Jebakan PKI Tumpahkan Darah Puluhan Banom NU di Banyuwangi

0
18

Sebagai banom Nahdlatul Ulama (NU), Banser dan Anshor memang dikenal memiliki pengaruh besar sejak dulu dan gigih utamanya dalam peranan mempertahankan Kemerdekaan NKRI.  Peranannya sudah tidak diragukan lagi termasuk menjadi garda depan dalam memberantas gerakan ideologi PKI yang saat itu memang dikenal sangat sadis.

Tidak sedikit aktivis dari berbagai banom NU ini, rela mengorbankan nyawa demi terwujudnya kemerdekaan yang nyata. Oleh karenanya, banyak pentolan PKI kala itu yang menganggap banom NU sebagai batu sandungan terbesar untuk mewujudkan ideologi komunisnya.

Untuk dapat mematahkan gerakan aktivis NU kala itu, PKI sering melancarkan strategi licik dengan berusaha membunuh oknum-oknumnya.

Dikisahkan, pada tanggal 18 Oktober 1965, seorang dedengkot PKI di Banyuwangi bernama Matulus sengaja akan menjebak para Aktivis Banser dan Ansor dalam acara pengajian.

Matulus yang juga sebagai Lurah di Desa Cemetuk Kecamatan Cluring itu rela mengorbankan puluhan warganya untuk mati bersama dengan sejumlah aktivis Banser dan Anshor yang dianggap sbagai musuh PKI.

Singkat cerita, ratusan warga Desa Cemetuk dan sekitarnya kala itu, berbondong-bondong menuju rumah Pak Lurah. Dimana sebelumnya mereka mendapat undangan pengajian dengan mengatasnamakan NU.

Setelah sampai di areal pengajian, tepatnya di halaman rumah Pak Lurah, ternyata sejumlah anggota PKI utamanya Gerwani menyambut warga yang datang dengan menyamar sebagai Banser dan Fatayat.

Para anggota PKI utamanya Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) turut serta dibagian konsumsi. Mereka mengenakan kerudung dan seragam warna hijau khas Fatayat NU. Mereka juga ikut membaca sholawat. Jadi, sebagian Gerwani bertugas sholawatan di panggung dan sebagian lagi mengurusi konsumsi.

Tak ada kecurigaan sama sekali dari pengajian penuh petaka itu. Warga desa larut dalam iringan sholawat dan diakhiri dengan acara makan-makan besar. Mereka bergembira sebagaimana dalam suasana pengajian pada umumnya.

Baca Juga:  Sepenggal Liku Mistis Presiden ke Dua Pertiwi Indonesia

Namun usai menyantap hidangan, para tamu terlihat memegang perut dan leher mereka seraya kejang-kejang. Mereka terlihat sangat kesakitan kelojotan di halaman rumah Lurah Matulus.

Ternyata racun makanan yang ditaruh oleh para Gerwani sudah bekerja dengan baik. Bisa membunuh para anggota Anshor dan Banser Banyuwangi sekaligus ratusan masyarakat awam yang tidak lain merupakan warga lurah Matulus sendiri.

Terlihat para Gerwani tertawa gembira menyaksikan para anggota Banser dan Anshor sekarat. Mereka tak lagi berpura-pura menjadi anggota Fatayat yang mendendangkan sholawat lagi, namun berubah menjadi Gerwani yang Sesungguhnya mendendangkan lagu genjer-genjer.

Mereka terbahak-bahak melihat peserta pengajian bertumbangan satu persatu. Tak ada perlawanan berarti. Cukup dengan racun makanan maka musuh pun tumbang bersamaan.

Tak puas melihat aktivis Banser, Anshor dan warga peserta pengajian sedang sekarat tersiksa oleh racun yang mereka makan, PKI menyeret mereka ke rumah Mangun Lehar (seorang tokoh utama PKI di Desa Cemetuk) untuk dibantai hingga tewas mengenaskan.

Sebanyak 62 anggota Banser dan Anshor dibantai tiada ampun. Mereka diiris, dicacah, dimutilasi oleh saudara sebangsanya sendiri di halaman Rumah Mangun Lehar yang otomatis banjir dengan merahnya darah.

Kumpulan wanita durjana Gerwani pun turut serta dalam peristiwa pembantaian itu. Mereka menari dan menyanyi genjer-genjer tiada henti. Seakan menikmati tarian darah tumbal manusia. Entahlah mengapa hati mereka begitu buas. Pesta penjagalan manusia seolah pesta biasa saja dan menjadi kepuasan.

Selanjutnya, usai pesta penjagalan keji itu, jenazah anggota Banser & Anshor dibuang bagai bangkai binatang dalam 3 lubang besar yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya.

Lubang pertama berisi 10 mayat. Lubang kedua berisi 10 mayat. Dan lubang ketiga berisi 42 mayat. Sampai saat ini ketiga lubang mayat itu masih ada di Desa Cemetuk Banyuwangi.

Baca Juga:  Hanya Dengan Sebilah Clurit Pusaka, Ki. Ronggo Perluas Wilayah Hingga ke Jember

Untuk mengingat peristiwa kekejian PKI di Desa Cemetuk Banyuwangi ini, telah dibangun monumen Pancasila Jaya. Monumen berupa burung Garuda besar. Berisi daftar nama 62 orang yang dibantai. Juga relief pembunuhan keji. Juga 3 lubang kuburan massal yang dinamakan lubang buaya.

Sebuah pengingat nyata bagi kita semua. Bahwa PKI tak pernah memiliki belas kasih terhadap sesama. Tak pernah memiliki hati nurani bersih yang ada hanyalah pertumpahan darah sesama anak bangsa. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here