Tradisi Bibian Bulan Ramadhan, Lebih Dapat Melestarikan Semesta

0
673

Bulan Ramadhan, merupakan bulan penuh hikmah dan menjadi bulan yang di tunggu- tunggu oleh sebagian masyarakat dunia utamanya Indonesia.

Saking di tunggu-tunggunya, hingga sebagian masyarakat pulau Jawa utamanya, memiliki beragam cara budaya untuk memanifestasikan rasa syukur mereka atas karunia sang pencipta.

Nah kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit mengupas salah satu tradisi di pulau Jawa yaitu, tradisi Bibian atau Bi-bi-bi.

Bibian atau Bi-bi-bi, adalah salah satu tradisi yang kerap dikerjakan pada pertengahan akhir bulan Ramadhan. Sebagian besar masyarakat Jawa utamanya yang berkultur Madura, selalu melaksanakan tradisi Bibian dengan membagikan nasi dengan lauk sederhana, dan dibungkus daun jati.

Bibian atau Bi-bi-bi sendiri, sebenarnya merupakan tradisi bagi makanan menjelang berbuka puasa (ta’jil). Hanya saja bedanya mereka (masyarakat) meng identitasi Bibian dengan membagi nasi bungkus kepada anak-anak dibawah remaja. Tentu hal ini berbeda dengan transforsi pembagian Ta’jil yang membagikan menu buka kepada semua orang baik dewasa maupun anak-anak.

Di daerah Bondowoso, tradisi Bibian atau Bi-bi-bi dahulu merupakan moment yang di tunggu-tunggu segenap anak-anak. Biasanya, mereka menunggunya di halaman-halaman rumah dengan bergerombol. Setelah tampak ada yang membawa nasi bungkus Bibian, biasanya mereka berlarian menghampiri si pembawa nasi dengan berebut.

Terkadang aksi nyleneh dari bocah tersebut kerap terjadi dengan kelucuannya. Mereka berebut, nasi satu sama lainnya dan setelah menerima satu bungkus, biasanya akan di sembunyikan dalam sarung untuk selanjutnya meminta bungkusan kedua.

Selanjutnya setelah bungkusan itu habis terbagi, biasanya segenap bocah-bocah itu akan memakannya bersama di surau setelah tiba berbuka puasa.

Namun saat ini, tradisi nan arif tinggalan lampau tersebut sepertinya sudah tergerus oleh perubahan jaman. Tradisi bibian nasi bungkus daun jati, kerap terlihat digantikan dengan bungkus sterovom dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Bukti Logika Tanam Kamboja Di Halaman Rumah Menetralkan Unsur Negatif

Perlulah kita semua sadar, dengan kembali menggunakan sarana ibadah yang tersedia di alam, sangatlah terjamin untuk tidak merusak semesta ini. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here