Ungkap Filosofi Ketupat Serabi Yang Dipercaya Sebagai Penangkal Wabah

0
40
Ketupat dan Serabhi

Kali ini sejarah-budaya.com akan mengupas filosofi Ketupat dan Serabi yang layak diterapkan pada kehidupan sehari hari.

Mengapa harus ketupat…?

Belakangan masyarakat di Kabupaten Bondowoso digemparkan dengan meningkatnya Kasus positif Covid-19 yang terhitung sampai dengan 07 Juli 2021 mencapai 306 pasien rawat aktif dan 257 pasien meninggal dunia akibat ganasnya virus Corona.

Hal ini membuat mayoritas masyarakatnya melakukan ikhtiar atau usaha tradisi dengan menyedekahkan jenis jajanan Serabi dan Ketupat pada sanak kadang dan tetangga.

Sedekah tersebut dilaksanakan dengan cara, setiap rumah menyediakan serabi dan ketupat yang jumlahnya mengikuti jumlah jiwa dalam rumah tersebut.

Jika satu rumah atau satu keluarga ada 6 orang maka, ketupat dan serabinya berjumlah enam pasang.

Adapun pelaksanaannya, lanjut Ki. Sendang, ketupat dan serabi milik masing-masing keluarga tersebut, dikumpulkan jadi satu di surau dan didoakan dengan doa memohon keselamatan.

“Biasanya, doa Nur Buat Agung dibaca 7 kali dan membaca Sholawat serta doa keselamatan. Setelah itu, ketupat dan serabinya dibagikan antar sanak kadang dan tetangga yang diniati dengan niat berbagi atau shodaqoh,” jelasnya.

Sementara, menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Asy’ari Pasha, biasanya memang ada amalan dari orang tertentu.

Menurutnya, hal semacam itu hanya cara atau tingkatan setiap orang atau masyarakat untuk berdoa. “Itu hanya cara saja. Tetapi memang salah satu upaya untuk menghilangkan wabah itu, harus dengan berdoa,” jelasnya.

Nah kali ini, sejarah-budaya.com akan lebih menekankan pada sisi filosofi dari serabi dan ketupat yang digali pada salah seorang Fakir yang berjuluk Ki. Mabhur Kanginan.

Yuk langsung aja disimak….!

Menurut Ki. Mabhur Kanginan, Kerupat berasal dari kata Lepat (bahasa Jawa red-) yang artinya Salah atau Kesalahan. Maka dari itu, setiap insan pastilah memiliki kesalahan yang disengaja terlebih kesalahan yang tidak sengaja atau tidak disadari.

Kesalahan tersebut asalnya dari pemikiran yang akhirnya dimanifestasikan lewat perbutan. Sehingga baik disengaja maupun tidak, kesalahan tersebut dapat merugikan lain pihak.

Biasanya kesalahan tersebut, diakibatkan karena, antara pemikiran, hati dan perbuatan tidak sejalan pengaplikasiannya.

Jadi, makna filosofi Ketupat sendiri untuk manusia haruslah menyadari setiap kesalahan yang diperbuatnya setiap saat.

Untuk Serabi sendiri, asal mula dari kata Rabi (bahasa Jawa red-) atau Menikah. Artinya kita haruslah dapat menyatukan Pemikiran dan hati melalui manifestasi perbutan yang arahnya menuju pada kebaikan untuk sesama terlebih alam semesta.

Intinya Ketupat dan Serabi mengandung makna menyadari kesalahan dan memperbaikinya dengan menyingkronkan hati fikiran sehingga mepahirkan perbuatan yang membawa kebaikan.

Filosofi dari tradisi ini, sebenarnya sudah ratusan silam diterapkan oleh leluhur bangsa ini yang tujuannya ketika seseorang sudah menerapkan ke arifan budi pekerti yang baik, niscaya, segala penyakit tidak akan pernah mendekat ke muka bumi bahkan ke manusianya. Wallahu a’lam Bissawab….(dats).

Tinggalkan Balasan