Menelisik Megahnya Lika-liku Kerajaan Singosari

0
707

Dizaman lampau, sebuah negeri di bumi Nusantara ini, biasanya dibangun oleh seorang yang memeng berketurunan darah biru. Namun, tidak demikian halnya dengan sebuah negeri atau kerajaan yang bernama Singosari.

Negeri atau Kerajaan ini didirikan oleh seseorang sudra berlatar belakang sebagai pencuri berbama Ken Arok.

Nah kali ini sejarah-budaya.com akan menguak asal usul dan latar belakang dari seorang raja agung penguasa negri Tumapel atau belakangan berjuluk Singosari.

Yuk langsung simak aja lurd….!

Ada sumber yang mengatakan Ken Arok merupakan putra Gajah Para dari desa Campara (Blitar) dan ibunya bernama Ken Ndok dari desa Pangkur (Blitar). Meski begitu, tidak sedikit yang menyebutkan bahwa Ken Arok bukanlah anak dari Gajah Para, melainkan terlahir karena Ken Ndok bersetubuh dengan seorang Brahmana.

Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa perbuatan tidak senonoh yang membuat Ken Ndok hamil tersebut adalah pemerkosaan dan yang dilambangkan sebagai dewa Brahma adalah orang yang berkuasa di wilayah tersebut dan tidak lain adalah Tunggul Ametung. Sehingga hal ini membuat Ken Arok sebenarnya adalah anak dari Tunggul Ametung sendiri.

Ken Ndok yang melahirkan putranya tanpa suami akhirnya membuang anaknya karena malu. Saat itulah bayi tersebut ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong. Karena dibesarkan oleh seorang pencuri, maka ia juga akhirnya tumbuh menjadi seorang berandalan yang gemar mencuri dan berjudi sehingga membuat Lembong banyak hutang dan pada akhirnya, Ken Arok pun di usir.

Saat berkelana itulah Arok kemudian bertemu dengan Bango Samparan, seorang penjudi dari desa Karuman (Garum, Blitar). Bango Samparan kemudian mengasuhnya karena dianggap sebagai pembawa keberuntungan.

Meski begitu, Ken Arok tidak betah tinggal bersama keluarga Bango Samparan. Pasalnya, Bango Samparan memiliki 5 orang anak yang akhirnya merasa cemburu karena Ken Arok dianggap istimewa. Ken Arok kemudian kembali mengembara dan bertemu dengan Tita, dari desa Siganggeng (Malang). Bersama Tita, keduanya malah menjadi pasangan perampok yang paling ditakuti di seluruh Kadiri. Bahkan banyak perampok lain yang akhirnya bergabung dengan komplotan Ken Arok.

Baca Juga:  Menelisik Megahnya Tinggalan Luhur Negara Majapahit

Disisi lain, ada seorang Brahmana bernama Lohgawe dari India yang berkelana ke Negeri Nusantara. Dalam pengembaraan itu, Lohgawe mencari titisan batara Wisnu yang akan dibimbingnya kelak untuk menjadi pemimpin besar.

Hungga pada suatu ketika, Lohgawe bertemu dengan Ken Arok yang diyakini dari pancaran sinar matanya sebagai titisan Wisnu yang selama ini dicarinya.

Dalam pertemuan tersebut, Lohgawe berkata bahwa dirinya akan membantu Ken Arok mendirikan sebuah kerajaan, namun terlebih dahulu ia harus merebut kekuasaan dari Tunggul Ametung.

Dengan berbagai strategi atau awal langkah, Lohgawe yang dihormati akhirnya berhasil membuat Ken Arok menjadi pengawal Tunggul Ametung.

Saat itulah ia bertemu dengan Ken Dedes untuk pertama kalinya dan karena memang selir Tunggul Ametung itu cantik, Arok pun jatuh hati dan ingin merebutnya dari sang raja. Konon, kecantikan Kendedes merupakan hasil perawatan alamiah yang dirahasiakan. Meski demikian, pada saat ini ada sebagian keturunannya yang mengetahui rahasia-kecantikan-ratu-kendedes.

