaiban. Hal yang seperti ini, bukan hanya mencakup pada sebagian persoalan, akan tetapi meliputi segalanya dalam maya pada semesta.

Nah, kali ini kita akan sedikit membahas salah satu fenomena alam yang lebih mengerucut sempit akan makna ” Manfaat Orang mati bagi yang masih merasakan hidup”.

Banyak yang mengatakan, ketika seseorang, hewan maupun tumbuhan yang mati, mereka sudah tidak ada gunanya bahkan menjadi sampah maupun bangkai yang tidak berarti. Hal ini kerap kita dengar dari candaan maupun keseriusan sehari-hari.

Secara logika dan nalar kemanusiaan, memanglah begitu adanya. Namun, marilah kita kaji agak sedikit mendetail dari sumber permasalahan tersebut, terkait dengan kebenarannya.

Ketika kita mengacu pada logika dan nalar kemanusiaan, yang memfonis segala sesuatu yang mati sudah tidak bermanfaat. Maka, layaknyalah kita tinjau, untuk apa segenap leluhur bahkan Agama, mengajarkan kita mendoakan yang sudah tiada…?, Untuk apa pula kita diwajibkan menghormat (mengubur dengan layak, membakar dengan layak, dls) orang yang sudah mati…?. Bukankah mereka semua sudah mati menjadi sampah/bangkai…?

Sebenarnyalah jika kita fikir lebih detail, kita saat ini yang hidup, dapat mempertahankan dan melestarikan kehidupan, hanya karena mengambil manfaat dari yang sudah mati (baik secara langsung maupun tidak).

Hal ini tentu bukan dengan tanpa alasan,. Karena, tidak dapat kita pungkiri, segala tindak tanduk yang kita lakukan dalam kehidupan ini, hanyalah berdasarkan mencontoh dari kehidupan mereka (yang mati) di masa sebelumnya.

Baca Juga:  Biografi Borobudur, Gambaran Alur Manusia Capai Ketuhanan

Kita berbicara meniru dari yang sudah mati, kita makan, kita bergerak, bahkan kita mencipta pun meniru dari yang sudah mati. Selain itu, orang yang sudah mati berkubang tanah itupun masih pula memberikan manfaat bagi kehidupan ini.

Contoh kecil misalnya, setiap sel dari yang sudah mati tersebut akan ter urai dengan tanah, udara, api dls, sehingga sel tersebut akan membentuk suatu bakteri penyubur bumi. Dimana ketika bumi dan udara ini subur, maka kehidupan didalamnya pun ikut subur.

Dari sisi-sisi contoh diatas, tentu dapat kita simpulkan betapa orang pendahulu kita yang telah tiada sangat memberikan manfaat bagi kehidupan ini secara nyata (tidak gaib red-). Dan sangat layak bagi kita yang masih di karuniai kehidupan ini untuk senan tiasa tetap kokoh pendirian dalam menghormati setiap siklus kematian.

Pertanyaannya, “Jika orang, hewan dan tumbuhan yang sudah mati dapat memberikan manfaat nyata bagi yang masih hidup, lalu bermanfaat apakah (yang juga nyata red-) kita sebagai yang hidup kepada yang sudah mati…?”.

Banyak yang mengatakan, yang hidup cukuplah menghormat awal kematian dan cukuplah mendoakan setelahnya.

Jika demikian, hukum keseimbangan yang sudah tergaris oleh sang pencipta, mengesankan ketidak adilan, padahal maha adil.

Mengapa,,,? Sebab yang mati memberikan manfaat nyata sehingga kita dapat melanjutkan kehidupan. Namun akan menjadi tidak seimbang mana kala yang hidup hanya menghormat dan mendoakan (tidak nyata) kepada yang sudah mati.

Nah, untuk segenap pembaca yang penasaran akan manfaat yang hidup kepada yang sudah mati secara garis keseimbangan kodrat Ketuhanan, dimohon bersabar menunggu post berikutntnya yach….

Karena saat ini penulis masih bermunajat memohon restu untuk membongkar hal tersebut he hee…. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here