Kisah Nyata: Inspiratif Zuhud Dari Sang Musafir Kala Sampai di Bukit Pecaron

0
13
Wiryo (kiri) Puteri saya dan saya saat bercengkrama

Ditengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, saya bersama istri dan putri saya, berkunjung ke petilasan Syekh. Maulana Ishaq  Dusun Pecaron, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo Jawa Timur.

Baca Juga: Bukit Pecaron dan Kisah Cinta Syekh Maulana Ishaq

Singkat cerita, di areal petilasan saya bertemu dengan seorang musafir berbadan kurus, rambut ikal panjang dan tampak lunglai.

Wiryo (kiri) Puteri saya dan saya saat bercengkrama

Namanya Wiryo asal Solo, (sesuai ktp) sedang dalam perjalanan laku diutus oleh gurunya, KH. Ainul Yaqin ponpes Sabilul Muttaqin.

Melihat tubuh dan perawakannya saya jadi sedikit iba dan menawari makan, rokok juga minum namun, dia menolak dengan alasan soum. Walau demikian, saya sodorkan saja, “barangkali nanti setelah berbuka dapat dikonsumsi,” pikir saya.

Namun, siapa sangka dengan lunglai dan seperti bisa membaca pikiran saya, wiryo berkata, “gak usah mas, saya sudah ada dan cukup untuk berbuka nanti,” katanya.

Lantas buru buru saya sodori sedikit uang akan tetapi, dia juga menolak. Alasannya, dalam laku kali ini, dirinya harus betul-betul menjalankan amanah gurunya untuk sepenuhnya menyerahkan diri pada pahitnya hidup dan manfaat pada sesama. “Niki pon prentah guru mas (jawa red-). Saya juga tidak boleh menerima uang sampai tugas saya selesai,” katanya sambil tersenyum lunglai.

Usai itu, Wiryo merogoh sakunya dan memberikan uang pada anak saya yang jumlahnya tidak sedikit, apalagi ditengah pandemi saat ini. Agak bingung juga saya, antara diterima atau tidak.

“Itu sangu saya dari pondok mas, dari awal berangkat sampai sekarang (sudah 35 hari), hanya saya belikan sedikit makan dan minum 1 juta, ungkap Wiryo (25/07/2021).

Dirinya mengaku pada saya, uang yang dibawanya sampai saat diberikan pada anak saya, menjadi pemicu nafsu kala dia lelah berjalan dan ingin numpang kendaraan.

Oleh karenanya, Wiryo memberikan seluruh sisa uangnya kepada putri saya.

Menerima uang tersebut putri saya yang baru berumur 8 tahun girang dan lari pada ibunya yang kala itu sibuk ber selvi ria.

Istri saya

Melihat uang tersebut istri saya bertanya, “Uang siapa itu, dapat dari mana ?,” tanya istri agak kaget dan bingung.

Singkat cerita, bergabunglah istri saya dengan kami (saya dan Wiryo) yang masih asik ngobrol. Tau, istri saya menghampiri kami berdua, tiba-tiba Wiryo terdiam. Lama, diantara kami saling terdiam tanpa ada sepatah kata yang terucap.

Sekitar setengah jam, Wiryo saya lihat asyik memandang matahari tenggelam di atas lautan dan tanpa saya sangka Wiryo mulai membuka pembicaraan dengan menanyakan, “Apa benar akhir-akhir ini banyak yang meninggal mas,” tanyanya kepada saya.

Belum sempat saya menjawab, Wiryo berkata lagi, “Ini sudah akhir zaman. Kita wajib bersyukur karena tidak ada mulai dulu bahkan jaman Rosulullah, menyamai dengan jaman sekarang,” tukasnya tampak serius.

Lanjutnya, tapi menurut saya, semakin parah kondisi saat ini, insya Allah akan semakin cepat selesai. “Patuhi saja beratnya pengkondisian ini, semakin berat maka semakin cepat selesai,” katanya seraya meninggalkan kami dan berpamit.

“Saya mau solat dulu mas, tunggu ya ada amanah guru saya untuk sampean bawa,” katanya.

Singkat cerita, usai solat dia menyodorkan bungkusan besar yang entah isinya apa. Usai memberikan bungkusan Wiryo tersenyum dan berkata, “Ujian senang tidak kalah beratnya dengan ujian susah. Pesen guru saya, sampean harus bersabar mengemban amanah kedepan. Bungkusan ini, saya hanya titip, suatu saat akan ada yang mengambilnya dan serahkan saja jangan ragu. Jangan sampean buka sampai pemilik asli mengambilnya.,” pesan Wiryo.

Bungkusan yang disodorkan

Lanjutnya, “sebelum pulang, saya titip (boto mineral kosong) berikan ini ke pedagang bakso dibawah ya mas. Biar di isi kopi. Biar nanti saya ambil sendiri ke bawah,” katanya sambil menepuk paha saya dan berkata “selamat berjuang,”.

Tidak merasa di usir sayapun beranjak kebawah bukit, langsung memesan kopi. Saya pikir biar Wiryo tidak turun inisiatif muncil, biar saya antarkan saja ke atas. Bersambung…. (dats).

 

Tinggalkan Balasan