Tradisi Tompo’an Masih Lestari Dalam Kultur Masyarakat Madura

0
481

Berbicara mengenai tradisi, budaya dan kebiasaan lokal Nusantara, memang tidak akan ada habisnya. Nah kali ini sejarah-budaya.com akan mengenalkan salah satu tradisi masyarakat Bondowoso yang berkultur Madura saat menjelang lebaran Idul Fitrih.

Menjelang hari raya umat Islam yaitu Idul Fitri, ada beberapa tradisi budaya dan kebiasaan sebagian masyarakat pulau Jawa yang masih tetap lestari hingga saat ini.

Salah satunya tradisi patungan daging sapi, atau dalam masyarakat berkultur madura menyebutnya Tompo’an. Tradisi Tompo’an ini, diketahui sudah ada dan berkembang sejak puluhan tahun silam bahkan, hingga saat ini masih terus dilestarikan.

Sementara, arti tompo’an sendiri sebenarnya adalah beberapa kilogram tumpukan daging, tulang dan jeroan yang dikemas dalam kantong plastik.

Dalam tradisi ini biasanya, sapi yang akan disembelih, pembeliannya melalui sistem iuran masyarakat dengan menabung kepada ketua kelompok selama setahun.

Adapun proses atau cara penyembelihan sapinya tentu juga mengikuti mekanisme ke Agamaan yang sudah diajarkan oleh leluhur pendahulu.

Hingga pada saat waktu penyembelihan, (biasanya menjelang hari raya H-1) semua bagian dari sapi yang sudah dipotong seperti daging tulangan, jeroan, dan lainnya, akan dibagi rata kepada semua anggota tompo’an yang biasanya tergabung dalam ormas Rukun Kifayah.

Adapun kulit sapi, biasanya akan dijual dan uang hasil penjualan kulit sapi tadi, akan dibelikan kecap atau bumbu dapur yang juga di bagikan kepada seluruh anggota. Sementara bagian kepala ,(cara mengolah kepala sapi) biasanya akan diberikan kepada si pemelihara sapi sebagai pengganti mahar rumput.

Selanjutnya, daging yang sudah dibagikan kepada seluruh anggota tompo’an, akan dibawa pulang untuk diolah dengan berbagai jenis masakan. Dalam tradisi yang demikian, seorang warga yang ikut tompo’an nantinya akan menyuguhkan masakannya kepada sanak taulan yang berkunjung dalam momen lebaran.

Menurut salah satu tokoh masyarakat yang sekaligus ketua tompo’an mengatakan, “Selain melatih kesadaran dalam beramal saleh (mebagikan masakan), tradisi tompo’an juga terbukti lebih memper erat tali silaturahmi. Karena, setelah semua saudara berkumpul, akan semakin hangat dengan menyantap hasil masakan sendiri dengan bersama-sama,” ungkapnya.

Nah itulah salah satu tradisi yang hingga saat ini masih lestari dan kerap kita jumpai di pulau Jawa khususnya masyarakat yang berkultur bahasa Madura. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here