Sejarah Legend Dhapur Mahesa Lajer Serta Jenis-jenisnya

0
155

Sejarah Budaya – Kali ini, kita akan mengupas salah satu dhapur keris Mahesa atau Kebo. Dimana, keris ini termasuk jenis keris yang yang cukup populer di berbagai kalangan pecinta tosan aji Nusantara.

Ada berbagai jenis varian dalam katagori keris ini misalnya, pada varian bilah lurus ada Kebo Lajer, Kebo Teki, Kebo Salurung, Kebo Giri dan yang lainnya.

Sementara, mewakili bilah luk antara lain Kebo Dengen atau Mahesa Dengen, Mahesa tan Kober, Mahesa Anabrang atau Mahesa Nyabrang, dan lain-lainnya. 

Ada banyak pendapat bahwa, untuk jenis keris berdapur kebo yang bilahnya lurus, disebut kebo. Tapi agak aneh, untuk keris kebo yang berluk disebut mahesa.  

Memang, belum terlacak mengapa ada pembedaan seperti itu. Sama halnya, belum terkuak apa yang membuat sang mpu keris alias pandenya, menamainya kebo atau kerbau atau mahesa (mengapa bukan nandi atau sapi).

Menurut pemerhati pusaka asal Jember R. Bambang Abimanyau, ada yang berpendapat, keris berdapur kebo atau mahesa adalah keris ageman yang sering dimiliki kaum petani. Pendapat ini tentulah erat kaitannya dengan kerbau sebagai alat membajak sawah.

Akan tetapi, lanjut Bambang, banyak pula yang  berpendapat berbeda. Karena, berdasar banyak literatur, keris kebo pada awalnya dimiliki para pangeran, raja, serta bangsawan.

Pria kelahiran Lumajang yang kini menetap di Kabupaten Jember ini, menyebut ada kesalahan saat menganggap keris kebo hanya identik dengan petani. Sebab, keris kebo ada sejarahnya tersendiri.

“Tidak betul dhapur kebo semacam itu untuk petani. Itu merupakan salah bentuk keris tertua, ciptaan Mpu Lantanpai, dibabar di Goa Sangat, sekarang disebut goa langse di Jogjakarta. Sebagai pusaka utama Raja Pakundak. Keris itu diberi nama Sang Mahesa Ladrang tapi nama dhapurnya ada tersendiri.

Baca Juga:  Keris Sodo Lanang Kinasih Sunan Kalijaga dan Begawan Hanoman Gunung Lawu

Keris itu mulanya kembar tapi, yang satu patah. Saat putranya dewasa yakni, pangeran Putaran Jaya memerintah, terjadi pemberontakan Ratu Banowati, buliknya. Terjadi peperangan di Kutoarjo. “Pangeran terdesak dan masuk hutan. Akhirnya terselamatkan saat di tengah malam hujan lebat, berhasil keluar melalui jalan kubangan luar naik kerbau kendaraannya. Nah sebagai penghargaan, bentuk pusaka kerajaan sebutaannya diganti dhapur kebo.

Mendengar penjelasan itu, diskusi keris menjadi lebih menarik. “Nderek nyimak dan mencatat ulasan dan pembabarannya bopo.semakin menambah referensi dan mengenai keris keris berdapur kebo/mahesa,” tutur Ki Bambang.

Ki Bambang kembali menjelaskan bahwa, pada saat keraton menjadikan keris berkaitan dengan aksesori regulasi dan status sosial di jaman Mataram,  maka kemudian bentuk keris yang sederhana itu dianggap sebagai keris prtani. 

“Keris luk 13 yang renik dan wah dianggap keris raja. Tapi memang, pada waktu keris kebo diciptakan, istilah keris belum ada,” pungkasnya. (Hadat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here