Kisah Terciptanya Sepasang Keris Bhuto Makoro Khas Bondowoso

0
11

Kali ini,  sejarah-budaya.com  kan mengulas kisah terciptanya keris khas Kabupaten Bondowoso yakni, keris berdapur Bhuto Makara yang di inisiasi oleh paguyuban tosan aji “Singo Wulung” dan tercipta oleh seorang mpu asal desa Bendoarum, Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso.

Baca Juga: Mengenal Bondowoso dari Sejarah Puncak Kejayaannya

Nah, sebelum kita simak kisahnya, ada baiknya kita sedikit kupas dulu terkait dhapur keris Buto Makoro.

Buto Makoro berasal dari kata Bhuto yang berarti sosok mitologi mahluk raksasa yang identiknya menyerupai perpaduan hewan. Sementara Makoro memiliki arti wahana atau kendaraan dari Dewi Gangga dan Dewa Baruna.

Keris Bhuto Makoro sendiri, memiliki cri khas ukiran mahluk mitologi pada bagian gandiknya. Jika dalam pamor keris motif demikin bisa disebut  Pamor Rojo Gundolo.

Konon, pada jamanya dahulu, keris buto makoro dipercaya sebagai piandel pengusir mahluk astral negatif dan penolak bencana.

Dalam telusur sejarah-budaya.com, keris dengan dapur ini masih buram tercipta awal kali oleh siapa. Namun, dalam sastra serat dharmo gandul, pada masa kejayaan mataram kuno, keris ini sudah banyak dimiliki oleh segenap patih bahkan rajanya pada kala itu. Dan sebenarnya masih sangat banyak tulisan tersisa yang tidak dapat kita sajikan pada kesempatan ini. Mengingat pembahasan kali ini mari kita fokuskan pada terciptanya keris Buto Makoro khas Bondowoso.

Yuks Chekidot…

Berawal dari inisiatif paguyuban tosan aji “Singo Wulung” yang ingin mengangkat potensi tinggalan arif Nusantara khususnya di Bondowoso yang kebetulan tupoksi dari paguyuban ini, bergerak dalam hobi edukasi dan pemahaman terkait tosan aji.

Setiap kali pertemuan rutin, ketua paguyuban singowulung Rinto Rinaldi, selalu berinisiatif bagaimana caranya paguyuban tersbut, dapat mencipta atau mengembangkan seni-seni tinggalan luhur dengan upaya pembaruan.

Singkat cerita, diceritakanlah inisiatif tersebut kepada sang ahli pembuat keris yakni Mpu. Arum Bondowoso dan bak gayung bersambut, mpu. Arum pun setuju untuk memulai pendadaran keris khas kota tape di maksud.

Dari cerita Mpu. Arum, dirinya mulai mencari bahan sekitar satu bulan lamanya, dari bahan beberapa serpihan keris dan tombak yang sudah korosi termakan usia dan potongan nikelin yang ia kumpulkan sendiri.

Singkatnya, pada hari Jumat Pon 26 Juni 2020, mpu Arum mulai mendadar keris yang rencananya akan diciptakan sepasang keris dengan dhapur Bhuto Makoro. Pemilahan dhapur ini bukan tanpa alasan.

Mengingat karena memang logo komunitas Pataji Singowulung berupa kepala Harimau, juga di Kabupaten Bondowoso terdapat salah satu goa yang diduga peninggalan dari  Prabu Hayam Wuruk saat jajah deso minangkori di Bondowoso.

Baca Juga:  Hanya Dengan Sebilah Clurit Pusaka Ki Ronggo Perluas Wilayah Hingga ke Jember

Goa tersebut oleh penduduk sekitar dan pemerintah setempat, diberi nama Goa Bhuto. Hal ini mengadopsi dari pintu dan salah satu dinding goa yang terdapat pahatan relief Kepala Bhuta.

Goa Bhuto di Kecamatan Cerme Kabupaten Bondowoso

Sebelum memulai pendadaran, Mpu Arum mengaku bermimpi bahwa, dirinya seolah sedang menempa keris di dalam goa bhuto dengan disaksikan ribuan orang berpakaian ala masa kerajaan lampau. Di sisi kirinya ada seorang tua renta yang membantunya mendadar keris tersebut dengan merapal mantra-mantra. Menurut Mpu. Arum, setiap kali orang tua tersebut merapal mantra, muncul kilatan cahaya biru dari empat penjuru dan masuk dalam keris yang ditempanya.

Mpu. Arum / Moh. Asis / P. Selvi warga desa Bendoarum – Bondowoso

“Wallahu’alam apkah itu mimpi isyaroh atau sekedar mimpi karena lelah saya. Tapi semoga sepasang keris ini sesuai dengan harapan pemesannya dan sesuai dengan doa saya yang meminta pada sang Pencipta untuk dapat menjadi pusaka yang membawa karakter keberkahan,” kata mpu arum usai menyelesaikan sepasang keris Bhuto Makoro pada Minggu Wage, (16 Agustus 2020).

Kembali pada proses Pendadaran.

Singkatnya, dari pendadaran yang dikerjakan seorang diri itu, terciptalah sepasang keris berdhapur bhuto makoro dengan durasi penggarapan sekitar dua bulan lamanya.

Keris Bhuto Makoro yang tercipta dari tangan seni Mpu. Arum tidak ubahnya memiliki ricikan sama dengan dhapur Bhuto Makoro yang lain. Hanya saja sepasang pusaka khas Bondowoso ini, memiliki cri khas dengan ujung bilah ber luk 3 atau dhamar murup, sedang bilah satunya lurus. Di bawah ukiran makoro ada pahatan visualisasi bunga dan daun kopi yang juga menjadi ikon kota dingin ini dengan jargon Bondowoso Republik Kopi (BRK).

Ukiran bhuto makoro pada gandik

Selain itu, pada bagian pesi juga dibubuhkan sayatan mirip lingga yang menjadi ciri identitas dari mpu. Arum.

Keris Bhuto Makoro Lurus

Dengan terciptanya sepasang keris Dhapur Bhuto Makoro dan Bhuto Makoro Damar Murup ini, diharapkan dapat menjadi tolak ukur masyarakat utamanya generasi bangsa bahwa, melestarikan tinggalan luhur bangsa bisa dengan memperbaharui tanpa membuang kaidah, pakem maupun filosofi yang sudah ada.

Keris Bhuto Makoro Dhamar Murup di bagian ujungnya terdapat luk3

Kita bisa memperbaharui dengan upaya mencipta tanpa harus mencari aslinya ke dasar bumi sehingga berakibat labilnya frekuwensi dan kerusakan alam.

Nah mungkin sedikit ulasan ini, dapat bermanfaat bagi kita semua dan pasti akan kami sambung pada tulisan selanjutnya. Salam Lestari Sejarah Budaya Bangsa, Rahayu. (dats).

Tinggalkan Balasan