Inspirasi | Guru Yang Berprestasi di Australia Dari Bondowoso

0
335

Merajut Asa di Australia

Oleh: Anik Sudiartini Spd, Mpd

Awalnya saya tidak pernah terbayang dimasukkan ke sebuah grup WhatsApp Diklat KS yang kemudian menjadi awal perjalanan studiku ke Negara Kanguru. Kaget, bahagia, haru dan semua rasa berkecamuk hingga bercampur jadi satu seperti permen Nano-Nano yang memberikan aneka rasa dan kesegaran.

Begitu saya tergabung dalam grup tersebut, saya cek anggotanya, tak satupun saya kenal. siapa mereka ? dan dari mana mereka ?.

Mulailah kami mengenalkan satu persatu walau sempat terbersit sedikit takut di hati, karena Ibu Silvi (perwakilan dari Kemendikbud) mengatakan bahwa, kami belum pasti berangkat studi ke Australia karena hal teknis. Namun, semua merupakan Karunia Allah, semua tekhnisnya dapat saya lalui dengan baik.

Tibalah di kegiatan pre-departure di Jakarta dan selama mengikuti kegiatan tersebut, kami sangat dekat dengan teman-teman peserta. Alangkah indah dan serunya keberagaman yang ada dengan karakter yang berbeda, semakin menambah ilmu dan pengalaman bagi saya. Baik dalam persoalan terkait tugas kepala sekolah maupun hal-hal lain.

Tepat hari Sabtu 2 Maret 2019 kami berangkat ke Australia dengan diiringi gerimis yang dinginnya menusuk serta mata terngantuk-kantuk namun, hati riang karena mimpiku akan terwujud. Perjalananku yang penuh sensasi ini ditambah lagi dengan sebuah Anugerah yaitu Sity tour, karena kami transit sekitar 10 jam. Panjangnya Sity tour banyak hal yang aku tangkap yang belum pernah terbayang sebelumnya tempat-tempat yang aku kunjungi yakni, masjid terbesar, museum teknologi, istana raja dan Kampung Air.

Alhamdulillah, singkat cerita, kami sampai di Australia pada hari Minggu 3 Maret 2019 dengan sehat dan selamat dan kami tiba di mannix college (tempat tinggal selama mengikuti pelatihan yang tidak jauh dari kampus Monash University).

Ya, mulailah aku mengikuti kegiatan dengan penuh gairah dan semangat bahagia yang tak pernah lengkap dengan kata-kata. Dalam mengikuti program Professional Learning Program For Indonesian School Principals and Supervisor di Monash University Australia. Banyak hal inspiratif serta memotivasi yang aku peroleh untuk diimplementasikan di sekolah setelah kembali nanti.

Merupakan suatu Anugerah buatku bisa terpilih dan mendapatkan tugas untuk mengikuti program ini. Sebagai seorang kepala sekolah di sebuah kota kecil yaitu Bondowoso Jawa Timur, program ini adalah hal yang sangat berharga. Beruntungnya lagi, kemampuan bahasa Inggris yang ku miliki sangat menunjang kegiatan ini. Dimana dalam setiap giatnya selalu dominan berbahasa inggris.

Baca Juga: Menumbuhkan Kesadaran Kaum Muda di era Milenial Dalam Ekonomi 4.0

Walau ada penerjemahnya, tapi setidaknya aku lebih bisa menyampaikan ide dan pendapat tanpa terkendala bahasa. Bahkan bermanfaat tidak hanya dalam kegiatan yang terkait dengan program, tetapi juga bermanfaat untuk hal-hal yang berurusan dengan sosial misalnya saat makan, belanja, membutuhkan informasi, kebingungan dan lain sebagainya.

Dari kegiatan yang selama ini aku ikuti, banyak hal yang membuat aku makin semangat untuk berkarya dan berprestasi khususnya untuk sekolah yang antara lain penanaman karakter dan khususnya terhadap siswa dan siswi di Australia.

