Legenda Sang Naga di Bukit Bondowoso Part 04

0
65

(Sj) Nah kita lanjutkan kisanya di part 04 ini agar tidak penasaran ya

Kini, mustika boga sudah ada di genggaman Loka Timun dan perlahan seolah pandangannya dapat menembus batas batas kewajaran manusia. Tubuhnya mulai terasa ringan seolah ia dapat terbang selembut kapas. Dengan gembira sekaligus panik Loka Timun berhasrat segera menjajaki luasnya langit dan bumi. Namun ia masih sibuk dan beradaptasi dengan kemampuannya saat ini.

Sementara sang naga mulai terbangun dari peraduan tapanya dan bersiap menjemput kematian dengan jalan moksa.

Akan tetapi, sang naga mulai menunjukkan kegelisahannya sebab, masa moksanya kini kurang begitu sempurna dengan lumuran darah segar yang memancar dari kening bekas tercabutnya mustika.

Konon, moksa yang sempurna menurut kepercayaan leluhur yakni, moksa yang murni tanpa mengeluarkan cairan sedikitpun.

Dari ketidak sempurnaan moksanya tersebut, sang nagapun mempertanggung jawabkannya kepada si pencabut mustika yakni, Loka Timun untuk menggantikan setiap tetes darah yang keluar dengan nyawanya.

Perlahanpun tubuh naga mulai memudar bagai debu tertiup angin. Namun, sebelum seluruh tubuhnya menghilang, Nagapun mengeluarkan sabda kepada Loka Timun.

“Wahai engkau yang telah mencabut mustikaku, engkau akan menggantikan setiap tetes darahku yang mengalir dengan nyawamu. Kau akan turut dengan ku moksa menghadap sang pencipta,” sabda sang naga mengiringi hilangnya jasad yang tertiup angin.

Loka timunpun panik saat ia melihat dari ujung kakinya mermbat juga memudar persis sama dengan yang dialami naga. Diainipun Loka Timun sadar bahwa ia telah melalaikan pesan gurunya untuk tidak mencabut mustika boga sebelum naga menyelesaikan tapanya.

Akan tetapi apalah daya, nasi sudah menjadi lemper,,😂😂😂😂 Loka timunpun akhirnya pasrah menghadapi akhir hidupnya yang turut moksa bersama sang naga. Bersambung ke legenda-sang-naga-di-bukit-bondowoso-part-05(dats)

Tinggalkan Balasan