Sejarah Semua Orang Batak, Pasti Pernah Menjadi Hula-hula

0
952

Suku Batak, merupakan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia yang merupakan sebuah nama tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa dari Pantai Barat dan Pantai Timur di Provinsi Sumatra Utara.

Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak diantaranya, Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Batak juga rumpun suku-suku yang mendiami sebagian besar wilayah Indonesia utamanya Sumatra Utara.

Namun, sering sekali orang menganggap penyebutan Batak hanya pada suku Toba, padahal Batak tidak hanya diwakili oleh suku Toba. Sehingga tidak ada budaya dan bahasa Batak, tetapi budaya juga bahasa Toba, Karo, Simalungun dan suku-suku lain yang serumpun.

Saat ini pada umumnya orang Batak menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Islam. Akan tetapi ada pula yang menganut kepercayaan tradisional yakni, tradisi Malim (atau dikenal juga dengan Parmalim) dan juga menganut kepercayaan animisme, walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.

Orang Batak merupakan penutur bahasa Austronesia namun, tidak diketahui kapan nenek moyang mereka pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatra Timur. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu pada zaman batu muda (Neolitikum).

Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak, maka dapat diduga bahwa, nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatra Utara pada zaman logam.

Sedang pada abad ke-6, pedagang-pedagang dari Tamilasal India mendirikan kota dagang bernama Barus, yang terletak di pesisir barat Sumatra Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Baru pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya dan hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatra.

Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatra Utara, koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal.

Hingga saat ini, teori-teori tersebut masih diperdebatkan tentang asal usul dari Bangsa Batak. Mulai dari Pulau Formosa (Taiwan), Indochina, Mongolia, Mizoram dan yang paling kontroversial Sepuluh Suku yang Hilang dari Israel.

Adapun identitas Batak populer dalam sejarah Indonesia modern setelah di dirikan dan tergabungnya para pemuda dari Angkola, Mandailing, Karo, Toba, Simalungun dan Pakpak di organisasi yang bernama Jong Batak pada tahun 1926. Tanpa membedakan Agama dalam satu kesepahaman, bahasa Batak kita begitu kaya akan Puisi, Pepatah dan Pribahasa yang mengandung makna kebijaksanaan tersendiri.

Batak memiliki budaya sendiri, Aksara sendiri, Seni Bangunan yang tinggi mutunya yang sepanjang masa tetap membuktikan bahwa Batak mempunyai nenek moyang yang perkasa, Sistem marga yang berlaku bagi semua kelompok penduduk negeri yang menunjukkan adanya tata negara yang bijak. Oleh karenanya suku Batak juga berhak mendirikan sebuah persatuan Batak yang khas, yang dapat membela kepentingan Negara dan melindungi budaya lokal.

R.W Liddle mengatakan bahwa, sebelum abad ke-20 di Sumatra bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar.

Pendapat lain mengemukakan bahwa, munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial. Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah “Tanah Batak” dan “rakyat Batak” diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas Manurung, seorang istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karomaupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut. Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi menyatakan, bahwa Pusuk Buhit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat “kelahiran” suku Batak. Selain itu, dari mitos-mitos lain, juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.

Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat yaitu, Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting.

Menurut Pustaka Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau, orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Hal ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. Orang-orang dari Suku Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatra akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk menguasai Barus.

Meskipun suku Batak terkenal dengan salam Horasnya namun, tiap puak Batak ternyata juga memiliki salam khas sendiri-sendiri. Diantaranya masih ada dua salam lagi yakni “Mejuah juah” dan “Njuah juah” meskipun dua salam ini kurang familier di masyarakat. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing masing berdasarkan puak yang menggunakan, diantaranya,

  1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”

  2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”

  3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”

  4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”

  5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”

Adapun kekerabatan yang menyangkut hubungan hukum antar orang Batak dalam pergaulan hidup terbagi dalam dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak yakni, berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial Batak hampir tidak ada.

Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga. Misalnya, Harahap kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.

Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi “Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul”, merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun, dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Seperti halnya suku-suku lain, masyarakat Batak juga memiliki kekayaan ragam falsafah, asas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya. Kekayaan falsafah itu dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut penyebutan Dalihan Natolu menurut keenam puak Batak

  1. Dalihan Na Tolu (Toba) ~ Somba Marhula-hula ~ Manat Mardongan Tubu ~ Elek Marboru

  2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) ~ Hormat Marmora ~ Manat Markahanggi ~ Elek Maranak Boru

  3. Tolu Sahundulan (Simalungun) ~ Martondong Ningon Hormat, Sombah ~ Marsanina Ningon Pakkei, Manat ~ Marboru Ningon Elek, Pakkei

  4. Rakut Sitelu (Karo) ~ Nembah Man Kalimbubu ~ Mehamat Man Sembuyak ~ Nami-nami Man Anak Beru

  5. Daliken Sitelu (Pakpak) ~ Sembah Merkula-kula ~ Manat Merdengan Tubuh ~ Elek Marberru

Hula-hula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak) sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hula-hula (Somba marhula-hula). Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek.

Namun, pertikaian tidak membuat hubungan satu marga itu bisa terpisah (kecuali kematian). Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi pada akhirnya tetap bersatu. Namun kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga.

Diistilahkan, manat mardongan tubu.Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai ‘parhobas’ atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Walau demikian, bukan berarti suku Batak ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hula-hula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku ‘raja’. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hula-hula, Raja ni Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Ritual kanibalisme telah terdokumentasi dengan baik di kalangan orang Batak, yang bertujuan untuk memperkuat tondi pemakan itu. Secara khusus, darah, jantung, telapak tangan, dan telapak kaki dianggap sebagai kaya tondi.

Dalam memoir Marco Polo yang sempat datang berekspedisi dipesisir timur Sumatra dari bulan April sampai September 1292, ia menyebutkan bahwa dirinya berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakyat pedalaman yang disebut sebagai “pemakan manusia”. Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat “Battas”. Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir, dan tidak pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.

Niccolò Da Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak: “Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka “.

Thomas Stamford Raffles pada 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan.

Raffles menyatakan bahwa: “Suatu hal yang biasa dimana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup”.. “daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi”.

Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut “Battaer”). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya.

Namun hal ini terkadang dibesar-besarkan dengan maksud menakut-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali agar mendapatkan pekerjaan yang dibayar baik sebagai tukang pundak bagi pedagang maupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut.

Oscar von Kessel mengunjungi Silindungpada tahun 1840-an, dan pada tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup-hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari Marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan.

Garam, cabe merah, dan jeruk nipis harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.

Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: “Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar “.

Pada 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali mereka. Rumor kanibalisme Batak bertahan hingga awal abad ke-20, dan tampaknya kemungkinan bahwa adat tersebut telah jarang dilakukan sejak tahun 1816. Hal ini dikarenakan besarnya pengaruh agama pendatang dalam masyarakat Batak.

Menurut Franz Wilhelm Junghuhn, dalam bukunya yang berjudul Die Battaländer auf Sumatra, kemungkinan ritual kanibalisme suku Batak hanyalah kabar angin yang ingin menakuti Belanda agar tidak berani memasuki Tanah Batak. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here