Begitu masuk area hubungan sekolah, aku sudah disambut dengan pengembangan nilai-nilai sekolah tersebut, roh dan nilai-nilai seperti we are leaners, we are responsible, we are respect, we are safe, tampak sudah ditancapkan di dada, hati dan pikiran siswa. Sehingga, hal tersebut bisa aku lihat dari atmosfer di sekolah tersebut yang dimana-mana ada notice yang tertempel dan bisa dibaca oleh Semuanya.

Baca Juga:  Keris Kyai Carubuk, Manifestasi Pulung Bagi Sang Calon Pemimpin Negara

Sama sebenarnya seperti yang kulakukan tetapi di negeri kanguru ini, siswa di kelas dipantau oleh lebih dari satu guru. Sehingga, karakter dan nilai-nilai yang diharapkan bisa dicapai. Mereka disebut guru kelas, guru spesialis, guru pendukung dan guru bantu. Sedang guru piket yang memakai rompi khusus warna terang, selalu ada di tempat dimana para siswa berkumpul saat istirahat guru tersebut bertugas untuk memantau dan mengamati juga mendampingi siswa. Beda bukan dengan di Indonesia ?,

Baca Juga: Alur Tragedi Gerbong Maut Bondowoso Murahnya Harga Nyawa Manusia/

Untuk siswa yang masih kesulitan maka, sang guru akan terus memotifasi dan mengkomunikasikan dengan orangtuanya serta Tak lupa untuk mencatat di buku harian siswa yang setiap hari Senin akan dikontrol oleh wali kelasnya. Dan yang perlu dan harus saya tiru yakni, Ritme tugas guru terlihat sangat konsisten.

Di Australia, sejak kecil siswa siswi sudah diajarkan dan dibiasakan antara lain antri mencuci tangan, mengucapkan terima kasih, tepat waktu dan banyak hal positif yang lainnya. Selama ini sebenarnya kita sudah melakukannya tapi masih belum konsisten. Dan masih banyak juga sebagai guru, kita yang belum bisa menjadi model dan cermin untuk para siswa.

Apakah hal ini dapat menjadi sarat untuk menanamkan nilai karakter selama kita belum bisa jadi cermin dan model buat para siswa ?

Ada hal bagus juga yang bisa jadi sumber inspirasi buat dipraktekkan di sekolah yaitu, show and tell program. Kegiatan ini sangat bagus juga banyak impact, selain dalam penanaman karakter juga mengasah kemampuan siswa dalam menyampaikan ide dan bercerita (berkomunikasi).

Baca Juga: Betoh Nyaeh Visualisasi Kesuburan dan Kemakmuran Tanah Bondowoso

Sesuai dengan namanya show and tell, yang dilakukan siswa adalah sebelum Pelajaran dimulai siswa diminta untuk menceritakan tentang hasil baca buku, pengalaman sebelum berangkat ke sekolah atau apapun yang ingin diceritakan dan teman-temannya tidak boleh mentertawakannya.

Mereka harus bertepuk tangan. Hal ini diajarkan dan ditanamkan untuk sekolah. Memuji menghargai orang lain dan memberi apresiasi siswa juga dibiasakan untuk berani berbicara di depan kelas. Situasi tersebut membuat saya sedih sekaligus semangat. Mungkin ada yang aneh dengan rasa ini ya ?, sedih karena selama ini masih banyak siswa yang sering menertawakan temannya. Jika seorang teman menyampaikan sebuah cerita deskripsi sangat enggan untuk bertepuk tangan Justru malah mentertawakannya.

Namun disisi lain, juga masih banyak sekolah yang menyampaikan ide pendapat hanya hasil dari membaca buku bukan menekan pada kreatifitas, walaupun ini ada didalam kurikulum yang dianjurkan.

Hal ini mendominan atas adanya Guru yang biasa menikmati zona nyaman alias tidak mau repot.