Seperti kita ketahui bersama, sosok Ratu Kendedes juga mendominasi atas perjuangan berdirinya Negeri Tumapel. Walau demikian, ada latar belakang dari liku-ratu-ken-dedes-yang-berawal-dari-kutukan-ayahhandanya-mpu-purwa.

Dari rasa kasih yang terpaut itulah akhirnya Ken Arok dengan dibantu Ken Dedes berencana untuk membunuh dan merebut kekuasaan dari tangan Tunggul Ametung.

Singkat cerita, Ken Arok pun kemudian memesan sebuah keris sakti dari Mpu Gandring. Mpu Gandring meminta waktu satu tahun, namun Ken Arok tidak sabar dan meminta waktu 5 bulan. Meski akhirya disetujui, keris tersebut ternyata belum jadi setelah 5 bulan. Mpu Gandring yang menolak memberikan keris tersebut akhirnya justru dibunuh oleh Ken Arok dengan kerisnya sendiri. Mpu Gandring yang sekarat kemudian mengutuk keris tersebut bahwa keris itu akan membunuh 7 orang termasuk Ken Arok sendiri. Nah, dari kedekatan sosok mpu Gandring pada sang pencipta, kilas-kutukan-mpu-itu-belum-tuntas-hingga-saat-ini.

Baca Juga:  Astana Mangadeg Makam Raja-raja Mangkunegaran Nan Eksotis

Di sinilah awal kelicikan Ken Arok mulai tampak menggila. Ia memberikan keris tersebut kepada Kebo Ijo, teman sesama pengawal. Kebo Ijo yang begitu bangga dengan keris tersebut selalu membawa keris itu kemanapun ia pergi, sehingga setiap orang tahu bahwa keris tersebut adalah milik Kebo Ijo.

Ketika Kebo Ijo sedang mabuk, Ken Arok kemudian mencuri keris tersebut dan membunuh Tunggul Ametung yang sedang tertidur pulas. Ken Dedes sebenarnya mengetahui kejadian tersebut, namun ia menyimpan rahasia tersebut karena sudah jatuh hati pada Ken Arok serta karena ia dulu menikahi Tunggul Ametung juga karena terpaksa.

Kebo Ijo sendiri akhirnya dihukum mati karena dituduh membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok kemudian mengangkat diri sebagai akuwu atau penguasa Tumapel dan menikahi Ken Dedes, meski saat itu ia mengandung anak dari Tunggul Ametung.

Tumapel sendiri sebenarnya merupakan bagian dari Kerajaan Kadiri. Namun Ken Arok kemudian terus memperluas wilayah sehingga dianggap membangkang. Para Brahmana yang berselisih dengan Kertajaya, raja Kadiri kemudian pindah ke Tumapel dan meminta perlindungan Ken Arok yang sedang mempersiapkan pemberontakan saat itu.

Dengan dukungan dari para Brahmana, Ken Arok menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri. Maka selanjutnya terjadilah peperangan antara Kadiri dan Tumapel yang berakhir dengan kalahnya Kertajaya. Kemudian kerajaan Tumapel diganti namanya menjadi Kerajaan Singosari yang masa pemerintahannya hanya bertahan sebentar yaitu dari tahun 1222 hingga 1292.

Ken Arok memang berhasil mendirikan sebuah kerajaan, namun pada akhirnya kerajaan tersebut tidak bisa bertahan lama. Ken Arok mati dibunuh oleh Anusapati yang merupakan putra dari Tunggul Ametung. Dan konflik perpecahan antar keluarga akhirnya juga justru membuat kerajaan ini tidak bisa bertahan.

Baca Juga:  Muasal Reruntuhan Candi Deres Dari Perjalanan Hayam Wuruk

Sementara, untuk mengenang berjayanya Kerajaan Singosari, dibangunlah sebuah candi di daerah Malang yang hingga saat ini candi-singosari-menjadi-wujud-penghormatan-kepada-kartanegara. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here