Beranda Artikel Selain Lezat, Ternyata Kuliner Tradisional Nusantara Juga Sarat Akan Sejarah

Selain Lezat, Ternyata Kuliner Tradisional Nusantara Juga Sarat Akan Sejarah

0
24

SB – Nah kali ini, mari kita simak bersama ulasan terkait kuliner tradisional bumi Nusantara yang dirangkum dari berbagai sumber. Dimana kuliner yang terdiri dari Makanan, Minuman dan masakan khas kali ini akan kita kupas dari sisi sejarah serta khasiat yang terkandung didalamnya.

Minuman tradisional punya cerita dan sejarahnya masing-masing. Untuk di Pulau Jawa sendiri, setiap masakan tradisional dengan cita rasa dan bumbu asli rempahnya ternyata beragam memiliki sejarah menarik.

Sejarah masakan khas Jawa, seperti sejo jamblang, sego golong, dan manuk nom. Dari nama-namanya saja sudah unik dan sejarah setiap sajian masakan tersebut ternyata tak kalah menariknya dengan mendalami dunia digitalisasi yang gencar dan melekat di era saat ini.

Ok guys… langsung kepoint yuk….

Sego Jamblang adalah makanan khas Cirebon yang pada awalnya diperuntukkan bagi para pekerja paksa pada zaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan yang melewati wilayah Kabupaten Cirebon.

Salah satu alasan mengapa Sego Jamblang dibungkus dengan daun jati. Ternyata dibandingkan daun pisang, nasi yang dibungkus dengan daun jati bisa tahan lebih lama dan terasa pulen. Ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu kualitas nasi tetap terjaga dalam waktu lama.

Sejarah sego Ghulung atau Tabhek yang berarti nasi yang dikepal dan dibulat-bulatkan juga menarik. Menu ini ternyata sangat erat dengan tradisi kuliner masyarakat Jawa yang secara umum memiliki filosofi yang berarti bersatu. Pada masa KGPAA Mangkunegoro I (Pangeran Sabernyawa) dari Pura Mangkunegaran. Menu ini juga menjadi favorit beliau dimana, beliau adalah salah satu pejuang yang bergerilya melawan penjajah selama 16 tahun (1740-1757).

Pada waktu itu, menu ini menggunakan bahan yang cukup sederhana mengingat situasi pada masa itu adalah situasi prihatin dalam masa perjuangan. Terdiri dari nasi putih yang dikepal atau dibulatkan, dengan lauk urap sayuran, suwiran ayam, potongan tempe dan tahu serta sayur bening.

Baca Juga:  Predeksi Kembalinya Sabdo Palon di Bumi Nusantara

Selain itu ada Manuk Nom. Makanan unik ini sejenis puding yang dibuat dari paduan tape ketan hijau dan telor. Manuk nom disajikan sebagai makanan penutup pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII, pada tahun 1877-1921. Namun pada era Sri Sultan Hamengku Buwono (1921-1939) manuk nom disajikan sebagai hidangan pembuka.

Seperti namanya Manuk Nom atau burung muda berbentuk menyerupai burung kecil. Ditata sedemikian rapi dalam wadah berbentuk daun lengkap dengan alas daun pisang, puding ini tampak menggugah selera. Belum lagi dekorasi emping melinjo yang terletak di atas puding tampak seperti sayap dan sangat unik sekali. Selain cita rasanya yang khas, masakan khas Jawa juga menyimpan cerita sejarah penting.

Nah, mungkin ini sedikit kilas kuliner tradisional yamg dapat kami rangkum saat ini. Semoga menjadi manfaat untuk seluruh pembaca. Salam Rahayu. (Hadat)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here