Banyak guru yang enggan untuk merencanakan action plannya ada scenario untuk mengasah keterampilan tersebut yang berdampak pada penanaman karakter dan nilai-nilai positif kepada siswa.

Ohhh Tuhan.. aku tidak boleh mengeluh apa lagi setelah pulang dari Melbourne yang penuh dengan sejuta Kenangan aku menghirup udara nya merasakan dingin panas dan sejuk nya cuaca yang tiba-tiba berubah sempat menemaniku. Lalu lintas yang tertib, makanan aneka menu yang baru aku temukan dan rasakan. Juga asyiknya naik train yang harus selalu membawa Kartu myki serta belajar bagaimana cek saldo dan to up kartunya naik trem. Walau aku sangat sulit menghafal nama-nama tempat yang ku singgahi tapi, aku pasti ada yang hafal seperti Flinders station Clayton, Huntingdale Station, Cauldfild, Yarra River, Chandstone dan tempat yang paling aku sukai adalah Victoria Markert. Karena di sana merupakan pusat oleh-oleh dan barang murah juga beberapa tempat indah dan bersejarah yang aku kunjungi juga.

Baca Juga:  Kearifan Nun Kalaim Genggong Teladan Hidup Makmur Dunia Akhirat

Hal lain yang bisa aku petik dari penanaman karakter dan nilai-nilai positif lainnya adalah adanya tulisan Friendship Stop yang tertulis di beberapa dinding depan kelas.

Apa maknanya ?, aku sangat penasaran tingkat dewa karena, itu kalimat yang aneh bagiku. Kemudian, aku berusaha mencari penjelasan dan Mr. Edward, wakil kepala sekolah yang menyambut dan mendampingi kami selama School Visit Program Friendship Stop mengatakan, Friendship Stop adalah suatu tempat yang disediakan untuk siswa yang tidak punya teman. Dengan siswa tersebut berdiri di tempat yang ada tulisan itu maka, dia akan didatangi temannya untuk mengajaknya bermain atau jika temannya tidak ada yang datang menghampiri maka, gurunya yang akan datang menemani dan mengajaknya bermain.

Ketika kusadari atas Friendship Stop, ternyata sangat tidak nyaman sendiri.

Merasakan apa yang orang lain rasakan sangat penting dan harus ditanamkan. Friendship Stop ini juga sangat bermanfaat bagi siswa yang baru masuk sekolah apalagi untuk siswa yang pindah sekolah karena ikut orang tuanya. Jarang hal ini terjadi di kita? ini hal baru yang tidak pernah aku temui di kotaku dan baru aku dapatkan di Melbourne.

Aku semangat untuk mencoba menyiarkan di sekolah dan di kotaku. Friendship Stop adalah hal yang sangat positif dan bermanfaat untuk bisa kita lakukan tentu saja sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah apalagi manfaatnya diperkuat oleh mas Agus (salah satu orang tua wali murid yang pernah menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut). Beliau mengatakan bahwa, Friendship Stop sangat dirasakan betul manfaatnya. Saat sang buah hati sekolah di Australia ada rasa nyaman dan enjoy. Karena sebagai siswa yang berasal dari Indonesia sekolah di luar negeri orang tuapun tentu merasa was-was, deg-degan pas pada awalnya. Tetapi dengan adanya Friendship Stop gundah Gulana dan stres tidak dialaminya.

Baca Juga: Resep Ampuh Melenyapkan NU Garis Lurus (NUGL) Dewan Pakar Rijalul Anshor

Seandainya di semua sekolah di Indonesia ada seperti itu pasti akan menjadi hal yang membahagiakan bagi siswa dan orang tua wali murid.

Masih ada hal lain yang ingin aku ceritakan di sini yaitu, saat mengikuti program school visit dan Shadowing. Dimana aku melihat langsung kegiatan di sekolah terutama dalam penanaman karakter dan nilai-nilai yang sangat mendapat perhatian.

