Kupas Gerhana Matahari Cincin, Dekat Titik Nodal

0
292

Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang terjadi pada 26 Desember 2019, merupakan fenomena yang ketika bayangan Bulan hanya menutupi bagian tengah Matahari, sehingga menyisakan bentuk cicin emas di sekeliling bayangan Bulan.

Diketahui, fase Bulan berulang rata-rata 29,5 hari. Namun, fenomena gerhana Matahari tak selalu terjadi saat Bulan mati.

Baca Juga: Gempa Lombok 7SR Akibat Ulah Buta Kala Yang Kelaparan

Kedudukan Matahari dekat titik nodal (titik potong khayali di langit, di mana orbit Bulan tepat memotong ekliptika yakni bidang edar orbit Bumi saat mengelilingi Matahari) disebut musim gerhana yang berulang 173,3 hari. Berikut sejumlah fakta unik terkait Gerhana Matahari Cincin.

1. Berulang tiap 18 tahun sekali

Kombinasi periode ini berulang setiap 18 tahun 11,3 hari yang disebut periode Saros. Jika musim gerhana pertama di bulan Januari, maka gerhana Matahari dapat terjadi sebanyak lima kali dalam satu tahun. Sebab, total keseluruhan jenis gerhana per tahun hanya tujuh kali.

2. Gerhana Matahari Cincin Bakal Kembali hadir di Indonesia 2031

Sebelumnya, Gerhana Matahari Cincin sempat muncul di Indonesia pada 22 Agustus 1998 di Sumatera Utara dan Kalimantan Utara dan GMC 26 Januari 2009 jalur cincin melewati Sumatera Selatan dan Kalimantan.

BMKG pun mengungkap GMC akan kembali ‘mampir’ 12 tahun kemudian, tepatnya 21 Mei 2031 dan jalur cincinnya akan melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. 12 tahun berikutnya, GMC kembali lagi pada 14 Oktober 2042 melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

3. Ada 4 Fenomena Gerhana Sebelum GMC

Sebelum GMC, Sawitar mengungkapkan ada empat fenomena gerhana yang terjadi yaitu Gerhana Matahari Sebagian (5-6 Januari 2019), Gerhana Bulan Total (21 Januari 2019) dan Gerhana Matahari Total (17 Juli 2019) yang tidak bisa diamati di Indonesia serta Gerhana Bulan Sebagian (17 Juli 2019) yang dapat diamati di Indonesia.

Baca Juga:  Belajar Hitung Weton dan Mengaitkan Karakter Alam

GMC tahun ini berada dalam kategori siklus Saros 132 yaitu gerhana ke-46 dari total 71 kali gerhana, sejak pertama kali terjadi pada 13 Agustus 1208. GMC ke-47 diperkirakan bakal terjadi pada 5 Januari 2038 dan gerhana terakhir tanggal 25 September 2470.

Baca Juga:Tuntunan Ibadah Menyambut Gerhana Bulan Total Reminder 28 Juli 2018

4. Fase Gerhana Matahari Cincin

Gerhana dimulai saat kontak pertama terjadi yaitu ketika piringan Bulan mulai menutupi piringan Matahari. Seiring berjalannya waktu, piringan Matahari itu akan makin besar hingga akhirnya seluruh Bulan mulai menutupi piringan Matahari.

Fase Bulan menutupi piringan Matahari ini disebut Kontak Kedua dan akan berakhir saat seluruh piringan Bulan terakhir kali menutupi piringan Matahari, yaitu saat Kontak Ketiga.

Kontak Kedua hingga Ketiga itu disebut Durasi Cincin yang durasi waktunya bervariasi. Saat fase ini terjadi, kecerlangan langit akan meredup. Puncak keredupannya ialah saat terjadi Puncak Gerhana.

Saat puncak gerhana terjadi, besaran piringan Matahari yang ‘tergerhanai’ bergantung pada magnitudo gerhana. Khusus di Indonesia, waktu puncak gerhana mulai pukul 11.49 WIB di Sabang, Aceh.

Sementara periode gerhana paling akhir pukul 15.51 WIT di Jayapura, Papua.

5. GMC Tak Hanya Sambangi Indonesia

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui keterangan resminya, GMC tidak hanya menyambangi sejumlah wilayah di Indonesia. Setidaknya ada tujuh wilayah yang dilewati jalur cincin GMC yaitu,:

Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, India, SriLanka, Samudera Hindia, Singapura, Malaysia, dan Samudera Pasifik.

Setidaknya ada 18 kota yang disambangi fenomena GMC seperti dikutip Time and Date,

  1. Hofuf, Arab Saudi
  2. Mangaluru, India

  3. Kasaragod, India

  4. Thalassery, India
  5. Kozhikode, India
  6. Ootacamund, India
  7. Palakkad, India
  8. Erode, India
  9. Karur, India
  10. Dindigul, India
  11. Sivaganga, India
  12. Tiruchirappalli, India
  13. Pudukkottai, India
  14. Jaffna, Sri Lanka
  15. Trincomalee, Sri Lanka
  16. Singapura
  17. Hagatna, Guam
Baca Juga:  Gempa Lombok 7 SR Akibat Ulah Buta Kala Yang Kelaparan
Semoga pengetahuan ini, dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here