Tiga Pusaka Pangeran Samber Nyowo Saksi Babat Dinasti Mangkunegaran

0
2900

Pangeran Samber Nyowo alias Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau Raden Mas Said, lahir di Kartasuro pada Sabtu, 7 April 1725M.

Pangeran Samber Nyowo yang dikenal sakti mandraguna, menggalang kekuatan bersama rekan – rekan seperjuangan dalam barisan rakyat untuk bertempur melawan penjajah Belanda. Beliau termasuk pahlawan yang tergabung dengan pribumi dan turut serta dalam membela tanah air di usia yang relatif muda yaitu sekitar empat belas tahun.

Baru setelah mengasah kemampuan berperang selama kurang lebih satu tahun bersama dengan pasukan lainnya beliau menyatakan siap untuk berperang melawan Belanda.

Dalam masa mengasah kemampuan berperangnya tersebut, RM Said juga bergabung dengan pasukan Sunan Kuning atau Raden Mas Garendi. Penggabungan kekuatan tersebut dimulai dengan adanya pemberontakan laskar Tionghoa di Kartasuro pada 30 Juni 1742 yang mengakibatkan benteng keraton Kartasuro setinggi empat meter runtuh.

Dimana pemberontakan tersebut bemula saat Belanda yang berkompromi dan merekrut raja Mataram (Pakubuwono II), menindas rakyat Mataram dan warga etnis Tionghoa dengan pengepungan kraton Kartasura dan pelarian diri sang raja.

Berhasil menggulingkan kraton Kartasura, RM Said kemudian membangun pertahanan di Randu Lawang. Di sini, ia bergabung kembali dengan Sunan Kuning untuk melawan Belanda yang sebelumnya juga bersekutu dengan Pangeran Mangkubumi, adik dari Pakubuwono II.

Pertempuran kali ini bisa dikatakan tidak seimbang, lantaran Belanda dan Mangkubumi mengirimkan pasukan yang cukup besar hingga pasukan RM Said terdesak mundur dan meloloskan diri hingga membentuk kekuatan baru.

Pada tahun 1746, meletuslah perang saudara yang disebut Perang Suksesi Jawa Ketiga, di mana Pangeran Mangkubumi menggabungkan diri dengan RM Said untuk melawan Belanda dan Pakubuwono II. Di tengah masa pertempuran tersebut, Pakubuwono ll jatuh sakit dan akhirnya meninggal sehingga kepemimpinan berikutnya, diserahkan kepada putranya (Pakubuwono III).

Baca Juga:  Pendakian Jalur Cemoro Kandang Gunung Lawu "Hidup Bagai Tiada Arti"

Meski Pakubuwono II telah meninggal namun, perang saudara masih berlangsung. Belanda bahkan menjalankan politik “devide et impera” di mana dalam perjanjian tersebut wilayah Mataram dibagi menjadi dua yaitu kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Tak hanya itu, perjanjian tersebut nyatanya mampu membujuk Mangkubumi untuk melakukan perdamaian antara ketiga pihak yakni, Belanda, Pakubuwono III, dan Mangkubumi. Sedangkan RM Said tetap bersikukuh untuk terus melawan Belanda dengan pasukannya yang masih tersisa.

“Kewalahan”, Itulah kalimat yang dilontarkan pasukan Belanda ketika mendapati serangkaian serangan RM Said yang selalu pulang dengan membawa kematian bagi pihak pasukan Belanda. Banyak pihak yang menyebut RM Said dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo lantaran banyaknya korban yang ditimbulkan saat perang.

Dalam membekali segenap ilmu dan strategi perangnya RM Said yang dikenal sakti mandraguna, dikenal juga memiliki tiga pusaka sakti yaitu Keris Korowelang, Tumbak Kyai Totok dan Tumbak Kyai Jolodoro. Dimana ketiga pusaka tersebut yang selalu menemani RM Said berperang melawan penjajah pertiwi selama kurang lebih 16 tahun dari tahun 1741 sampai 1757.

Beberapa sejarawan menyebutkan bahwa taktik yang digunakan oleh RM Said dalam peperangan sehingga disebut Pangeran Sambernyowo ialah dengan menggunakan taktik tiga cara. Diantaranya dari taktik tersebut, menyerang musuh ketika lengah dengan secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya (jejemblungan), bertindak lugas dan licin dalam menyerang dan menghindar (weweludan) dan setelah itu menghindar dari musuh yang berjumlah besar dan menghilang tanpa jejak (dhedhemitan).

Perang yang terus berkecamuk, hingga sekitar enam belas tahun berjalan, membuat Pakubuwono III mengirimkan surat yang dikenal perjanjian Salatiga pada RM Said. Dalam surat itu, Pakubuwono III meminta RM Said untuk menghentikan perlawanan serta mengajaknya turut serta membangun kembali kerajaan Surakarta yang telah rusak akibat peperangan.

Baca Juga:  Astana Mangadeg Makam Raja-raja Mangkunegaran Nan Eksotis

Dengan segala pertimbangan yang rumit, RM Said pun setuju untuk menghentikan penyerangan dan diangkat menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. Disinilah RM Said akhirnya menikah dengan Raden Ayu Matah Hati dan mengawali trah Mangkunegaran.

Hingga akhirnya dalam usianya yang ke 70 tahun, RM Said Meninggal di Kartasura pada 28 Desember 1795 dan di makamkan di Astana Mangadeg.

Berkat usahanya yang gigih melawan penjajah, pada tahun 1983 pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional karena jasa-jasa kepahlawanannya serta mendapatkan penghargaan tertinggi Bintang Mahaputra yang diberikan pemerintah terhadap dirinya.

Selain itu, untuk tetap mengenang jasanya pada negara pada tahun 1935, Gusti Adipati Aryo Mangkunegoro Vll membangun sebuah tugu pusaka. Dimana tugu tersebut dibangun khusus untuk menyimpan 3 pusaka Pangeran Samber Nyowo.

Tugu Pusaka Tempat Bersemaya 3 Pusaka Pangeran Samber Nyowo

Selain sebagai wujud penghargaan kepada masyarakat Nglaroh yang dengan setia membantu RM Said dalam membabat dinasti Mangkunegaran, adanya tugu pusaka tersebut dipercaya memiliki daya magis sebagai penjaga ketentraman dan kemakmuran masyarakat sekitar.

Hingga kini, ketiga pusaka Pangeran Samber Nyowo yang bersemayam di dalam Tugu Pusaka tersebut tetap lestari menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Nglaroh yang dipimpin RM Said melawan penjajah Belanda.

Tugu Pusaka kebangan dinasti Mangkunegaran tersebut kini berada tepat di depan Kantor Kecamatan Selogori, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here