Curug Sawer Saksi Bisu Pajajaran dan Pakungwati Menerima Anugrah Sang Pencipta

0
1203

Curug Sawer yang masuk dalam wilayah Majalengka Jawa Barat, tepatnya di kampung Apuy, desa Argomukti kecamatan Argapura ini, merupakan salah satu objek wisata yang masih belum dikelola dan hanya segelintir orang saja yang mengetahui tempat ini. Curug yang masih asri dan belum terjamah pembangunan ini menyajikan keindahan pemandangan alam yang tentunya tidak akan kalah menarik dengan objek wisata lain.

Hal ini dikarenakan curug yang masih asri nan perawan ini, memiliki ciri kharisma tersendiri yakni sebagai tempat pertapaan raja-raja Pajajaran di masa lalu.

Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 25-30 meter dan masuk di kawasan Wisata Situ Gunung. Curug ini dikelola oleh RPH Argalingga BKPH Maja KPH Majalengka. Berada pada ketinggian antara 900-1300 meter diatas permukaan laut yang membuat suhu disekitar curug ini sejuk.

Curug ini sangat cocok sebagai media tempat untuk yang menginginkan ketenangan batin hingga lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.

Berikut ini sejarah-budaya.com akan menjelaskan lebih lanjut tentang misteri dan legenda Curug Sawer yang tersembunyi.

Pada jaman dahulu, curug ini dikenal sebagai tempat yang angker juga berbalut suasana magis dan mistis. Sebelum menjadi objek wisata, curug ini sering digunakan untuk ritual mistis dan supranatural. Banyaknya ritual mistis yang dilakukan disekitar tempat tersebut, membuat warga sekitar sering menjumpai sisa media ritual di berbagai sudut bebatuan di sekitar curug.

Konon, rangkaian cerita dari Curug Sawer tercipta setelah ada seseorang pertapa sakti yang tinggal di kaki Gunung Ciremai menyelenggarakan Upacara Saweran di Sungai Cipada untuk mendapatkan berkah bagi dirinya dan keturunannya. Ia bertapa selama bertahun-tahun hingga akhirnya wafat dalam pertapaannya. Menurut cerita masyarakat yang turun temurun, jasad pertapa itu tidak hancur, melainkan sekarang menjelma menjadi ular raksasa yang hidup dialam gaib.

Selain itu, ada juga cerita dari berbagai sumber, bahwa curug sawer ini kerap dijadikan tempat tapa brata bagi segenap raja-raja Pajajaran. Hal ini merujuk pada cerita saat Raja Kuda Lalean bertapa untuk mencipta sebuah senjata pusaka yakni Kujang Kembar.

Tempat inipun juga kerap diceritakan sebagai saksi bisu dari kepemimpinan Siliwangi dan Liku KeIslaman Pajajaran. Dimana saat sang Prabu yang juga memiliki Kujang Kembar dan pasukan handal Macan Putih Ghoib itu, dilanda dilema karna diminta putranya sendiri untuk berpindah keyakinan agama. Sang Prabupun mengasingkan diri di Curug Sawer.

Ada pula legenda dari Putri Siliwangi yakni Dewi Rara Santang yang bertapa guna memohon agar kelak dirinya di anugrahi keturunan yang linuwih. Dalam pertapaannya, sang Dewi mendapatkan ujian dan cobaan yang cukup berat. Namun, dari pertapaan tersebut wal khasil Dewi Rara Santang disabda menjadi ibu raja-raja Nusantara.

Bahkan dari saking sakralnya curug ini, keturunan pajajaran yakni raja Pakungwati yakni Sunan Gunung Jati, dalam membabat kesultanan pakungwati cirebon juga mendahului langkahnya dengan bertafaqur di curug sawer.

Dari berbagai cerita diatas, sangat menunjukkan curug sawer sangat mendominasi memiliki tempat yang strateghis guna mengantarkan rasa menuju peraduan sang pencipta.

Nah semoga informasi yang terbatas ini dapat menjadikan sarana informasi yang berguna bagi pengetahuan kita. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here