Warangka Sandang Walikat “Tri Argo” Khas Bondowoso dan Nilai Filosofinya

0
24
Dok. sejarah-budaya.com
Dok. sejarah-budaya.com

Setiap keris memiliki warangka atau sarung dari sebuah wilah wesi aji di dalamnya. Secara praktis warangka keris berfungsi sebagai pelindung bilah keris, namun secara filosofis warangka keris mengajarkan bahwa, kehebatan dan keperkasaan keris bukan untuk di pamer-pamerkan, kehebatan itu harus disamarkan dengan menyembunyikannya pada warangka yang ada. Dalam adat jawa, keris dan warangkanya memiliki nilai yang sama pentingnya.

Baik dari sisi fungsi, filosofi maupun karakteristik, wilahan dan warangka sama sama penting. Oleh sebab itu, pepatah jawa mengatakan “Ajining Rogo soko Bhusono” / Wibawanya Raga dari busana yang dikenakan.

Nah kali ini, sejarah-budaya.com akan sedikit mengulas makna dari salah satu jenis warangka asal Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur yakni, warangka Sandang walikat “Tri Argo”.

Warangka ini, kali pertama diciptakan oleh mpu Arum dari desa Bendoarum, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur – Indonesia yang diinisiasi oleh komunitas tosan aji “Pataji Singowulung”.

Dimana kita ketahui bersama, Bondowoso Memiliki Ribuan Kekayaan Sejarah Dan Legenda  yang masih terpendam dan perlu digali lebih dalam kisahnya ke permukaan publik

Dimana, dalam proses terciptanya warangka Sandang walikat “Tri Argo“, merupakan perpaduan pemikiran dari segenap anggota “Pataji Singowulung” yang akhirnya dimanifestasikan oleh Mpu. Arum melalui tangan seninya.

Tri Argo sendiri, memiliki arti Tri yang berarti Tiga dan Argo yang berarti Gunung. Nama tersebut dipilih mengingat kota kecil Bondowoso yang asri, tidak memiliki lautan namun, diapit olah 3 gunung gagah yakni, Gunung Argopuro di sebelah barat, Gunung Ijen di sebelah timur dan Gunung Raung di sebelah selatan.

Tiga gunung disini, memiliki atau bermakna filosofi, “Agar hendaknya manusia sadar atas muasal dan kembalinya tiap insan yang meliputi 3 alam yakni, alam kandung, dunia dan alam kelanggengan / akhirat.

Dimana, dalam mengarungi alam fana /dunia hendaknyalah dapat menerapkan budi pekerti yang baik dan bermanfaat bagi sesama.

Sehingga perbuatan tersebut, mampu mengantarkan kemurnian insan menuju akhirat dengan murni sebagaimana asalnya tercipta saat di alam kandung.

Adapun ricikan dari warangka Sandang walikat “Tri Argo” antara lain, memiliki seretan ber sap dua mirip huruf m atau angka 3 yang berarti 3 gunung tanpa lautan. Ini, melambangkan bahwa, hendaknya manusia memiliki sifat menghidupi, menghangatkan dan menaungi sesama layaknya gunung yang memberikan manfaat untuk kehidupan.

Selain itu, warangka Sandang walikat “Tri Argo” juga memiliki ricikan dua cekungan yang mengapit garis tengah atau Ri cangkring ditengahnya yang berarti dua kawah kanan dan kiri mengapit satu ruas jalas yakni kawah ijen dan kawah wurung.

Ricikan warangka sandang walikat “tri argo”

Dalam hal ini, manusia hidup dituntut harus menjaga keseimbangan. Ibarat berjalan di tengah jurang terjal yang kanan kirinya terdapat sebuah kawah. Jika tidak seimbang dan tergelincir ke salah satu kawah niscaya, kehidupan akan berakhir. Selain itu, Ri cangkring yang ada di warangka Sandang walikat “Tri Argo” juga melambangkan jembatan sirotol mustakim.

Dan sebagai pelengkap ricikan, warangka ini juga dilengkapi dengan oernamen ricikan seretan, lambe serta ukel yang tajam tegas dan berwibawa. Ini melambangkan karakter penduduk Bondowoso dengan kondisi cuacanya yang dingin. Sehingga mampu, dengan keramahan, menyambut sesama kaum dengan ramah dan berwibawa.

Warangka sandang walikat “Tri Argo” ini, tentu akan menambah salah satu koleksi budaya yang mulai terangkat ke permukaan dari ribuan budaya terpendam di kota Bondowoso yang juga terkenal dengan jargonnya kota tape.

Dimana kita ketahui, kota kecil dingin dan asri ujung timur pulau jawa ini, cukup banyak peninggalan-peninggalan sejarah maupun pra sejarah yang hingga saat ini, kehilangan jejak ceritanya.

Menurut mpu. Arum alias Moh. Azis atau Pak Selvi, warangka ciptaannya tersebut diharapkan dapat menjadi penanda kelak bagi anak cucu bangsa ini dan diharap dapat menjadi penanda bahwa di Bondowoso ini memiliki warangka khas yang tidak sama dengan warangka dari daerah lain.

“Tanpa keluar dari pakem warangka tosan aji, Bondowoso juga memiliki warangka khasnya sendiri,” katanya.

Mpu. Arum / Moh. Asis / P. Selvi warga desa Bendoarum – Bondowoso

Selain itu, dalam momentum yang nyaris bersamaan atara terciptanya warangka tri argo, Pemerintah Daerah Bondowoso juga sedang gencar gencarnya mensukseskan program ijen geo park menuju Kawasan Bondowoso dalam cakupan Unesco Global geo park.

Dimana salah satunya memprioritaskan tinggalan sejarah lampau yang salah satunya keris dan warangka. Semoga Bondowoso sukses menuju Unesco Global geo park. Salam sejarah-budaya Rahayu…. (dats)

Tinggalkan Balasan