Legenda Eder Disah Desa Ramban, Berawal Dari Utusan Kerajaan Demak Bintoro

0
1296



Berawal dari seorang ulamak utusan kerajaan Demak Bintoro yang bernama Hadratus Syekh Raden Imam Asyari. Dimana utusan itu konon, diajukan oleh Wali Songo yakni, Sunan Kali Jago.
Raden Imam Asyari sendiri, merupakan seorang ulamak yang ditugaskan guna menyebar agama di kawasan timur tepatnya daerah Panarukan. Baru memasuki desa Surabasa (kini desa Ramban Kulon Kecamatan Parajekan Kabupaten Bondowoso) pada tahun 1546 Masehi.
Kala itu, masyarakat di desa Surabasa sedang dilanda wabah penyakit mengerikan. Dimana setiap penduduk yang sakit sangat sukar disembuhkan hingga lama kelama’an berakhir dengan kematian.
Konon, desa yang mayoritas masih dipenuhi hutan belukar itu, dikuasai oleh bermacam mahluk halus yang kerap terusik dengan adanya peradaban penduduk. Sehingga pada kala itu kerap dipercaya, mahluk-mahluk astral itulah yang menebar wabah penyakit pada penduduk.
Kondisi yang demikian, berlangsung lama menimpa hampir sebagian besar penduduk Desa Surabasa. Hingga akhirnya datanglah Raden Imam Asyari yang berusaha mengatasi setiap permasalahan penduduk kala itu. Dari mulai masalah wabah penyakit, gangguan mahluk halus, perekonomian, masalah rumah tangga dan lain sebagainya di berikan solusi jalan keluarnya oleh sang Syekh.

Tahap demi tahap Raden Imam Asyari menyelesaikan permasalan tiap warga. Hingga dengan waktu yang singkat, penduduk Surabasa mengalami perubahan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Hingga saat itulah, sosok Hadratus Syekh Raden Imam Asyari dijadikan Panutan segenap warga desa Surabasa dan sekitarnya. Karana dianggap linuwih dan bijak, sang syekh mendapat julukan oleh warga sekitar sebagai PANDUMAN atau tempat pengaduan.
Dari hadirnya beliau, masyarakat yang dulunya terkesan tertutup karena takut akan teror mahluk Halus, perlahan menjadi desa yang berkembang pesat.

Hingga pada suatu waktu, sampailah utusan Kerajaan Demak Bintoro itu pada ajalnya dan beliaupun dikebumikan didesa Surabasa oleh segenap santri dan penduduk sekitar.

Tidak berselang lama dari kematian beliau, mahluk-mahluk halus Jin, Setan, Peri marakayangan yang dulu telah berhasil beliau usir, kembali lagi menghantui desa Surabasa.

Kali ini, teror dari mahluk halus tersebut, mendatangkan wabah penyakit yang jauh lebih ganas yakni, setiap orang yang terkena wabah tersebut dalam hitungan menit langsung mati. Kala itu masyarakat menyebut wabah tersebut dengan nama wabah Cekek.

Hal yang demikian setiap hari bahkan setiap jam terjadi pada penduduk Surabasa. Hingga berlangsung cukup lama dan hampir menghabiskan sebagian besar penduduk.

Anehnya, segenap santri dilingkup makam R. Imam Asyari tidak satupun yang terkena wabah tersebut. Hingga pada suatu malam, sejulah tokoh masyarakat mengadakan musyawarah dengan sejumlah Santri di makam sang Syekh.

Dari hasil musyawarah tersebut, menyimpulkan bahwa, mungkin karomah sang waliullah R. Imam Asyari tersebut masih melekat pada benda-benda pusaka peninggalannya. Oleh karenanya, mereka berinisitif mengarak dan menabuh benda tinggalan sang Raden Imam dengan mengelilingi desa. Dengan demikian, diharap mahluk-mahluk halus yang ganas itu terusir oleh karomah bebunyian benda milik sang syekh.

Singkatnya, dilakukanlah upacara tetabuhan dan mengarak benda pusaka milik sang Raden mengelilingi Desa. Alhasil, mahluk-mahluk halus itupun pergi dan wargapun kembali pada ketentraman seperti kala masa hidup sang utusan Demak Bintoro itu.

Hingga sampai saat ini desa Surabasa yang telah berganti nama menjadi desa Ramban itu, masih melestarikan budaya tinggalan sang Waliullah tersebut. Penduduk Ramban khususnya desa Ramban Kulon, menjuluki tradisi itu dengan julukan Eder Disa atau keliling Desa.
Diketahui, jumlah pelaku Eder Disa dari jaman dahulu hingga saat ini berjumlah 14 orang dan segenap pelaku tersebut tanpa menggunakan alas kaki mengelilingi desa yang berjarak puluhan kilometer. Konon, mereka sebagai pelaku Eder Disa dianggap sebagai manusia suci. Dimana ketika dalam perjalanan ada rintangan ular, duri maupun batu cadas yang tajam rintangan itu tidak akan pernah mendekat pada kaki yang tanpa alas dari segenap pelaku eder.


Tradisi budaya eder disa ini, dilakukan 7 kali malam jumat yang dimulai dari malam jumat kedua di bulan syawal. Warga Ramban saat ini menganggap tradisi Eder disa yang dilakukan rutin tiap Tahun itu, merupakan manifestasi dari rasa syukur mereka terhadap sang pencipta alam semesta beserta isinya. (dats)

Tinggalkan Balasan