Menguak Keganjilan Dibalik Istilah PESI KURUNG Pada Bagian Keris

0
20

Nah kali ini kita berjumpa lagi dengan sejarah-budaya.com yang sedikit akan mengupas logika dan isoteri mengenai istilah Pesi Kurung.

Pada dasarnya pesi kurung adalah pesi dari keris yang secara tidak sengaja tertinggal atau patah sebagian di dalam hulu /deder dan tidak dapat dikeluarkan kecuali merusak dari deder itu sendiri.

Peristiwa yang dianggap sebagian insan sebagai peristiwa tidak wajar ini tentu saja pada jaman dahulu menggelitik sesepuh-sesepuh kita untuk mencari tau jawaban yang mendalam dari “pertanda” tersebut dengan istilah metode OTHAK ATHIK GATHUK.

Dimana, orang Jawa sangat terbuka dengan pendapat yang lain dan tidak menganut kebenaran mutlak menurut dirinya sendiri. Karena jauh dari unsur atau faktor kesengajaan, pesi yang merupakan bagian dan memberikan kekuatan untuk menopang bilah serta dipercaya sebagian orang sebagai wadah bersemayamnya isoteri dari wesi aji.

Berpisahnya pesi dengan kerisnya ibarat memang sudah waktunya dan tempat dimana sebagian pesi tertinggal dapat dimaknai ketiban pulung dalam arti positif. Daya magis keris dipercaya sudah berpindah sebagian atau keseluruan pada hulu atau deder yang didalamnya masih tertanam pesi (pesi kurung).

Mengakui adanya kekuatan gaib, merupakan pengakuan universal manusia. Benda-benda yang diyakini mempunyai kekuatan gaib banyak dicari orang sebagai barang pegangan. Barang pegangan yang mempunyai kekuatan tersebut, orang jawa menyebutnya sebagai jimat. Karena antara budaya dan kepercayaan selamanya akan tetap menjadi bagian dari hidup manusia. Tidak ubahnya dengan wayang, keris sebagai produk sebuah budaya memiliki lakon carangan atau sempalan-nya sendiri, contohnya mengenai cerita pesi kurung.

Mengenai tuah dari pesi kurung yang bermacam-macam seperti tolak bala, sarana penglaris, keselamatan, menumpuk kekayaan sampai pengasihan dan lain-lain tentu saja sangat masuk akal mengingat berbanding lurus dengan banyaknya macam pamor dan tuahnya. Tetapi tentu saja pesi kurung hanya sekedar sarana, daya dan kekuatan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Nah mungkin demikian sekelumit Pesi Kurung yang dapat saya babar pada kesempatan ini. Semoga kita semua selalu dalam lindungan yang maha kuasa dan enggan untuk meninggalkan sejarah budaya Nusantara. Rahayu, rahayu, rahayu…. (hadat)

Tinggalkan Balasan