Beranda legenda Legenda Telur Kutukan Telaga Sarangan

Legenda Telur Kutukan Telaga Sarangan

0
28
Dok. Sj

Telaga Pasir atau Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan berada di ketinggian 1.200 mdpl, dan berjarak sekitar 16 KM ke arah barat dari pusat kota.

Selain memiliki panorama nan eksotis, telaga dengan luas 30 Hektar dan kedalaman sekitar 28 meter ini, ternyata juga memiliki legenda yang menarik untuk diketahui di era moderenisasi saat ini. Selain, sebagai acuan untuk generasi penerus agar bangga memiliki runtutan legenda, juga akan menambah ketertarikan wisatawan untuk mengetahui lebih dalam dari histori tempat tersebut.

Nah, kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit mengupas legenda asal usul Telaga Sarangan atau dengan julukan lain Telaga Pasir di lereng Gunung Lawu.

Yuk langsung simak saja..cek it out..!?

Dikisahkan pada dahulu kala sebelum telaga terbentuk, hiduplah sepasang suami istri yang harmonis bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Kala itu diceritakan, pasangan suami istri itu menyambung hidupnya dengan menjadi petani.

Namun, keduanya sudah lama menikah dan tidak kunjung mendapatkan buah hati. Hingga pada suatu ketika keduanya berdoa dan memohon kepada sang pencipta dengan melakukan tapa patih geni untuk memohon keturunan.

Singkat cerita, tak selang beberapa lama Kyai dan Nyai Pasir pun dikaruniai seorang putra yang diberi nama Joko Lelung. Setelah Joko Lelung beranjak remaja, Kyai Pasir dan Nyai Pasir meminta lagi kepada sang pencipta agar diberikan umur panjang.

Konon, dalam doanya mereka mendapat wisik untuk memakan telur yang ada di sekitar ladang mereka agar keinginan mereka dapat terwujud mendapat umur panjang.

Singkatnya, Kyai Pasir dan Nyai Pasir menemukan telur itu dan segera membawa pulang untuk dimasak. Mereka memasak telur tersebut dan memakannya berdua. Namun, setelah memakan telur itu keduanya merasakan gatal yang sangat hebat di sekujur tubuhnya.

Baca Juga:  Keramat Sumur Tua Joko Tole Juga Tongkat Kayu Kelor

Mereka terus menggaruk tubuhnya yang gatal dan terasa panas itu sehingga kulitnya menjadi lecet. Lama kelamaan wujud Kyai Pasir dan Nyai Pasir ini beruba menjadi sepasang naga berukuran besar.

Sepasang naga itu terus berguling-guling di tanah sehingga bentuk tanah menjadi cekungan dan  mengeluarkan air yang cukup deras. Tak sampai disitu saja, ke dua pasang naga itu diceritakan terus berguling dan membuat cekungan-cekungan baru hingga akan menenggelamkan Gunung Lawu.

Melihat hal tersebut sebagai putra semata wayang, Joko Lelung yang sudah beranjak remaja, menangis dan memohon pada sang pencipta agar menghentikan derita orang tuanya.

Usai berdoa, kedua naga yang memang orang tua dari Joko Lelung itu pun dapat ditenangkan dan tidak berguling guling lagi. Namun demikian, bekas gulingan yang sudah menjadi telaga itu akhirnya dikenal masyarakat sekitar hingga kini dengan nama telaga pasir.

Setelah itu, Kyai dan Nyai Pasir yang berubah menjadi Naga itu, perlahan menjadi mahluk tak kasat mata yang diyakini hingga saat ini masih menunggu di telaga sampai anugrah umur panjang dari sang pencipta berakhir. (dats)

Klick Juga Video di bawah

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here