Antara lain dengan memasang tulisan tulisan motivasi di mana-mana bahkan memberikan sertifikat kepada siswa yang terbaik dalam nilai tersebut dan sertifikat itu nantinya diserahkan saat acara Assembly program di aula.

Baca Juga:  Karomah Kyai Ali Brangbang Melatih Kera Hingga Fasih Mengaji

Tidak hanya itu badge untuk siswa kelas akhir juga diserahkan secara seremonial. Suaru penghargaan yang sangat luar biasa dan sangat berharga untuk memotivasi dan menginspirasi para siswa.

Sedangkan selama ini, yang aku lakukan adalah memberi sertifikat kepada siswa yang berprestasi secara akademik ataupun yang non akademik seperti rangking yang dicapai, prestasi lomba lomba olahraga, kesenian dan lain sebagainya. Sedangkan untuk sertifikat dalam penanaman nilai-nilai belum pernah aku lakukan.

Maka dari itu, aku bertekad untuk memulai dan mengadakan perubahan dari hal yang kecil tapi besar dampaknya menurutku.

Cita-citaku tidak muluk-muluk tapi setidaknya aku bisa memberikan sedikit warna pada pendidikan di sekolahku di kota kecil yang jauh dari kebisingan dan penuh kesejukan yang dikenal dengan kota Bondowoso yang juga sebagai Kota Megalitikum.

Semoga mimpi kecilku bisa terwujud dengan dukungan dan doa dari keluarga besar SMK PPN 1 Tegalampel yang luar biasa juga keluarga kecilku tercinta selama ini yang menyimpan rindu untukku dan ku simpan Rindu Untuk mereka.

Salah rasanya jika kukatakan kalau tidak terasa telah 21 hari aku di Australia. Akan tetapi waktu itu aku rasakan berlalu dengan penuh keceriaan bersama dengan teman hebat yang selalu saling berbagi dan pasti selalu berfoto Ria menyisakan jejak-jejak bahwa aku pernah di Melbourne.

Kini aku sudah rindu sambel terasi buatan Bunda Ku, rindu dengan rekan buah hatiku, kangen curhatan siswa-siswaku dan keluarga besar sekolahku tercinta.

Oh ya aku juga rindu aroma khas tape dan nikmatnya kopi arabika kesukaanku, rindu hijaunya sekolahku dan rumah mungilku. Rindu semua orang yang menyayangiku tapi sedih juga berpisah dengan teman-teman seperjuangan yang selama ini menemaniku. Sobat, kita harus optimis bahwa kita akan bertemu lagi suatu saat nanti, entah di belahan bumi yang mana yang jelas dan pasti aku simpan rapi rindu dan kenangan ini di hati yang terdalam.

Kini tiba saatnya aku pulang dan telah kurindukan akan panggilan Pak sabar yang selalu minta difoto, rindu perhatian bu Diana yang selalu cantik, rindu tomatnya Pak Musa, rindu ancaman bu Lily yang hendak memindahkan Bondowoso ke Makassar, rindu pak Cipto yang selalu memotret aku di sisi yang tidak pernah dilakukan orang lain gendang yang khas dengan suara tembangan nya Makassa, rindu bak Silvi yang quick response, rindu Pak Putu sang dokter IT, Pak Joko dengan suara khas Broery nya, Bu Hikmah yang selalu aktif, bu Dian yang multitalenta, Bu Nani yang keibuan, Bu Sriah yang sabar, bu Lasmi yang wajahnya medhok banget, Bu Mona yang kreatif, bu umy yang kalem u, Kak Panca yang pintar Joget, Pak suwar yang tidak kuat dingin, Pak Khairul yang selalu rapi, Bu Yus yang selalu dengan tongsisnya dan yang selalu fenomenal Pak Moko yang inspiratif gimana memotivasi juga sang doktor muda, Mas Agus yang hamble dan selalu tersenyum menyejukkan serta yang lain yang tidak bisa aku cabut satu persatu semuanya selalu menjadi sesuatu yang takkan pernah aku lupakan.

Publisher: Hadat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here